WHEN TIME IS BORED

 WHEN TIME IS BORED

Karya : Ahmad Tetsuya






 

“Maaf ibu sepertinya aku tidak bisa pulang ke rumah kali ini…”

“Hei apa yang kau….”

“Noelle bertahanlah, Noelle…”

“Jangan melihatku dengan wajah seperti itu… air mata tidak pernah cocok denganmu”

Air mata terjatuh dan menetes ke pipi putih nan lembut yang ada di dalam pelukanku, kala api membakar habis pertokoan, rumah-rumah dan menghanguskan orang-orang. Langit malam tidak lagi gulita dikarenakannya, melainkan merah kekuningan menyala. Suara tangis bayi terdengar jelas menjerit sendiri di jalan raya, anak-anak menangis kehilangan orang tua dan di dalam pelukanku ku rangkul ia. Sampai… suara gemuruh datang mendekat hingga membuat bumi yang dipijak bergetar hebat dan…

.

.

.

.

“…Klik…”

 

Aku melompat terbangun dari mimpi sesaat.

Nafas keluar masuk dengan cepat membuat darah mengalir begitu hebat di dalam tubuh memaksa keringat membanjiri badan mulai dari kepala sampai ujung kaki. Kulihat sekeliling dan sadar bahwa aku hanyalah bermimpi. Mimpi yang bahkan terasa begitu nyata seolah aku baru saja kembali dari suatu tempat yang maya. Mungkin inilah yang orang-orang katakan dengan mimpi di kala pagi. Ia terasa begitu asli karena kesadaran tubuh yang hampir kembali dari persemayamannya. 

Aku kembali menghela nafas dan menariknya dalam-dalam, masih melihat kamar yang berantakan dengan pakaian kotor yang berserakan di lantai kayu yang berdecit ketika kaki menginjaknya. Aku menghampiri jendela dan segera membukanya dengan begitu udara segar dari arunika yang lembut langsung memberikan ciuman hangatnya. Di hamparan mataku terlihat pemandangan ladang gandum yang telah menguning yang ada di seberang rumahku ini. Dengan kincir angin yang digunakan untuk membantu warga desa menggiling gandum mereka menjadi tepung nantinya. Lalu walau terlihat jauh masih nampak megah pegunungan utara yang berdiri menantang langit dan seringkali melindungi desa kami ini dari ganasnya udara yang ada di seberangnya. 

“Ixion? Jika kau sudah bangun tolong bantu ibu mempersiapkan sabit untuk panen nanti.”

“Iya, aku akan turun Bu.”

Ketika aku turun dari lantai dua dan menemui perempuan paruh baya yang walau sudah kepala empat namun fisiknya masihlah membuat orang-orang seusianya iri karena kecantikan dan semangatnya. Perempuan itu adalah ibuku, Roxane dan sepertinya si Ibu sedang memasak sup jamur dengan kentang manis tumbuk. Hidangan sederhana namun itu cukup untuk mengisi perut sampai siang nanti, yang di mana akan sedikit berat karena kami akan memanen gandum kami yang telah siap itu. Dengan aku yang sedang mengasah sabit dengan batu asah serta bau sup yang dibuat oleh sang Ibu sungguhlah menggoda nafsu makanku. 

“Nah, kini sudah siap. Ayo makan dulu sebelum kita bekerja untuk hari ini.”

Aku mengangguk dan pindah untuk duduk di kursi yang ada di meja makan yang hanya muat untuk tiga orang ini. Di atas meja sudah ada roti kemarin walau terasa agak keras itu lebih baik daripada makan roti berjamur yang ku beli beberapa hari lalu. Keluarga kami memang hidup dalam kesederhanaan dan dengan bertani dan menjualnya ke kota kami bisa mendapatkan beberapa koin perak untuk bertahan menjalani hari-hari. 

“Ixion sebelum kita makan maukah kau memanjatkan doa untuk sang dewi Aion? Jangan pernah lupakan berkah yang ia berikan pada kita, kau tau.”

“Iya kurasa hari ini adalah giliranku ya.”

Aku menutup mata dan mulai mengepalkan kedua tanganku menjadi satu dan mulai memanjatkan rasa syukur pada sang dewi Aion. Sang dewi itu telah dipuja oleh ras manusia setelah Holy War yang terjadi 257 tahun yang lalu di dataran Pandora ini. Aion bukanlah satu-satunya dewi yang ada dan disembah di Pandora, melainkan ada beberapa dewi lagi dengan pengikut dari ras yang berbeda-beda pula. 

Setelah memanjatkan rasa syukur aku dan ibuku mulai menyantap makanan yang ada bersama kami hari ini, pagi ini dengan perbincangan yang mengarah ke hal yang tidak terlalu aku sukai, bukan soal keuangan, ataupun hasil panen yang kemungkinan tidak begitu banyak dari hasil panen terakhir kali, melainkan perbincangan mengenai acara penerimaan Blessing/Gift yang akan dilaksanakan tulat di kuil dewi Aion di desa Viculus tempat tinggal ku ini. Aku bukannya tidak suka acaranya hanya saja aku tidak terlalu suka konsep takdir yang ditentukan oleh pemberian acak dari sang dewi, itu terasa tidak adil sama sekali. Walau begitu aku yang bukan siapa-siapa ini tidak bisa menolak ataupun membatalkan prosesi tersebut karena ia berkaitan langsung dengan sang dewi dan pendewasaan. 

Begitu menyelesaikan sarapan, aku dan ibuku bergegas untuk langsung ke ladang agar tidak memulai kegiatan saat matahari telah duduk di posisi zenitnya. Tiba di ladang kami berpapasan dengan penduduk desa yang juga ikut membantu kami memanen gandum ataupun mereka yang sedang memanen di ladang mereka sendiri. Di tengah-tengah pekerjaan menyabit gandum ini, pikiran ku masihlah penasaran dengan blessing apa yang akan aku dapatkan, apakah ia akan menjadi anugerah yang akan mengeluarkan kami dari hidup yang mengekang ini atau malah sebaliknya. Sesekali aku melirik ke arah ibuku dan aku sadar tidak lama lagi aku akan meninggalkan ia sendirian karena ketika seorang anak telah mendapatkan blessing mereka haruslah pergi ke ibukota Kekaisaran Central lebih tepatnya untuk menghadiri Akademi Stellar untuk mengasah dan diberi pengetahuan dasar akan blessing yang telah mereka terima. Setelah itu nasib yang menentukan langkah berikutnya jika mereka dapat memanfaatkan blessing tersebut dengan baik maka mereka akan mendapatkan pekerjaan yang bagus dengan koneksi yang telah dibangun selama 4 tahun di sana. 

Tetapi bagi anak seorang petani dari desa terpencil di pinggiran kota dan dari pinggiran wilayah Central sepertiku ini sangatlah mustahil bisa mendapatkan blessing yang bagus yang bisa merubah nasib kami ini. Aku tahu kalau diriku ini sangat plin-plan dan tidak dapat berpikir positif, namun hal seperti ini kadang membebani dan menghantui ku. Seakan rasa tanggung jawab telah siap dan diletakkan di atas pundak ini. 

Tidak terasa kala berlalu dengan begitu cepat, surya kini telah turun melambai santai di ufuk cakrawala meninggalkan cahaya lembayung yang terlukis di waktu senja. Aku dan ibuku telah selesai memanen semua gandum yang ada di ladang kami, begitu pula kami telah menyelesaikan proses penggilingannya sehingga kami mendapatkan kurang lebih sekitar 50 karung tepung gandum. Kami berencana untuk menjual sekitar 20 karung ke kota besok pagi beserta beberapa karung sayuran seperti kentang, wortel, dan bayam yang sengaja kutanam di halaman belakang rumah agar menambah penghasilan kami. Dengan begitu kami beristirahat di dalam kamar masing-masing untuk mengistirahatkan tubuh yang telah bersusah payah sehari penuh. Namun sebelum tidur, aku terbiasa membaca sebuah buku tua peninggalan dari ayahku yang ia beli dengan hasil berhutang ketika sewaktu aku kecil dulu. Buku itu hanyalah sebuah buku yang menceritakan cerita epik seorang manusia yang mengakhiri perang para dewi saat Holy War 257 tahun yang lalu. 

Cerita itu terasa begitu epik tentang bagaimana manusia yang rapuh itu berhasil mengakhiri sebuah perang yang terjadi begitu lama bahkan lebih lama dari bangsa elf itu sendiri. Sang pahlawan dalam cerita melakukannya bukan dengan mengangkat pedang dan mengarahkannya kepada para makhluk absolut itu, melainkan dengan pena dan sebuah perjanjian yang sakral yang tidak bisa dilanggar bahkan oleh para dewi. Sampai sekarang tidak ada seorangpun yang tahu isi dari perjanjian tersebut selain sang pahlawan dan para dewi itu sendiri sehingga meninggalkan misteri dunia yang tak pernah terpecahkan hingga hari ini. 

“Cerita ini tak pernah membuatku merasa bosan. Terlebih diakhiri sang pahlawan diangkat menjadi constelation (konstelasi) pertama yang pernah ada. Hehe, apakah aku juga bisa menjadi seorang konstelasi ketika blessing ku sudah ku dapatkan nantinya?… Hehe sepertinya tidak mungkin.”

Dengan rasa malu aku menyingkirkan lamunan ku yang tampak tidak mungkin itu dan segera bergegas untuk merebahkan diri di tempat tidur dan dengan meniup lentera di atas meja kecil di sebelah tepat tidur, kamar ini berubah menjadi gelap dengan cahaya redup dari rembulan dan gemintang masuk melalui jendela kamar. Perlahan namun pasti rasa kantuk mulai menguasai diri dan sesekali membuatku menguap untuk menarik lebih banyak oksigen agar otak bisa lebih rileks sehingga kelopak mata menjadi lebih berat hingga akhirnya alam mimpi menerima diri. 

Sekali lagi aku memimpikan hal yang sama sehingga membangunkan ku dari tidur. Perasaan ini mirip dengan yang aku rasakan kemarin, ia terasa nyata namun bedanya aku tidak bisa terlalu mengingat mimpi itu sejelas sebelumnya. Sinar mentari pagi sudah terlalu sibuk berdesakan masuk ke dalam kamar hingga tidak memberikan waktu bagiku meresapi dan mencoba memahami apa yang terjadi. Walau begitu aku mencoba untuk tidak terlalu memikirkannya karena hari ini aku dan ibuku harus pergi kota untuk menjual hasil panen kemarin. Seperti itulah seharusnya namun aku menyadari kalau ibuku saat ini sedang dalam kondisi yang tidak sehat. Mungkin ia terlalu kelelahan kemarin sehingga membutuhkan waktu istirahat yang lebih untuk hari ini.

“Maaf ya Ixion, Ibu tidak bisa ikut dengan mu hari ini.”

Suaranya terdengar begitu rapuh dan tak berdaya, namun tampak dari sorot matanya ia mencoba untuk menutupi itu semua, membuat dirinya tampak tegar di hadapan satu-satunya putra nya. 

“Ibu sepertinya aku tidak bisa meninggalkanmu seperti ini…”

“Tidak apa-apa. Jangan terlalu khawatir. Ibu hanya demam jadi ibu masih bisa ditinggal sendiri. Mungkin setelah tidur sebentar keadaan ibu akan menjadi membaik.”

Aku tahu kalau ia sedang berusaha untuk menghiburku agar tidak lagi khawatir, walau begitu meninggalkannya ke kota dalam kurun waktu 3 hari perjalanan masihlah mengkhawatirkan. Seakan bisa membaca isi hatiku ia tersenyum hangat, lembut pada ku dengan lengan yang gemetar kecil menarik tubuhku ke dalam dekapannya.

“Jangan khawatir, ibu akan meminta Hera, teman perempuan mu yang cantik itu untuk datang menemani ibu di sini. Mungkin kami akan mendiskusikan beberapa hal juga hehe. Jadi janganlah khawatir, ya?”

“Baiklah, kalau ada Hera yang menemani ibu, aku akan tenang. Kalau begitu aku akan segera berangkat setelah mempersiapkan perbekalan.”

“Ya, berhati-hatilah di jalan, semoga sang dewi memberikan keselamatan untuk mu”.

Setelah mempersiapkan bekal untuk di perjalanan, serta mengecek keadaan kuda dan kereta kayu yang telah ku isi dengan pasokan untuk dijual nantinya akhirnya aku siap untuk berangkat. Dengan wajahnya yang masih pucat ibuku masih menyempatkan dirinya untuk mengantar kepergian ku. Ini memang bukanlah yang pertama kalinya aku meninggalkannya sendiri seperti ini, namun perasaan yang bergejolak di dalam hatiku terus berteriak seakan ini adalah momen terakhir kami bertemu. Kuharap tidak begitu.

Aku melambaikan tangan seiring dengan kereta kuda yang bergerak perlahan membuat sosoknya yang berdiri tegak di tepi jalan kini tidak lagi terlihat. Kubuang semua rasa khawatir dan pikiran negatif yang sedari tadi memenuhi pikiranku dan mencoba untuk fokus pada pertualangan yang ada dihadapanku saat ini. Perjalanan dari desa Viculus menuju kota terdekat yaitu kota Rot membutuhkan waktu satu hari perjalanan dengan kereta kuda, lalu dilanjutkan satu harian penuh untuk menjual semua stok daganganku kepada para pedagang yang ada di pasar, dan akhirnya satu hari lagi menempuh perjalanan pulang. 

Sungguh perjalanan yang panjang dan aku tidak bisa memaksakan kudaku untuk bergerak lebih cepat dengan barang bawaan yang banyak ini, sehingga nantinya pada saat malam aku juga berencana untuk berkemah dan membiarkan kudaku tersebut beristirahat sebelum melanjutkan perjalanan di keesokan harinya. 

Semua rencana itu aku gambarkan di dalam pikiranku selama dalam perjalanan untuk menghabiskan waktu. Walau begitu bumi Pandora yang begitu damai ini sungguh suatu anugerah yang tidak bisa kuungkapan dengan kata-kata. Dengan langit biru yang cerah, awan putih yang bertebaran di bawahnya dan pasak-pasak gunung yang menopang dirinya untuk berdiri megah serta para petualang yang kutemui selama perjalanan. Terkadang aku memberikan tumpangan pada mereka untuk ke desa yang masihlah satu arah dengan tujuanku dengan imbalan mereka dapat melindungi kereta ini dari para bandit yang bisa datang untuk menjarah. 

Dari mereka aku mendengar berbagai cerita dan kabar yang terjadi baik dari kerajaan nan jauh ataupun peristiwa besar yang terjadi. Satu peristiwa yang membuatku tertarik itu adalah kabar mengenai salah satu Putri dari kerajaan tepi danau yang diculik oleh seorang petualang berambut putih. Sungguh peristiwa yang besar sekali untukku, karena warga di desa ku cukup mengidolakan Putri tersebut setelah ia datang bersama utusan dari kekaisaran Central ke desa kami memberikan bantuan. Para anak-anak mengagumi kecantikannya hingga hari ini, namun mendengar kabar kalau sang putri diculik oleh seorang petualang berambut putih itu mungkin bisa membuat para anak-anak yang mengidolakannya itu menjadi sedih. Aku bahkan bisa membayangkan wajah mereka saat ini. 

Di saat mentari lelah menemani perjalananku ini akhirnya ia terlelap dan bertukar tempat dengan purnama yang benderang menyinari gelitanya malam. Meski begitu aku masih belum sampai di kota Rot, kemungkinan akan sampai esok pagi sebelum tengah hari. Jadi aku memutuskan untuk mendirikan kemah dan beristirahat di bawah pohon besar yang berdiri menjulang sekitar 100 meter yang dikenal sebagai pohon Riese. Pohon ini sangat terkenal oleh para pedagang sebagai safe point dikarenakan pohon tersebut mampu menghalau semua hewan sihir yang aktif di malam hari. Tentunya di tempat ini yang ramai oleh para pedagang lain aku bisa merasa aman dari ancaman para bandit.

Begitu menemukan tempat yang cocok aku segera membiarkan kudaku untuk beristirahat dan membiarkannya tertidur, begitu pula aku yang telah lelah seharian akhirnya memutuskan untuk ikut terlelap dan menyerahkan diriku ke alam mimpi. 

“Ixion?…”

Sebuah suara menggema dan terdengar jelas di telinga ku.

“Ixion aku akan menunggu mu…”

Kembali suara itu memanggil namaku namun aku tidak tahu dia.

“Tak apa Ixion, seperti biasa aku akan menunggu dan menceritakan semuanya…”

Samar sosoknya dapat kulihat, kurasakan, dan perasaan rindu yang datang entah dari mana memaksa masuk memenuhi hatiku. Tangannya yang lembut dan hangat mencoba meraih namun aku tidak bisa menggapainya, dan wajahnya tidaklah jelas seakan terdistorsi hingga ia terjatuh ke dalam jurang tanpa dasar karena aku. 

Aku terbangun dari tidurku namun kali ini dengan air mata yang mengucur deras dan perasaan sakit yang menusuk hati. Aku tidak tahu apa maksudnya ini? Siapa dirinya? Dan apa maksud dari semua mimpi ini?

Ketika aku keluar dari kemah, cahaya matahari sudah menampakkan dirinya begitu bulat. Aku sadar kalau aku tidak berangkat sekarang maka aku akan sampai di kota pada siang hari. Untuk menghindari hal itu aku bergegas dan pergi dari Riese dan meminta untuk kudaku berusaha sedikit lebih banyak agar bisa sampai tepat sesuai dengan keinginanku. Beruntungnya aku berhasil masuk dan melewati gerbang sebelum matahari tepat di tengah. Kubawa kuda beserta barang daganganku ke daerah pasar dan menjualnya kebeberapa toko yang memang sudah menjadi langganan kami. Dengan begitu tujuanku telah selesai dengan beberapa koin perak yang sudah ada di tangan namun karena mereka kekurangan koin untuk ditukarkan jadi mereka memintaku untuk kembali lagi esok pagi agar bisa mengambil sisa pembayaran dari hasil penjualan daganganku.

Karena aku tadi pergi dengan terburu-buru maka untuk mengisi perut yang lapar ini aku memutuskan pergi ke salah satu bar yang terkenal dengan menu makan siang mereka demi mengganjal perut dari rasa lapar yang mengikat. Di dalam terlihat orang-orang sedang menikmati waktu mereka, mulai dari para petualang yang baru pulang setelah menyelesaikan quest yang mereka terima, atau para pelancong yang singgah untuk mencari hidangan sama seperti keadaan ku saat ini. 

Satu hal yang membuat mataku tak bisa lepas ketika memasuki bar tersebut adalah salah seorang pelayan mereka yang cantik nan mempesona. Mulai dari rambut pirang keemasan panjang yang sengaja diikat dengan gaya ponytail, kulit wajah yang tampak halus dan lembut, bulu mata yang lentik, serta mata sebiru lautan purnama. Pandangan kami bertemu dan mendadak perasaan yang sama menyerangku tadi pagi kembali memaksa masuk. Sebuah perasaan nostalgia bertemu dengannya padahal ini adalah kali pertama kami berjumpa.

Ia juga sama, tertegun dirinya melihat aku yang berdiri membeku, bisu dengan tak sepatah kata keluar dari mulut yang kering dan bibir yang berubah menjadi gurun dadakan. Salah seorang pelayan yang juga bekerja di sana mungkin menyadari kami yang berdiri diam saling curi pandang untuk waktu yang lama sehingga ia harus mengambil alih situasi.

“Ehem, tuan muda apakah anda ingin memesan makan untuk sendiri hari ini?”

Aku yang baru saja terlepas dari situasi tersebut hanya bisa mengangguk cepat untuk merespon pertanyaan yang ia tanyakan. Sehingga pelayan tersebut mengantarkan ke sebuah meja yang kosong meninggalkan pelayan pirang itu kembali untuk melaksanakan tugasnya. Pada saat aku sedang makan pelayan berambut pirang tersebut berjalan datang menghampiri meja tempatku berada dan dengan cepat ia duduk di seberangku dengan senyuman samar dan penuh pertanyaan.

“Maaf sebelumnya, apa kita pernah bertemu? Karena aku merasa kita sudah pernah bertemu entah di mana.”

Sedikit terkejut dengan apa yang ia sampaikan membuat diriku melupakan makanan yang ada di hadapanku. 

“Aku juga… aku juga merasa sama. Seolah kita pernah bertemu entah di mana dan seakan kita saling kenal.”

“Iya kan? Hehe. Mungkin apakah ini yang orang-orang katakan sebagai takdir?”

Tawa kecil yang keluar darinya terasa merindukan walau aku tidak tahu kenapa. Kalaupun yang ia katakan itu benar, maka…

“Apa kau percaya dengan takdir… Noelle?”

Saat kulihat wajahnya sekali lagi, mulutnya terbuka dan matanya menatap lekat tak percaya padaku. Mungkinkah aku melakukan kesalahan?

“Bagaimana kau tau namaku?”

“…”

Darimana nama itu datang? Aku juga tidak tahu. Tidak ada jawaban yang bisa kuberikan untuknya, walaupun itu adalah penjelasan singkat ataupun sebuah kebohongan manis yang bisa terucap.

“Maaf, tapi aku juga tidak tau darimana nama itu datang. Sekali lagi aku mohon maaf jika aku salah ucap…”

“Tidak. Tidak apa-apa”.

Bukan sebuah wajah yang takut, ataupun wajah yang penuh curiga yang kudapat darinya melainkan sebuah wajah dengan senyum dan tetes air mata penuh kebahagiaan. Di hadapanku kini ia berusaha melawan air matanya dengan menghapusnya pada pergelangan bajunya.

“Maaf ya, aku bukan sedih. Hanya saja aku tidak tahu kenapa aku merasa sangat bahagia hingga aku menangis seperti ini. Jadi biarkanlah kita sekali lagi mengulang perkenalan ini. Aku Noelle.”

Aku tidak tahu bagaimana ekspresiku saat ini, begitu banyak yang tercampur mungkin ini adalah perasaan bahagia yang murni datang entah darimana namun aku menerimanya dengan hangat.

“Senang bertemu dengan mu Noelle, perkenalkan namaku Ixion.”

“Iya, senang bertemu denganmu Ixion.”

Setelah itu kami menghabiskan masa untuk membicarakan banyak hal, mulai hal receh sampai segala hal yang mungkin jauh untuk digapai bagi kami. Walau begitu perbincangan kami tidak pernah membosankan bahkan bisa membuat hati menjadi nyaman. Tentunya karena Noelle dalam waktu bekerja, jadi ia tidak bisa meninggalkan tugasnya begitu saja sehingga kami membuat janji untuk bertemu kembali setelah jadwal kerjanya selesai yaitu pada pukul 7 malam di alun-alun kota Rot.

“Ixion, kau harus datang sebelum bel berbunyi ya, jika kau terlambat maka kau harus mentraktirku makan malam.”

“Baiklah aku berjanji untuk datang tepat waktu.”

Dengan begitu kami berpisah untuk sementara waktu dan dikarenakan aku masih belum bisa meninggalkan kota Rot sampai esok pagi, nampaknya aku haruslah menyewa sebuah kamar penginapan murah untuk semalam. Biaya kamarnya memang sebanding dengan kualitas yang bisa didapat namun itu cukup untukku beristirahat sebentar sebelum kembali untuk memenuhi janji dengan Noelle nanti. Jadi aku memutuskan untuk tidur singkat karena setelah makan siang tadi mataku ini langsung terasa berat, jadi tak apalah.

Ketika mata terbuka, tubuhku meregang dengan lengan yang mencoba menyegarkan diri di atas kepala dengan sinar lembut dari cahaya pagi… Tunggu! Pagi?

Aku melihat sekeliling dan menyadari kalau aku kembali ke Safe Point, pohon raksasa yang menjulang tinggi ke angkasa ini lagi, kenapa aku ada kembali ke Riese. Bagaimana bisa? Padahal sebelum tidur aku ingat betul kalau kala sudah swastamita dan aku sudah berjanji dengan Noelle di kota. 

“Bagaimana bisa?…”

Pertanyaan yang sama terus berputar di dalam kepalaku, ada yang salah aku tahu itu, tetapi bagaimana dan mengapa ? Aku keluar dari kemahku untuk menenangkan diri dan mencoba berpikir secara rasional. Kaki ini tidak ingin diam di suatu tempat jadi ia mengajak tubuh untuk berjalan berputar mengelilingi kereta kudaku. Sesekali aku melirik ke arah pohon yang menjulang tinggi tersebut dan mencoba untuk mencubit pipi sendiri karena aku masih menganggap kalau ini adalah mimpi yang terasa sangat nyata. Namun kenyataannya aku salah. Ini adalah realita, dunia yang sama seperti sebelumnya. 

“Apa mungkin aku mengulangi hari sebelumnya?”

Ide itu terdengar tidak masuk akal bahkan untuk seorang petani sepertiku, namun mencoba mencari tahu hal itu dengan mengecek barang daganganku di dalam kereta kuda dan benar semuanya masih utuh di sana seperti saat aku belum menjualnya di pasar. Dan untuk membenarkan teoriku ini aku memutuskan untuk kembali ke kota Rot.

Disepanjang perjalanan aku kembali melihat hal yang sama seperti sebelumnya, orang yang sama di tempat yang sama bahkan di waktu yang sama. Seperti halnya saat aku memasuki gerbang kota aku melihat pasukan prajurit berbaris rapi dan berjalan keluar dari kota, kemudian hal yang sama seperti seorang pria gemuk dengan kereta kuda yang besar dan tampak mewah sedang ditahan oleh para penjaga gerbang kota dan sang pria gemuk itu melakukan hal yang sama, yaitu meludahi si penjaga dan dengan sombong mengatakan kalau ia mempunyai hal penting untuk diberitahukan kepada penguasa kota.

Melihat hal yang sama untuk kedua kalinya memang sangat terasa aneh dan aku tidak terbiasa dengannya. Untuk diriku sendiri aku melakukan hal yang persis sama seperti sebelumnya mulai dari menjual barang daganganku ke pasar dan ketika membayar mereka tetap memintaku untuk datang lagi esok pagi karena mereka tidak mempunyai koin yang bisa ditukarkan. Tetapi kali ini setelah langsung dari pasar aku langsung pergi ke bar untuk bertemu dengan Noelle. 

Ketika aku masuk ke dalam bar, aku tidak langsung bertemu dengannya seperti sebelumnya. Jadi aku memutuskan untuk masuk dan duduk di sebuah meja kosong. Mataku sedari tadi mencari sosok perempuan berambut pirang itu diantara para pelayan yang hilir mudik mengantarkan makanan, menulis catatan, sampai pelayan yang sedang sibuk di dalam dapur. Namun penantianku tidaklah berlangsung lama karena sekali lagi aku dapat melihatnya dengan senyum yang persis sama seperti sebelumnya, manis dan menawarkan kehangatan. 

“Permisi saya ingin memesan” kataku sambil mengangkat tangan hingga ia sadar dan langsung bergegas menghampiri mejaku.

“Jadi tuan ingin pesan apa….”

Aku melihatnya terdiam mendadak layaknya sewaktu kami pertama kali bertemu. Apakah itu artinya ia mengingat pertemuan terakhir kami? Dan jika aku pikirkan responnya ini sangatlah masuk akal. 

“Maaf sebelumnya, tapi apakah kita pernah bertemu? Aku tahu ini terdengar tidak masuk akal tetapi aku merasa kita seperti sudah bertemu sebelumnya.”

Aku ingin mengatakan iya padanya tetapi aku mencoba menahan diri dan berpikir untuk mengikuti alur seperti yang sebelumnya. Dengan senyuman hangat aku menjawabnya dengan respon yang sama.

“Aku juga… aku juga merasa sama. Seolah kita pernah bertemu entah di mana dan seakan kita saling kenal.”

“Iyakan hehe, sungguh aneh sekali kupikir pertemuan kita ini adalah sebuah takdir.”

“Takdir ya? Kupikir juga begitu. Ngomong-ngomong perkenalkan aku Ixion.”

“Aku Noelle, senang bisa berkenalan dengan mu Ixion.”

Sekali lagi kami berkenalan dan dengan cepat bisa akrab seperti sahabat karib walau dengan percakapan singkat ini. Diakhir kami kembali membuat janji untuk bertemu di alun-alun kota Rot pada pukul 7 malam. Berbeda dari sebelumnya kali ini aku mencoba untuk menunggunya menyelesaikan jadwal kerjanya tidak dengan tidur di penginapan, melainkan untuk langsung pergi ke alun-alun kota Rot. Di sana aku berpikir keras kira-kira apa yang menyebabkan aku dapat mengulang waktu ini. Aku kepikiran beberapa teori seperti mungkin saja ini adalah perbuatan dari orang lain, atau saja mungkin terpicu saat aku tertidur. Kemungkinan-kemungkinan yang lain mulai terdengar tidak masuk akal dan walau begitu terdengar sangat mungkin untuk terjadi juga.

 Memikirkan semua probabilitas itu membuatku lelah sendiri. Aku menghela nafas panjang saat aku duduk di salah satu bangku ini sendirian. Namun hari ini benar-benar sangat cerah, saat aku menoleh ke kanan aku melihat anak-anak yang sedang bermain ria bersama teman mereka dan sepertinya mereka saat ini sedang bermain meniru salah satu konstelasi dari dewi Aion yang sangat terkenal karena kemampuan berpedangnya hingga ia dijuluki sebagai yang tak terkalahkan.

Begitu aku melirik ke kiri aku melihat pasangan muda-mudi yang tengah bermesraan di mana mereka sepertinya sedang berkencan saat ini. Tunggu, kencan? Apakah pertemuanku dengan Noelle nantinya bisa dikatakan sebagai sebuah kencan juga? Memikirkan hal tersebut saja sudah membuatku menjadi merah padam, soalnya aku yang orang desa ini tidak pernah pergi atau melakukan hal-hal seperti kencan ini. Jadi untuk menghabiskan waktu aku memutuskan untuk pergi keliling alun-alun meninjau tempat-tempat yang sekiranya bagus untuk kencan ku nantinya. Dengan semangat penuh aku mulai menjalankan rencanaku tersebut. 

Tak terasa bahwa bestari telah meninggalkan singgahsananya membiarkan lunar untuk mengisi angkasa tak bertepi di langit malam dengan para gemintang yang diam menonton semua manusia yang ada di alun-alun kota yang terang benderang dari sinar batu kristal yang dialiri oleh sirkuit sihir di berbagai tempat. Disisi lain aku duduk disebuah bangku setelah mempersiapkan semua hal dengan matang untuk bisa bertemu dengan Noelle sesuai dengan janji kami tadi siang. Entah kenapa kalau jantungku berdetak dengan kencang yang padahal kami hanya berjanji untuk bertemu dan berkemungkinan hanya akan berbagi cerita saja di malam ini.

“Maaf telah menunggu Ixion”

Suara lembut dari Noelle membuatku refleks melihat ke arah ia datang, dan yang kutemukan adalah seorang gadis yang mempesona dengan rambut pirang keemasan miliknya bersinar dengan indurasmi yang jatuh pada wajah merah muda merona. Semesta seakan telah menunjuk dirinya sebagai aktris untuk malam ini dalam memainkan drama yang tampak sederhana namun penuh arti. 

“Noelle kamu tampak cantik sekali, apa kamu berdandan sebelum kemari?”

“Eh? Apakah sejelas itu?” Pipinya sedikit memerah dan ia mulai berusaha menyembunyikan wajah jelita nya dari mata yang sedari tadi tak pernah lepas menatap keindahan tersebut. “Aku singgah sebentar ke rumah setelah pulang dari bar dan mungkin aku berpikir kalau tidak sopan bagiku bertemu denganmu dengan bau keringat setelah kerja, jadi begitu. Apakah menurutmu aku jadi tampak aneh Ixion?”

“Aneh? Tentu saja tidak Noelle, malahan sekarang aku yang merasa kurang persiapan hehe.”

“Tidak kok, kamu sudah tampan bagiku.”

Sengatan listrik seakan datang mendadak yang membuat wajahku sedikit panas dan jantungku semakin berisik sekarang kuharap dia tidak menyadarinya. Tetapi melihat dari reaksinya ia sepertinya tahu kalau saat ini aku bisa saja mati kapan saja karena rasa malu ini dan karena itu pula Noelle mengambil kesempatan untuk beberapa kali menggodaku. Tentu saja aku mencoba melakukan hal yang sama namun ia selalu bisa bertahan dan bahkan menyerang dengan sangat efektif, membuatku menjadi semakin sulit menutupi rasa malu ini.

Walau begitu kami menghabiskan waktu bersama dengan membicarakan hal-hal sepele ataupun serius, atau mencoba beberapa makanan dari kedai yang ada dekat di alun-alun. Semua itu kami lakukan bersama, berdua tanpa sadar kalau menara jam telah berdentang dan menunjukkan waktu tengah malam.

“Tidak terasa waktu berlalu begitu cepat ya Ixion?”

“Ya. Padahal aku ingin bersamamu untuk lebih lama lagi.”

“Hmm… apa segitu inginnya kau dengan ku Ixion? Hehe.”

Walau dengan perasaan malu ini aku memang tidak ingin menyangkalnya. Karena semakin lama waktu yang kuhabiskan dengannya semakin kuat perasaan asing yang ada di dalam hati ku ini. Di mataku saat ini Noelle adalah sesuatu yang kuanggap sebagai orang yang berharga bahkan dengan waktu yang singkat. Jadi aku telah memutuskan apa yang akan kulakukan untuk berikutnya. 

“Noelle…”

Gadis rupawan yang berjalan di depanku berhenti dan berpaling ke belakang untuk menatapku dengan senyuman termanis yang ia miliki.

“Ya Ixion?”

“Noelle, sebenarnya aku…”

Suaraku tercuri dan kalimatku tak utuh ketika aku melihat sebuah bilah tajam dari pedang menghujam dan menusuk badan dari Noelle yang tepat mengenai jantungnya.

“Noelle!!”

Aku berlari menghampirinya ketika si pelaku menendang tubuh yang tidak bernyawa itu agar bisa mencabut pedangnya dari sana. Dengan air mata yang membanjiri mata membuat penglihatanku sedikit kabur, aku mencoba untuk menutup lukanya dengan menekan luka tersebut namun darah tetap keluar dengan kencang. Aku bisa merasakan seluruh tubuhku ini gemetar hebat ketika berusaha untuk mencoba mendekap tubuh Noelle pada ku.

“Jangan biarkan ada yang selamat dari kota ini sebelum sang dewi memberikan blessingnya pada salah satu manusia disini.”

Aku mencoba untuk memahami apa yang mereka bicarakan, dan ketika aku yang sedari tadi menunduk ingin mencoba mendongak ke atas melihat siapa pelaku yang melakukan semua ini namun belum sempat melihat mendadak aku melihat dunia berputar dan jungkir balik. Aku bahkan melihat tubuhku sendiri tanpa sebab. Oh bukan begitu, melainkan aku telah mati.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Mata terbuka dan kali ini tubuhku berkeringat hebat. Aku telah mati jadi kenapa aku masih hidup? Dengan sedikit linglung aku melirik ke kiri dan ke kanan dan sepertinya aku telah menemukan untuk pertanyaan sebelumnya. Aku keluar dari kemah kecil yang kupasang dan menemukan mentari pagi menyambut dengan siluet pohon Riese yang menjulang tinggi menembus langit biru. Aku sekali lagi memperhatikan sekelilingku dan dengan yakin aku menyimpulkan kalau aku tiba di pagi yang sama sebelum aku masuk ke kota Rot dan mungkin karena aku mati aku dapat sampai di sini pada putaran sebelumnya. Aku mencoba untuk berpikir tenang dan memahami semua keadaannya namun bayangan dari Noelle yang terbunuh dihadapanku membuatku menjadi tergesa-gesa. Aku khawatir dan tidak ingin ia bernasib sama sehingga aku memutuskan untuk menunda semua isi pikiranku dan dengan cepat mengemas kemahku ke dalam kereta kuda agar aku bisa segera pergi ke kota Rot.

Sesampainya di gerbang kota Rot aku sekali lagi melihat hal yang sama seperti pasukan prajurit yang berbaris rapi untuk keluar dari kota namun kali ini aku menyadari kalau berdasarkan jumlah pasukan yang pergi mereka sepertinya sedang melakukan persiapan untuk melakukan sebuah penyerangan. Ketika tiba giliran ku untuk dicek oleh penjaga gerbang aku bertanya pada salah satu dari mereka mengenai prajurit-prajurit tersebut.

“Apakah akan ada peperangan yang akan dilakukan di dekat sini?”

“Maaf, kami tidak bisa memberikan informasi ini kepada penduduk sipil demi menjaga kerahasiaan operasi ini.”

Apakah itu berhubungan dengan pembunuhan yang akan terjadi tengah malam ini? Aku tidak terlalu yakin karena tidak adanya bukti yang kuat yang mengarah ke sana. Untuk sekarang aku akan mencoba membawa Noelle untuk keluar dari sini sebelum tengah malam. Jadi aku memutuskan untuk menjual barang daganganku dengan secepat mungkin dan seperti dua putaran sebelumnya mereka kehabisan koin untuk ditukarkan kepadaku namun kali ini aku berusaha untuk tidak menetap disini hanya untuk mengambil koin tersebut karena itu sama saja dengan mati. Setelah pergi dari pasar aku pergi ke bar tempat Noelle bekerja namun mau seberapa lama aku menunggu dengan duduk di dalam bar aku tak kunjung dapat menemukannya, padahal ia telah datang di waktu seperti ini. Jadi aku mencoba untuk bertanya kepada salah satu pelayan disana.

“Noelle? Hari ini dia tidak bekerja karena sakit.”

Itu Aneh sekali, perubahan seperti ini tidak terjadi di dua putaran sebelumnya tetapi apa yang menjadi pemicunya? Aku sama sekali tidak mengerti jadi daripada merenungkan hal yang tidak pasti aku meminta alamat tempat tinggalnya agar bisa memastikannya sendiri.

Dari dua pengulangan yang telah aku alami ada satu hal penting yang aku perhatikan yaitu fakta kalau tidak ada seorangpun selain diriku yang mengingat apa yang terjadi di perulangan sebelumnya. Tetapi jika perubahan yang dialami dari Noelle berkaitan dengan hal tersebut maka mungkin saja ia adalah orang yang sama dengan ku, orang yang bisa mengingat peristiwa dari perulangan sebelumnya. Namun kendala aku temukan ketika aku berusaha untuk mencari tahu alamat tempat tinggal Noelle. Aku sudah bertanya pada para pelayan di bar namun mereka juga tidak terlalu tahu di mana alamat pasti dari Noelle. Mereka hanya tau kalau Noelle tinggal di distrik timur kota Rot. Namun setelah sampai disana aku tetap tidak bisa menemukan alamat rumahnya walau sudah seberapa banyak orang yang aku tanyai. 

Sialan, waktu yang kupunya semakin sedikit ketika matahari mulai tenggelam dan rasa panik kini mulai menjalar dari dalam diriku. Pikiran bagaimana jika kau tidak bisa menyelamatkannya lagi kali ini setelah diberikan kesempatan untuk kedua kalinya. Detik terus berganti menjadi menit, dan menit terus berganti menjadi jam. Rasa putus asa kini memelukku erat yang membuat kedua kaki ini tidak sanggup untuk berdiri, karena hal itu aku berusaha untuk mencari sesuatu agar bisa tetap berdiri namun semua sia-sia. Aku berlutut di tengah gang sempit dengan mata yang berkaca-kaca mempertanyakan semuanya apakah semua yang kulakukan adalah hal yang tidak berguna. Aku tidak bisa menyelamatkan dirinya walaupun ia sudah ada di depan mata.

“Di mana kau berada Noelle…”

“Kau memanggilku?”

Sontak kepala mendongak ke arah suara yang tidak asing, suara yang sudah aku rindukan. Dengan cepat kedua tangan menyambar dan langsung memeluk figurnya yang masih memasang wajah bingung.

“Hei, kenapa kau memelukku. Hei kau dengar tidak? Tolong lepaskan aku.”
Sadar kalau perbuatanku tidak sopan aku dengan cepat melepaskan tubuhnya dari pelukanku.

“Maaf kalau aku bertindak tidak sopan tadi, tapi aku ingin kau untuk ikut dengan ku sekarang karena kita tidak punya banyak waktu lagi.”

“Pergi? Kemana? Dan kenapa pula aku harus pergi dengan orang asing sepertimu.”

Jadi ia tidak mengingat soal perulangan sebelumnya? Jadi kenapa perilakunya berubah di perulangan ini? Aku masih belum tahu jawabannya tapi yang penting sekarang aku harus membawanya pergi keluar dari kota Rot sebelum tengah malam ini.

“Aku tahu kalau kau mungkin bingung soal ini, aku berjanji akan menjelaskannya nanti padamu tetapi yang penting kita harus pergi dari kota ini sebelum tengah malam kalau tidak kita berdua akan mati.”

Setelah aku mengatakan itu, Noelle menjadi bertambah bingung namun kali ini ia tampak mulai memikirkan ulang permintaan dariku ini. Matanya lekat menatap ke arah ku untuk beberapa saat, kedua alisnya terangkat dan keningnya berkerut hebat mungkin saja sedang terjadi perdebatan hebat di dalam kepalanya. 

“Hmm… baiklah aku akan ikut dengan mu dengan syarat kau harus janji untuk menjelaskan semuanya padaku.”

“Aku berjanji akan memberikanmu penjelasan.”

Setelah itu aku membawa Noelle ke kereta kuda ku dan langsung melaju dengan kecepatan penuh keluar dari gerbang kota. Tak jauh setelah kami meninggalkan kota Rot masih terdengar suara bel dari menara jam yang menandakan kalau waktu menunjukkan tengah malam. Kereta kuda kami berhenti karena menyaksikan langit merah menyala di atas kota Rot dan dengan samar terdengar suara jeritan dari orang-orang. 

“Hei apa yang terjadi di dalam kota Rot. Hei! Katakan sesuatu!”

“Aku tidak tahu apa yang terjadi, tetapi yang pasti hal buruk telah terjadi di dalam kota Rot dan jika kita tetap disana maka kita yang akan mati.”

“Darimana kau tahu kalau kita akan mati disana? Apakah kau ini cenayang atau semacamnya hah?”

“Itu karena aku… aku telah melewati hari ini sebelumnya.”

“Apa maksudmu itu? Aku sama sekali tidak mengerti.”

“Yang kumaksud itu aku telah mengulangi hari ini sebelumnya. Maka dari itu aku tahu apa saja yang akan terjadi di hari ini, seperti halnya kau yang seharusnya bekerja di bar hari ini dan di sanalah seharusnya kita bertemu hari ini, lalu setelah itu kita akan membuat janji untuk pergi bertemu kembali di alun-alun kota Rot berbincang-bincang sampai lupa waktu dan ketika tengah malam tiba dan bel di menara jam berdentang di sanalah kau akan mati ditusuk oleh seseorang dan kepalaku akan dipenggal. Itulah yang seharusnya terjadi hari ini, namun aku tidak ingin membiarkan itu terjadi makanya aku mengajak mu untuk pergi.”

Keheningan mengisi kehampaan diantara kami, wajahnya memperlihatkan keraguan dan ketidakpercayaan yang sangat besar padaku.

“Apa yang kau ocehkan itu, aku sama sekali tidak mengerti.”

“Ya… Maaf tapi hanya itu yang bisa aku beritahu padamu. Dan tiada kebohongan yang terucap dari mulutku. Jadi lebih baik kita memikirkan langkah berikutnya.”

“Jadi kau belum memikirkan semuanya ya? Kenapa aku harus terjebak bersama orang asing dan aneh ini di sini.”

Aku kembali meminta kudaku untuk menarik kereta kayu ini dan dengan segera kami perlahan meninggalkan kawasan kota Rot. Di tengah malam ini udara mulai menjadi cukup dingin tetapi mau tidak mau kami harus tetap melanjutkan perjalanan. Kabut tipis mulai menyelimuti tanah dan perlahan awan hitam berjalan pelan menutup rembulan. Walau kami saat ini sedang berjalan dalam kegelapan tetapi aku yakin kalau kami telah dekat dengan kawasan pohon besar Riese, sehingga kami bisa berhenti disana untuk beristirahat, itulah yang kupikirkan sebelumnya. Namun dari kejauhan kami mendengar suara gaduh dan benar saja telah terjadi pertempuran di dekat kawasan Riese. Kalau dilihat dari bendera yang mereka bawa sepertinya mereka adalah prajurit yang berasal dari kota Rot. Mereka berhadapan dengan segerombolan hewan sihir yang kini mengamuk tetapi tingkah laku mereka yang berkelompok seperti ini tidaklah lazim kecuali ada yang memberikan perintah pada mereka. 

“Hei apa yang harus kita lakukan sekarang?”

“Kita harus menjauhi pertempuran sebisa mungkin, jadi tolong pegangan yang erat.”

Aku memacu kudaku untuk keluar dari jalur tanah yang rata menyebabkan kereta kuda yang kami naiki berguncang hebat, walau kami sudah sebisa mungkin untuk menjauhi medan pertempuran tetapi tetap saja ada binatang sihir yang mengejar kami. Kudaku sudah sebisanya untuk melaju dengan cepat namun binatang sihir dengan wujud serigala bertanduk dua ini mulai bergerombol dan mulai mengepung dari segala sisi. Ketika salah satu dari mereka menggigit kaki kuda ku yang menyebabkan kuda tersebut mengerang dan akhirnya kereta yang kami naiki tergelincir jatuh yang melemparkan kami berdua dengan keras ke tanah.

“Noelle kau tidak apa-apa?”

Aku mencoba untuk berusaha bangun namun tubuhku terasa berat untuk digerakkan mungkin kedua kakiku telah patah. Namun keadaanku tidak sebanding dengan yang dialami Noelle yang kini sedang tidak sadarkan diri dan darah keluar dari kepalanya. 

“Noelle. Noelle, Noelle…”
Aku berteriak memanggil namanya sambil menyeret tubuhku dengan tanganku berusaha untuk berada di dekatnya saat segerombolan hewan sihir itu masih berputar mengelilingi kami. Salah satu dari binatang sihir itu mulai menggigit kakinya dan menyeretnya menjauh ketika aku hampir bisa mendekati tubuh Noelle. Satu persatu mereka datang dan mulai memakan tubuhnya yang tidak sadarkan diri itu. Gigi-gigi mulai mengoyak daging dan mereka mulai mengerang ketika menyantap dagingnya di hadapanku. 

“Noelle, tidak Noelle…”

Air mata tidak henti-hentinya keluar ketika aku berteriak menghabiskan seluruh paru-paru. Ketika mereka selesai menyantap tubuh dan seisi dari gadis malang itu, kini mereka mulai menggigit bahu, lengan serta kaki ku. Aku berusaha untuk melawan balik namun hanya dengan kedua tangan yang terluka dan kedua kaki yang patah aku tidak bisa memberikan perlawanan yang berarti. Dan di malam itu aku dengan jelas merasakan gigi-gigi mereka yang mencabik, mengoyak daging dari tubuh meninggalkanku dengan jeritan penuh penderitaan sampai aku, … aku mati.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Aku kembali terbangun di dalam kemah ini dan langsung berlari keluar sambil memuntahkan semua isi perutku. Tak sanggup tubuhku mengingat semua hal yang telah menimpaku di putaran sebelumnya. Selesai menyeka mulut yang berliur ini aku dengan segera mengemas kemah dan bergegas memacu kuda ku ini untuk menarik kereta kayu yang ku naiki dengan kecepatan penuh menuju kota Rot dengan target aku harus sampai ke kota sebelum siang hari.

Di tengah perjalanan aku kembali mengalami perubahan yang tidak terjadi di putaran sebelumnya yang di mana kereta kudaku dihadang oleh sekelompok bandit. Aku mencoba untuk memacu kudaku dengan cepat agar bisa melewati para bandit yang dari kejauhan telah memblokir jalan. Ketika mereka melihatku tidak punya niatan untuk berhenti, mereka kini mulai menghujani anak panah ke arah kereta ku yang sedang melaju kencang sampai salah satu anak panah berhasil menusuk lengan kiriku serta melukai kuda yang membawa kereta. 

Kereta yang aku naiki kini telah jungkir balik dengan semua barang dagangan yang ku bawa dari desa telah berceceran di tanah. Dengan merintih kesakitan aku melihat wajah-wajah mereka yang tertawa penuh kebahagiaan karena mungkin telah mendapatkan hasil rampokan yang lumayan banyak. Tanpa berlama-lama salah satu diantara para bandit itu mengeluarkan pedangnya dari sarungnya dan dengan satu ayunan keras ia menebas tepat di leher yang memutuskan kepalaku dari badan, dan sekali lagi aku mati. 

Setelah kehidupan yang singkat itu aku terus mengulang hari ini untuk beberapa kali dengan setiap putaran hasil yang kutemui selalu sama yaitu, kematian. Baik setelah aku bertemu dengan Noelle di dalam kota dan mencoba kabur ketika siang hari maka kami akan bertemu bandit, kalau kami mencoba kabur pada saat malam hari maka hewan sihir lah yang akan menyerang kami mau dari arah manapun kami kabur dari kota tersebut seakan-akan tidak ada jalan keluar bagi ku untuk keluar dari putaran hari yang terus menerus berulang ini. 

Sampai di suatu titik aku seperti terbiasa melihat Noelle mati di depan mata ku. Sekali lagi aku kembali terbangun di dalam kemah sialan ini. Entah sudah putaran yang keberapa ini sampai aku bahkan lupa pada hitungannya. Sekali lagi terjadi perubahan yang berbeda dari putaran sebelumnya yang di mana saat aku melangkah keluar dari kemah, langit yang biasanya cerah kini mendung bahkan telah sampai pada hujan gerimis. Saat ini di dalam hatiku sudah tidak peduli lagi dengan semua ini sehingga aku memutuskan untuk berkemas dan pergi bukan ke kota Rot tetapi kembali pulang ke rumah. 

Di sepanjang perjalanan hujan terus mengguyur tubuh walaupun begitu aku tidak ada niatan untuk berhenti dan terus melanjutkan perjalanan dengan keadaan setengah sadar. Mata lesu yang terus melihat ke bawah mendongak ke langit dan tanpa sadar hari telah malam dan cahaya rembulan bersinar terang saat kudaku telah berhenti tepat di depan rumah ku. Rumah itu tampak kosong dengan tiadanya cahaya ataupun suara dari dalam rumah. Aku turun dengan perlahan dari kereta kuda dengan langkah pelan tangan membuka pintu rumah. Hanya ada keheningan yang menyambut selain itu tidak ada apa-apa. Kaki dengan senyap membawaku ke depan kamar Ibu hanya untuk menemukan kalau ia terbaring di tempat tidur.

Pikiran negatif mulai menguasai dan terus berbisik seakan telah terjadi hal buruk padanya namun hati tetap berusaha berpikir positif dengan menampar segala dugaan buruk keluar dari dalam pikiran.

“Ibu. Ibu aku sudah pulang.”

Tidak ada respon, aku semakin panik dan dengan cepat tangan memeriksa tanda vital dari tubuh yang terbaring lemah itu. Aku masih bisa merasakan nadinya berdenyut, hidungnya masihlah bernafas dan dadanya masihlah mengembang dan mengempis. Setelah memeriksa semua itu aku terduduk di lantai dan air mata tak sanggup lagi bertahan dan dengan cepat meluncur deras membasahi pipi bahkan menetes ke atas lantai kayu. 

“Ixion? Kau kah itu?”

Suara yang lemah itu memanggil namaku dengan cepat aku langsung memeluk erat dirinya dan melepaskan semua yang mungkin selama ini tertahan di dalam diri.

“Sayang, kamu kenapa? Apa yang terjadi sayang?”

“Aku lelah. Aku telah melakukan yang terbaik untuk menyelamatkan seseorang namun aku selalu saja gagal. Aku tidak bisa berhasil, Ibu. Aku ini tidak berguna, sangat tidak berguna.”

“Nak, kau tidaklah pernah menjadi orang yang gagal ataupun orang yang tidak berguna. Malahan kau adalah satu-satunya hartaku yang paling berharga. Semenjak ayahmu tewas saat menjadi petualang kehidupan kita sangatlah keras. Bahkan kita harus makan dua hari sekali itupun kalau kita masih punya beberapa koin perunggu.”

Ia berhenti bercerita, namun tangannya masih lanjut untuk membelai rambut hitamku saat kubaringkan kepala di pangkuannya.

“Ixion, Ibu tahu kalau di dunia yang keras ini terkadang hal yang telah kau rencanakan dengan baik bisa berubah menjadi berantakan. Jadi karena itu Ibu ingin kamu untuk selalu bisa bangkit setelah terjatuh. Walau sekeras apapun kau menghantam tanah, pastikan kaki-kakimu kuat untuk menopang tubuh. Dan satu lagi, di setiap kejatuhan manusia pasti terselip sebuah pelajaran yang bisa membawamu untuk terbang pergi dengan tinggi.”

“Tapi apa yang terjadi kalau aku tidak bisa atau bahkan tak sanggup untuk bangun lagi?”

“Saat itu tiba maka ingatlah kalau Ibu akan selalu ada di dalam hatimu.”

Ia kembali berhenti dan memegang daguku selagi mengangkat wajahku dengan perlahan meminta mata untuk melihat wajahnya yang lemah dengan senyum hangat. Ia membawa wajahnya dan memberikan kecupan kecil di dahiku.

“Ixion, waktu Ibu tidaklah lama lagi. Mungkin inilah saatnya kita berpisah.”

“Ibu apa maksudmu? Ibu?”

Ia tidak menjawab, matanya kosong dan ia pergi meninggalkanku dengan sebuah senyuman yang terlukis di wajahnya. Ku dekap lama di dalam pelukanku dan kuhabiskan kala dengan menangisi kepergiannya dalam kesunyian. Itulah yang setidaknya aku lakukan untuk melepas kepergian ibuku namun terdengar suara gaduh yang terjadi di luar. Ledakan terjadi dimana-mana, orang-orang desa berteriak ketakutan, sepertinya aku bisa menebak siapa yang melakukan itu. Aku melepas jenazah ibuku dan meletakkan posisinya kembali ke tempat tidur sambil menutup wajahnya dengan kain tipis yang ia gunakan untuk menjadi selimut.

“Maaf Ibu sepertinya aku tidak bisa untuk pulang ke rumah kali ini… sebelum aku berhasil menghajar wajah para binatang sihir ini.”

Kaki dengan langkah yang tegap berjalan menuju ke arah kamarku dan dengan segera membuka jendela. Di luar aku melihat pemandangan di mana para binatang sihir berkumpul dan di belakang mereka terlihat seorang pria dengan dua tanduk hitam di kepalanya, sepertinya dialah orang yang mengendalikan segerombolan binatang sihir ini mungkin dia adalah iblis dengan tingkat bangsawan.

“Keluarlah manusia, aku akan membunuhmu dengan cepat jika kau ini penurut.”

“Kalau aku tidak mau?”

“Maka kau akan berakhir menjadi seperti mereka, menjadi makanan untuk para binatang sihir ini.”

“Memangnya apa yang diinginkan iblis bangsawan sepertimu datang ke desa kecil ini?”

“Aku hanya menjalankan tugas dari peramal kami yang mengatakan kalau salah satu konstelasi akan terlahir hari ini di kota Rot, tetapi ramalannya berubah sehingga membawa kami ke desa terpencil ini, walau kami tidak tahu siapa orang tersebut jadi kami hanya harus membunuh semua manusia yang ada.”

“Hanya karena sebuah ramalan kalian melakukan hal sebesar ini? Bukankah itu terlalu berlebihan?”

“Itu cocok untuk kami”

Aku tidak tahu apakah dia adalah tipe yang suka berbicara atau hanya terlalu bodoh untuk membeberkan tujuan mereka kepadaku. Atau dia hanya tidak terlalu peduli karena sebentar lagi aku akan mati. Apapun itu informasi dari iblis ini menjadi pelengkap dari puzzle yang sedari tadi aku mainkan. 

“Hei iblis, terimakasih atas informasimu. Berkatmu aku akan menghajar pantatmu nanti.”

“Apa yang dibicarakan manusia ini.”

Dengan sedikit siulan, seekor binatang sihir berlari masuk ke dalam rumah dan mulai mengoyak daging dari tubuhku. Anehnya bukannya berteriak kesakitan aku malah tertawa, tertawa dengan keras yang mungkin bahkan bisa di dengar oleh dewi Aion itu sendiri. Dan sekali lagi aku mati.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Aku terbangun di dalam tenda dan dengan cepat melangkah keluar untuk menikmati hari yang cerah. Kurentangkan kedua lenganku ke samping dan dengan segera menarik nafas dalam-dalam setelah itu aku menampar kedua pipiku dengan keras sampai menyisakan bekas merah.

“Baiklah saatnya untuk mengakhiri ini semua.”

Sebelum berangkat ke kota Rot aku kembali mengingat dan menyusun seluruh kepingan puzzle yang berserakan selama perulangan yang telah aku lakukan. Pertama, jika aku pergi terlalu cepat pergi ke kota Rot aku akan mati oleh bandit, sehingga paling aman adalah melakukan perjalanan dengan pelan agar sampai ke kota Rot sedikit lebih siang. Kedua, sesampainya di kota Rot aku harus memberikan informasi tentang segerombolan binatang sihir yang dikendalikan oleh iblis bangsawan tersebut karena dari informasi yang diberikan oleh iblis bangsawan itu kalau target awalnya adalah kota Rot, tetapi ramalannya berubah menjadi desa Viculus itu karena aku yang merubah rute perjalananku. Sehingga bisa dipastikan kalau akulah target mereka yang sebenarnya. Sehingga tidak aneh kalau di setiap perulangan aku selalu mati karena akulah yang menjadi incaran dari mereka. 

Yang menjadi masalah untukku adalah bagaimana caraku memberikan informasi tentang segerombolan binatang sihir yang dikendalikan oleh iblis bangsawan ini. Para penjaga tidak akan langsung percaya pada ku jadi bagaimana aku mengatasi hal ini… Apakah aku harus mengandalkan kenekatanku? Mungkin saja harus dan demi hal ini aku mengharapkan keajaiban dari sang dewi. Dengan begitu karena telah waktunya aku akhirnya memutuskan untuk bergerak dari kawasan Riese, meninggalkan bayangan pohon raksasa itu menjulang tinggi dan bergerak maju ke kota Rot.

Begitu hampir sampai di gerbang kota aku kembali melihat pemandangan yang sama untuk sekian kalinya. Tapi kali ini aku berhenti dan memberitahukan informasi ini kepada para penjaga gerbang dan dugaanku kali ini benar sekali, mereka sama sekali tidak mempercayai informasi yang kupunya. Malahan mereka menodongkan pedang yang ada di pinggang mereka ke arahku.

“Hei darimana kau tahu soal penyerangan ini? Apakah kau adalah mata-mata dari kerajaan selatan?

“Tentu tidak”

“Jadi darimana kau tahu soal ini?”

Aku terpojok karena tidak bisa memberikan penjelasan yang memuaskan untuk para penjaga ini jadi kemungkinan terburuknya adalah aku harus memikirkan kembali rencana ku ini dengan matang di putaran berikutnya dengan mati disini. Tetapi kurasa sang dewi menjawab permintaanku kali ini. Karena dari kereta kuda yang mewah setiap putaran aku lewatkan dan acuhkan keluar sesosok wanita anggun dengan rambut pirang keemasan dan sorot mata hitam yang tajam namun penuh belas kasihan. Wanita itu mengenakan armor baja berwarna putih yang tampak gagah dengan sebuah pedang besar yang sarungnya dihiasi oleh corak garis yang berasal dari emas murni.

“Ada keributan apa ini?”

Kedua penjaga gerbang tersebut dengan cepat menurunkan pedang mereka dari arahku dan dengan gagap memberikan penjelasan kepada wanita tersebut.

“Maaf nona Raviel kami disini ingin mengamankan pria yang mencurigakan ini. Karena entah bagaimana dia bisa tau soal penyerangan yang akan dilakukan ke kawanan segerombolan binatang iblis yang ada di dekat kota.”

Kini wanita itu menatap tajam ke arahku, ia melirik dan menilai dari atas kepala sampai bawah mata kaki. Dari sorot matanya itu dan nama Raviel, aku hampir mengingat siapa sosok wanita yang berdiri di hadapanku ini. Oh seketika aku kembali teringat dengan sebuah nama yang sering muncul dalam sebuah syair epik yang dibawakan oleh para penyair di desaku. Nama itu adalah Raviel Ivansia, seorang konstelasi dari dewi Aion yang sangat terkenal dengan berbagai kisah epik yang sering diceritakan kepada anak-anak. Walaupun menjadi seorang konstelasi termuda diantara konstelasi dari dewi Aion tetapi Raviel berhasil menjadi yang terhebat dan saat ini ia berada di hadapan ku. Kalau aku bisa meminta bantuannya maka bisa saja…

“Nona Raviel maukah kau menerima permintaanku ini? Aku tau kalau ini terdengar tidak masuk akal tetapi dengan segenap hatiku aku berkata jujur padamu. Kota ini akan menjadi target oleh para binatang-binatang sihir yang di mana mereka akan menyerang kota dari segala arah tepat pada saat bel menara jam menunjukkan waktu tengah malam.”

Wanita itu diam, namun dahinya berkerut alisnya terangkat dan ia menggigit sudut mulutnya seakan membaca gerak tubuhku layaknya sebuah buku. Tak lama kemudian ia tersenyum kecil dan berjalan perlahan mendekati ku. 

“Aku tahu kalau kau bicara jujur, namun ada hal yang membuat semua perkataan jujurmu itu menjadi tidak masuk akal. Seakan kau pernah melalui semua ini sampai tahu persis kapan waktu penyerangan itu terjadi. Atau mungkin saja kalau memang benar kau adalah seorang mata-mata dari kerajaan lain yang entah dengan alasan apa membocorkan rahasia ini.”

“Nona Raviel. Aku hanyalah seorang petani dari desa terpencil, yaitu desa Viculus dan aku melakukan ini murni hanya untuk menyelamatkan orang yang ku kenal.”

“Maaf nak, tapi kau belum bisa menjawab darimana rasa curiga ini muncul.”

Aku kehabisan akal. Apa yang harus kulakukan untuk meyakinkan konstelasi ini agar ia bisa membantuku untuk melindungi kota ini dan juga untuk mencegah kemalangan yang akan menimpa Noelle nantinya. 

“Aku tidak memberitahukan sumber dari informasi ku ini, tetapi semua informasi yang kuberikan ini jujur. Para prajurit ini tidak akan sanggup melawan semua segerombolan binatang sihir itu karena ada iblis dengan kelas bangsawan yang mengendalikan mereka.”

Seketika setelah aku membeberkan informasi ini kepada mereka semua, raut wajah dari para penjaga berubah menjadi kaget serta ketakutan. Mereka mulai berbisik satu sama lain menyebarkan berita ini layaknya sebuah hembusan angin yang menyapu dataran padang rumput. 

“Apakah ada lagi yang kau ketahui anak muda?” Tanya Raviel dengan sorot mata yang masih tajam menatap ke arahku seakan sedang memeriksa apakah ada kebohongan yang terucap dari mulut.

“Dan yang kutahu kalau tujuan mereka menyerang kota Rot itu adalah untuk mencegah suatu ramalan yang akan terjadi. Aku tidak terlalu mengerti maksud mereka tapi mereka ingin menghabisi manusia yang ada di kota Rot agar tidak ada konstelasi yang terlahir dari kota ini”

“Hmm…”

Panjang gumaman dari Raviel dengan jari yang terus mengelus dagu bahkan sampai ia tidak sadar kalau rambutnya telah dimainkan oleh angin usil nan jahil. 

“Baiklah anak muda, aku akan menerima permintaanmu ini karena ini berhubungan dengan keselamatan semua orang di kota Rot ini.”

Senyuman langsung tergambar jelas di wajah ku ketika aku akhirnya bisa meyakinkan Raviel Ivnansia sang konstelasi terhebat umat manusia untuk membantu ku. Dengan itu ia mengatakan padaku untuk pamit sebentar karena ia ingin menjumpai sang penguasa kota, yaitu sang Count Urbs. Untuk sekarang masalah terbesar sudah aku selesaikan sehingga langkah berikutnya yang harus kulakukan adalah pergi menemui Noelle dan memintanya agar bisa bersamaku saat waktu penyerangan terjadi. Oleh karena itu aku pergi ke pasar dan menyelesaikan masalah dasar yang harus kulakukan di setiap perulangan, yaitu menjual barang daganganku ke pasar. 

Namun kali ini terjadi perubahan yang berbeda dari perulangan sebelum-sebelumnya, yakni kali ini mereka memberikan koin untuk barang dagangan ku sesuai dengan jumlah yang seharusnya. Mereka tidak kekurangan koin lagi kali ini. Apakah ini pertanda baik atau malah pertanda buruk aku tidak bisa menebaknya. Tetapi aku berharap dalam hati kalau ini adalah sebuah pertanda baik bagiku jadi setelah selesai menjual semua barang daganganku di pasar aku kembali ke bar untuk menemui Noelle. 

Pintu bar terbuka dan aroma yang berulang kali aku cium masuk ke dalam hidung melepaskan dopamin yang membuat jantung berdegup semakin kencang. Bukan karena rasa lapar, melainkan rasa tak sabar untuk kembali dengan gadis yang telah mencuri hati ku untuk beribu kalinya. Dari belakang rambut pirang keemasan miliknya tampak sungguh menawan dan ketika ia berbalik mata bertemu untuk kesekian kalinya untukku dan yang pertama kalinya baginya tetap saja hal itu membuat tubuh membeku, mulut terdiam dan seribu bahasa bungkam di hadapan keindahan semesta yang terlukis pada seorang insan. 

Kaki-kaki kami berjalan pelan hanya untuk mendekat dan bertemu, dengan wajah yang saling malu namun senyum manis kami bertukar sapa seperti yang kami lakukan berulang kali di perulangan-perulangan sebelumnya.

“Maaf sebelumnya, tapi apakah pernah bertemu ? Aku merasa kita seakan pernah bertemu entah di mana sebelumnya, terdengar aneh kan?”

“Tidak juga, mungkin kita pernah berpapasan dalam mimpi, atau mungkin ini yang orang-orang katakan sebagai takdir.”

Tidak seperti sebelumnya di mana ialah yang menggodaku dan memaksa pipi untuk menjadi merah padam karena malu, kali ini aku lah yang membuat ia demikian. Kami lanjutkan perbincangan dengan saling bincang baik tentang hal receh ataupun serius sampai ia harus mengundurkan diri karena masih harus melanjutkan pekerjaannya. 

“Noelle, mari ketemu lagi nanti malam pukul 7 di alun-alun kota.”

Ia mengangguk pelan dengan senyum manis di wajahnya. “Iya, sampai ketemu lagi nanti Ixion.”

Tangannya melambai pelan sebelum ia berlari masuk ke dapur dan aku melangkahkan kaki keluar dari bar untuk mempersiapkan langkah berikutnya. Sekarang yang harus kulakukan adalah kembali menemui Raviel agar bisa menyusun rencana bersamanya. Namun aku sama sekali tidak tahu ia ada di mana sekarang, karena kami tidak ada membuat janji untuk kembali bertemu. Aku lalai memperhatikan detail kecil seperti ini yang membuatku menjadi repot sendiri. Jadi untuk menenangkan diri aku memutuskan untuk pergi ke alun-alun kota dan duduk di salah satu bangku disana untuk mengistirahatkan tubuh sebentar dan untuk menenangkan otak yang sudah bekerja lebih banyak dari biasanya. 

Begitu aku melamun sebentar aku tanpa sadar membiarkan orang asing untuk duduk di sebelahku, dan ketika aku melirik ke sebelah ternyata orang asing itu adalah Raviel Ivansia. Sontak hal itu membuatku melompat kaget yang memberikan kepuasan untuk dirinya dengan tertawa kecil melihat aksi komedi yang kulakukan. 

“Apa yang kau lamunkan anak muda? Apa kau merindukan pacarmu yang di bar itu?”

“Tunggu, darimana kau tahu kalau aku ke bar tadi? Apakah kau juga disana?”

Iya hanya mengangguk pelan dengan senyum lebar menghiasi wajahnya saat menatap ke arahku.

“Oh anak muda aku melihat semuanya tadi dan kalian benar-benar sangat serasi tadi hehe.”

“Serasi? Kami belum sampai di tahap itu. Karena ini adalah pertemuan pertama kami.”

“Benarkah? Tetapi kalian tidak terlihat seperti orang yang pertama kali bertemu satu sama lain.”

Raviel sama sekali tidak salah karena kalau melihat dari perspektif ku, inilah bukan kala pertama kami bertemu. Sungguh ia memiliki mata yang tajam dan pengamatan yang sangat mengerikan. Saat aku kembali menatap ke arahnya, matanya terpejam untuk beberapa saat sebelum suara lembut keluar melantunkan sebuah syair indah. 

“Hatta kala bosan dan bermain dengan mu. 

Begitu jahat meninggalkan rayuan hebat

Tersenyum puas menatap para gemintang

Yang begitu kuat sampai menatap lekat

Memintamu jangan pergi dari sisiku”

 

“Apa itu nona Raviel? Apakah sebuah penggalan syair dari penyair terkenal?”

“Ya, aku mengutipnya dari penyair terkenal yang ada di kekaisaran Central dan entah kenapa itu sangat mirip dengan mu saat ini.”

“Begitu ya…”

Aku sama sekali tidak tahu apa maksud dari penggalan syair itu, ataupun konteks dibaliknya sampai sang konstelasi berpendapat kalau itu mirip dengan keadaanku saat ini. Setelah berbincang cukup lama aku hampir apa yang harus kulakukan yaitu menyusun rencana bersama nona Raviel. Ia menjelaskan setelah Raviel memberikan informasi yang kusampaikan padanya kepada sang Count Urbs, sang penguasa kota mulai mengerahkan seluruh para prajurit di kota Rot untuk menjaga semua pintu masuk, baik yang dari timur, barat ataupun utara kota. Dan dari penjelasan Raviel aku sadar kalau sang Count masihlah meragukan informasi ini dan meminta Raviel untuk mengawasi ku memastikan kalau aku bukanlah seorang mata-mata seperti yang ia curigai. 

Bagiku itu adalah hal yang bagus yang di mana sang konstelasi akan selalu berada di dekatku sehingga aku bisa memastikan keselamatan Noelle nantinya. 

“Tapi aku benar-benar terkejut ketika aku melihat teman perempuanmu itu saat di bar tadi.”

“Terkejut kenapa nona Raviel?”

“Karena ciri fisiknya sangatlah mirip dengan penggambaran dewi Aion yang ada di dalam buku-buku sastra lama. Mulai dari rambut pirangnya dan mata biru yang indah itu. Tapi mungkin saja ia adalah orang yang sangat diberkati oleh sang dewi sehingga bisa mendapatkan fisik seperti itu.”

“Iya mungkin saja.”

Pernyataan mendadak dari Raviel sedikit membuatku penasaran sehingga aku mulai menduga-duga apakah hal itu adalah sebuah kebenaran?. Tapi itu sepertinya terlalu berlebihan dan tidak mungkin terjadi, jadi aku membuang pikiran itu jauh-jauh. 

Tidak terasa kala berlalu begitu cepat yang di mana sudah saatnya sang solaris beristirahat membiarkan purnama untuk mengambil alih panggung dengan indurasmi yang menyinari buana. Menara jam membunyikan lonceng dari baja tua yang menandakan bahwa malam telah hadir dan resmi menghitung mundur sebelum sang surya kembali mengambil tempat. 

Masih setia aku menunggu Noelle di salah satu bangku yang ada di alun-alun ini dengan nona Raviel yang duduk tidak jauh dari tempatku karena ia mengatakan kalau ia tidak ingin mengganggu, walaupun yang kami lakukan nanti hanyalah berbincang-bincang saja. Meskipun begitu aku tidak terlalu mempermasalahkan kalau ia ingin bergabung dengan kami.

Langkah kaki yang tidak asing terdengar dan dengan cepat mata mencari sumber suara sampai dapat menemukan gadis yang ditunggu akhirnya datang. Walau sudah berulangkali aku melihat pemandangan yang sama, namun tak pernah bosan aku kalau itu adalah dirinya. 

“Maaf ya sudah membuatmu menunggu, Ixion.”

“Tidak masalah, karena menunggu adalah kemampuan terbaik yang aku miliki.”

Senyuman kecil tergambar dari wajah rupawannya mendengar ucapan manis yang kulontarkan padanya, dan seperti perulangan-perulangan sebelumnya kami menghabiskan waktu dengan berbincang ria, membahana hal-hal sepele nan receh hingga sampai menara jam kembali berdentang yang menunjukkan kalau malam telah mencapai puncaknya dengan purnama yang berdiri tegak di atas kota Rot. Ketika sudah waktunya, Raviel berjalan perlahan ke arah kami dengan mengeluarkan pedang yang ia miliki dari sarungnya.

“Sepertinya ucapanmu bukanlah kebohongan nak Ixion. Tetaplah di tempat kalian berada dan jangan pernah pergi dari sana.” Kata Raviel ketika ia melempar sebuah barang yang sepertinya itu adalah sebuah artefak yang bisa membuat pelindung sihir disekitaran kami.”

Noelle menggenggam lenganku dan ketika ia menatapku, dapat terpancar wajah kebingungan yang mengharap penjelasan.

“Tidak apa-apa Noelle. Sebenarnya aku mempunyai maksud lain dari mengajakmu kemari. Yang di mana itu adalah untuk memastikan keselamatanmu dari penyerangan yang akan terjadi malam ini. Maaf sudah menyembunyikan ini dari mu.”

“Kau meminta seorang konstelasi untuk melindungi kita? Bagaimana dengan para penduduk kota?”

Raviel menoleh ke belakang menanggapi pertanyaan dari Noelle dengan suara yang tenang. “Para penduduk telah diungsikan ke tempat yang aman dari tadi sore. Sehingga hanya tersisa kita bertiga yang ada di dalam kota.”

“Nona Raviel, sebenarnya siapa yang akan menyerang kota Rot?”

“Para binatang sihir yang dikendalikan oleh iblis kelas bangsawan yang akan menyerang kota. Maka dari itu aku meminta nona Raviel, seorang konstelasi terhebat umat manusia untuk membantu.”

Mendengar penjelasan dari ku dan Raviel emosi Noelle kini campur aduk, tangannya masih gemetar saat menggenggam erat lenganku namun sorot matanya memancarkan sedikit rasa lega walau raut wajahnya masihlah khawatir. Dengan perlahan aku membawa tubuhnya ke dalam dekapan ku dengan mengusap kepalanya selembut mungkin agar rasa khawatir dan takut itu bisa terangkat jauh dari tubuhnya. Dirinya merespon dengan mengangguk pelan ketika ia membenamkan wajahnya pada dadaku dan lengannya merangkul kian erat pada punggung.  

Sampai pada waktu ketika iblis kelas bangsawan yang tadi dibicarakan kini muncul di hadapan kami bertiga dengan wajah kesal ia menenteng bilah pedang dengan satu mata di punggungnya. 

“Kemana para manusia yang ada di kota ini pergi? Apakah kalian yang bertanggung jawab atas hilangnya manusia-manusia ini?”

“Kalau iya memangnya kenapa?”

Iblis tersebut sedikit terkejut melihat seorang wanita dari kalangan manusia yang berperan seangkuh ini padanya sampai-sampai alis sang iblis pun terangkat tinggi. 

“Ah, aku kenal dirimu manusia. Kau adalah salah satu budak dari dewi itu bukan? Tidak heran kalau manusia sepertimu bisa seangkuh itu di hadapan seorang bangsawan seperti ku ini.”

“Bangsawan dari makhluk yang tidak mendapatkan berkah para dewi seperti mu, sama halnya seperti seekor babi di dalam kubangan berlumpur. Sungguh kasihan, dirimu tidak mengetahui tempatmu.”

Terprovokasi atas hinaan yang dilempar oleh Raviel, pitan sang iblis terbakar habis sehingga ia memerintahkan seluruh binatang sihir yang sedari tadi bersembunyi untuk menyerang Raviel. Aku melihat dari arah punggungnya, Raviel menggenggam pedangnya dengan kedua tangannya lalu mengangkatnya tinggi ke udara dan ingin menggunakan blessing miliknya dan seketika semuanya putih… 

.

.

.

.

Mata terbuka perlahan, dan otak masih mencoba memutar kilas terakhir sebelu tubuh seketika tidak sadarkan diri. Namun yang anehnya tidak ada yang bisa diingat dan sekarang aku menemukan diri tengah berbaring di salah satu bangku yang ada di alun-alun kota. Berbeda dari yang biasanya, kini aku melihat arunika asing yang tak pernah terlihat sama sekali. Kepala bersandar pada paha seorang gadis yang aku sukai yang kini masih terlelap. 

Kuangkat kepalaku sepelan mungkin agar tidak membangunkan dirinya yang tampak lelah namun ketika ia tidak lagi merasakan beban yang ada pada pahanya, ia dengan cepat terbangun dari tidurnya. Ia mengusap matanya ketika ia sedang mengumpulkan nyawa, dan setelah ia sadar sepenuhnya Noelle dengan cepat menangkapku ke dalam pelukannya.

“Ixion syukurlah kau bangun juga.”

“Aku tidak apa-apa sekarang. Tapi apa yang sebenarnya terjadi?”

Setelah itu Noelle menjelaskan semuanya padaku, yang di mana dari penjelasannya ketika Raviel menggunakan blessingnya yang bisa melenyapkan semua binatang sihir milik sang iblis bangsawan itu hanya dengan satu ayunan pedangnya, dan karena hal itu pula aku terlempar cukup keras yang membuatku tak sadarkan diri. Jadi itulah alasan kenapa aku bisa berakhir tidur di pangkuan Noelle yang semalaman mengkhawatirkan diriku. 

“Maaf karena membuatmu khawatir Noelle.”

“Ixion…” Mulutnya bungkam untuk beberapa saat dan perlahan ia menggeleng, “Tidak Ixion. Jangan meminta maaf seperti itu. Aku mengkhawatirkan mu karena aku ingin. Karena aku mau dan rasa peduli ini datang murni dari aku sendiri.” 

Sebuah senyuman terlukis pada wajahnya dengan kedua tangannya yang menangkap kedua pipiku dalam telapak tangannya yang hangat. 

“Jadi Ixion, untuk kedepannya sampai seterusnya, aku ingin mendengar ‘terima kasih’ darimu. Karena mulai dari sekarang aku ingin kita terus bersama.”

Pernyataan yang membuat otakku beku secara instan, mulut lumpuh tak bisa mengucapkan sepatah kata, bahkan kaki terpaku pada bumi. Aku mencoba memutar kalimat yang diucapkan olehnya agar bisa mencerna setiap kata dari kalimat tersebut dan hanya berakhir pada satu kesimpulan yang sama.

“Noelle, apa itu artinya kau…”

“Kau sangat jahat Ixion, memaksa sang gadis untuk mengatakannya.”

Pipi merah muda itu kian memerah tiap detik kala ia mulai mengggit bibir bawahnya dengan malu.

“Ixion, aku suka…”

Sebelum Noelle menyelesaikan kalimatnya kali ini aku yang bergerak duluan untuk memeluk erat dirinya di dalam dekapanku dan memberikan jawaban langsung padanya dengan sebuah ciuman manis yang menjadi tanda bagi kami berdua.

Aku menjalani hari yang benar-benar baru ini dengan membawa Noelle bersamaku kembali ke desa Viculus. Kereta kuda ini bergerak pasti membiarkan matahari berjalan diatas kami, mulai dari ia tepat di atas kepala sampai ia lelah dan meninggalkan sandyakala pada angkasa. Kereta kuda ku berhenti kala ia sampai tepat di depan rumah yang terasa telah lama aku tinggalkan. Bayangan dari perulangan sebelumnya masih membekas di dalam pikiran ku ketika tidak ada seorang pun yang datang menyambut kepulanganku. Hal itu membuat ku takut untuk membuka pintu yang kini tepat ada di hadapanku.

Berbeda dari sebelumnya, kini aku tidaklah sendiri. Noelle ada di sebelahku merangkul bahu ketika ia menangkap rasa cemas, sedih dan takut dariku. Ia meyakinkanku kalau semuanya baik-baik saja hanya dengan senyuman darinya. Aku menarik nafas dalam-dalam dan mulai membuka pintu rumah yang berdecit saat ia terbuka.

“Siapa?”

Suara perempuan dari dalam rumah menyambut suara decit pintu yang terbuka, dan sosok yang aku rindukan dan yang kuharapkan datang menyambut kepulangan. 

“Aku pulang, Ibu.”

“Selamat datang kembali ke rumah nak.”

*****

60 Tahun Kemudian 

Disaat-saat terakhir masa hidup, mata merekam momen terakhir dan yang terlihat hanyalah ruangan besar dengan tembok marmer, zirah-zirah yang dulu pernah digunakan, pedang-pedang antik yang terpajang di tembok bersamaan piagam-piagam penghargaan pada era kejayaan. Namun hanya satu yang kurang, yaitu aku merindukan belahan hati yang terlebih dahulu telah meninggalkan ku. Tetapi tak lama lagi aku akan menyusulnya. 

Kala setiap tarikan nafas kian berat entah kenapa aku mengingat kutipan syair yang dulu pernah disenandungkan oleh teman lama.

“Hatta kala bosan dan bermain dengan mu

Begitu jahat meninggalkan rayuan hebat

Tersenyum puas menatap para gemintang

Yang begitu kuat sampai ia menatap lekat

Memintamu jangan pergi dari sisiku”

Aku bisa mendengar suara sang juita yang kian terdengar jelas. Apakah itu artinya aku semakin dekat untuk bertemunya kembali? Sampai aku benar-benar merasa sekaranglah saatnya. Kupejamkan mata renta ini dengan perlahan dan melangkah menuju cahaya yang melambai pada ku, menyisakan air mata yang jatuh perlahan di atas pipi yang penuh dengan kerutan, hingga… aku benar-benar mati. 

.

.

.

.

“Air mata tak pernah cocok padamu, jadi mari kita bertemu kembali…”

.

.

.

.

.

.

.

“…Klik…”

Aku melompat terbangun dari mimpi sesaat.

Nafas keluar masuk dengan cepat membuat darah mengalir begitu hebat di dalam tubuh memaksa keringat membanjiri badan mulai dari kepala sampai ujung kaki. Kulihat sekeliling dan sadar bahwa aku hanyalah bermimpi. Mimpi yang bahkan terasa begitu nyata seolah aku baru saja kembali dari suatu tempat yang maya. Mungkin inilah yang orang-orang katakan dengan mimpi di kala pagi. Ia terasa begitu asli karena kesadaran tubuh yang hampir kembali dari persemayamannya. 

Aku kembali menghela nafas dan menariknya dalam-dalam, masih melihat kamar yang berantakan dengan pakaian kotor yang berserakan di lantai kayu yang berdecit ketika kaki menginjaknya. Aku menghampiri jendela dan segera membukanya dengan begitu udara segar dari arunika yang lembut langsung memberikan ciuman hangatnya. Di hamparan mataku terlihat pemandangan ladang gandum yang telah menguning yang ada di seberang rumahku ini. Dengan kincir angin yang digunakan untuk membantu warga desa menggiling gandum mereka menjadi tepung nantinya. Lalu walau terlihat jauh masih nampak megah pegunungan utara yang berdiri menantang langit dan seringkali melindungi desa kami ini dari ganasnya udara yang ada di seberangnya. 

“Ixion? Jika kau sudah bangun tolong bantu ibu mempersiapkan sabit untuk panen nanti.”

“Iya, aku akan turun Bu.”

*****

The End.

*****

TALES OF PANDORA SERIES

CHAPTER 00

Komentar

Postingan Populer