MORTICIAN
MORTICIAN
Karya : Ahmad Tetsuya
Kamis, 16 April 2020 pukul 7.00 pagi
“Tet…. Tet….. Tet….”
Suara alarm terus berdering nakal tanpa henti di samping tempat tidur, tempat seorang pria yang sedang berusaha untuk kembali tidur namun tidak bisa karena terganggu dengan suara bising yang terus berbunyi tanpa henti. Dengan malas tangan pria itu mencoba meraih alarm dan akhirnya bisa mematikannya. Ia mengerang panjang ketika harus keluar dari selimut yang membungkus tubuh telanjangnya. Sebentar ia melihat ke tempat tidur dan tersenyum kecil saat ia melihat tubuh mulus dari wanita yang ia ajak bercinta semalaman penuh masih terbaring kaku di atas tempat tidur.
“Pagi sayang. Aku akan meriasmu nanti setelah sarapan jadi tolong tunggu aku selesai mandi dulu.”
Ia berbisik lembut setelah memberikan ciuman ke pipi yang tampak dengan bercak marbling dengan tangannya yang sibuk membelai rambut pirang dari sang wanita. Tangannya terus meluncur lembut dari kepala ke wajah yang dingin lalu ke payudara yang sudah tak lembut lagi hinga ke kulit perut yang pucat itu. Setelah itu ia bangun dari tempat tidur untuk melakukan peregangan sambil memutar lagu “Can’t help falling in love” dari Elvis Presley selagi ia mandi. Di bawah shower yang mengguyur tubuhnya dengan air hangat, mengalir mulai dari rambut hitam yang lebat miliknya, lalu turun ke pundak yang lebar, kemudian meluncur pelan ke dadanya yang bidang, hingga meluncur bebas ke perut yang padat dengan otot-otot yang membentuk pola sicpack hasil workout yang ia lakukan kurang lebih 3 tahun lamanya, kemudian air meluncur deras ke area selangkangan sebelum turun ke bagian paha dan berakhir di mata kaki dan kembali ke lantai kamar mandi.
Begitu selesai mandi ia langsung berpakaian dan segera memasak sarapan yang sederhana, hanya telur mata sapi yang ditaruh di atas roti yang telah dipanggang hingga sedikit kecokelatan dengan margarin dan di temani dengan secangkir kopi untuk memulai hari. Ia dengan santai menikmati paginya dengan tanpa terlalu terburu-buru karena tamunya akan datang nanti pada pukul sepuluh. Oleh karena itu untuk mengisi waktu di pagi yang tenang ini dengan mendengarkan berita dari televisi.
“Berita hari ini, selumbari pada pukul 10.00 malam telah terjadi sebuah tragedi yang mengenaskan, di mana Ramiza Filia seorang gadis berusia 22 tahun harus tewas dalam tragedi tabrak lari. Korban sempat dilarikan ke rumah sakit Central Utama namun naas korban tidak bisa diselamatkan. Sampai sekarang sang pelaku masih dalam pencarian oleh pihak polisi. Selanjutnya berita dari luar negeri, di daerah Swampfield telah terjadi kejadian yang…”
Karena isi berita dari televisi terdengar membosankan untuknya sehingga ia langsung mematikan televisinya dan seperti janjinya, dr. Noam Alwynn membawa sang wanita turun dari kamarnya dan mulai merias sang wanita di ruang kerjanya yang berada di ruang bawah tanah.
Tepat pada pukul sepuluh kurang, keluarga Filia mulai mendatangi kediaman Noam yang sekaligus merupakan sebuah rumah duka (funeral house). Mereka mengenakan pakaian serba hitam dan bermaksud untuk menjemput jenazah dari Ramiza Filia, gadis yang tewas beberapa hari yang lalu karena tragedi tabrak lari. Seorang pria kepala lima berjalan ke arah pintu dari rumah duka yang dikelola oleh dr. Noam, tangannya mengetuk pelan dan ketika Noam membuka pintu terlihat wajah sedih yang masih lekat dari pria kepala lima tersebut.
“Terima kasih telah datang menjemput putri anda, pak Filia. Dan saya turut berduka cita sedalam-dalamnya atas apa yang menimpa putri anda ini.”
“Terima kasih dokter. Pihak rumah sakit mengabari saya kalau anda yang mengurus pemakaman putri kami ini. Dan saya berterima kasih untuk hal itu karena telah melakukan yang terbaik.”
“Sama-sama pak. Silahkan masuk untuk melihat putri anda.”
Para keluarga duka beramai-ramai masuk ke dalam rumah duka untuk melihat jenazah keluarga mereka ini. Di dalam peti mati, kini telah terbaring seorang gadis berambut pirang dengan mengenakan gaun hitam panjang yang telah dirias halus agar terlihat seperti tertidur dengan tenang dalam peristirahatan terakhirnya. Di tengah situasi itu, Ibu dari sang gadis tak bisa menahan air matanya sehingga suaminya haruslah turun tangan dengan memeluk erat istrinya itu agar ia bisa sedikit lebih tenang.
Acara pemakaman berlangsung dengan khidmat tanpa ada kendala sampai sang gadis dikuburkan di pemakaman kota Central. Noam yang ikut dalam acara mendengar orang-orang dari rombongan keluarga Filia yang berbisik-bisik membicarakan keberadaan sang adik yang tidak hadir karena terlambat datang. Dari bisikan mereka diketahui kalau sang adik ini tidak bisa datang tepat saat acara pemakaman karena tidak adanya jadwal penerbangan ke Iustia kemarin malam, sehingga ia hanya bisa menggunakan penerbangan dari negara Venti ke Iustia yang tersedia pagi ini.
Begitu acara di pemakaman selesai, para rombongan keluarga Filia kembali ke rumah duka untuk mengucapkan belasungkawa terakhir pada pihak keluarga Filia. Sebuah taxi berhenti di depan rumah duka milik Noam dan seorang gadis berambut pirang panjang berlari masuk ke dalam rumah dan langsung melompat memeluk ayah dari korban tragedi tragis itu dengan sebuah tangisan. Kembali tangis pecah dari keluarga Filia saat sang adik, yakni Clarita Filia hadir.
Butuh waktu yang agak lama bagi sang ayah untuk menenangkan putri keduanya itu karena kejadian ini begitu memukul mental Clarita dengan sangat keras. Dalam ingatan Clarita, Ramiza adalah seorang kakak yang sempurna, mulai dari sifatnya yang baik, dan sangat suka memanjakan dirinya, seorang kakak ideal yang sangat diimpikan oleh banyak saudari. Oleh karena itu kematian sang kakak adalah suatu tamparan yang keras bagi Clarita yang sudah dua tahun tak sempat bertemu dengannya.
Naas emang, tapi itulah yang telah terjadi pada keluarga malang ini. Noam yang mengurus semua hal tentang pemakaman ini hanya bisa memberikan bantuan kecil bagi keluarga yang sedang berkabung. Begitu matahari telah sampai di titik tertingginya, satu-persatu rombongan yang hadir kini telah kembali pulang meninggalkan keluarga Filia di rumah duka bersama dengan Noam.
“dr. Noam, saya sebagai kepala keluarga sekali lagi mengucapkan terima kasih yang sangat banyak untuk anda karena telah mengurus segala hal untuk pemakaman putri kami.”
“Tidak masalah pak Filia. Sudah tugas saya sebagai Mortician untuk membantu segala keperluan pemakaman bagi keluarga yang berkabung. Dan sepertinya si adik masih tidak bisa merelakan kepergian kakaknya ya.”
“Iya benar dokter. Clarita benar-benar mencintai kakaknya. Sampai sekarang ia merasa bersalah karena tidak bisa mengucapkan kata-kata terakhir untuk sang kakak.”
Noam melihat ke arah Clarita yang masih menangis di pangkuan ibunya untuk beberapa saat sebelum ia kembali fokus pada sang kepala keluarga.
“Apa boleh saya mengatakan sesuatu untuk Clarita, pak Filia?”
“Iya silahkan.”
Suara langkah kaki terdengar mendekat ke arah Clarita sehingga ketika kepalanya berputar mencari sumber suara, ia melihat seorang pria yang mendekat dan menunduk pelan di hadapannya.
“Clarita, menangisi orang yang tersayang itu boleh saja. Namun jangan sampai kau tenggelam dalam kesedihan. Malah sebaliknya, seharusnya kau harus bisa tegar menghadapi perpisahan agar kakakmu tidak menjadi sedih di atas sana.”
Clarita yang masih mencoba menahan tangisnya melirik ke arah ibunya untuk meminta jawaban atas siapakah gerangan pria yang memberikan nasihat kepadanya. Ibunya menangkap wajah bingung dari Clarita dan dengan lembut ia memegang kedua pipi putrinya itu dan membelainya sambil menghapus air matanya.
“Ini adalah dr. Noam, dialah yang mengurus pemakaman kakakmu hari ini.”
Mendengar jawaban yang diinginkan olehnya, pandangan Clarita kembali kepada sang dokter yang masih ada di hadapannya. Clarita mulai menghapus air mata yang membasahi pipi nya dengan pergelangan tangannya.
“Te… Terima kasih dokter. Aku akan mencoba tegar seperti yang kau bilang. Agar kakak tidak bersedih karena ku dan bisa pergi dengan tenang.”
Suara Clarita masih terdengar gemetar karena ia mencoba untuk menenangkan dirinya dan dari wajahnya yang rupawan terpancar sebuah senyuman yang begitu tulus dan penuh kepolosan yang membuat sesuatu dari dalam diri Noam mulai bergejolak.
“Aku senang kalau kau mengerti, Clarita.”
Noam berjalan meninggalkan gadis itu yang mulai tenang dan kembali berbincang-bincang dengan Ayah dari Clarita untuk membicarakan mengenai pembayaran jasa dari dr. Noam. Setelah harga telah disepakati maka keluarga Filia mengucapkan selamat tinggal kepada Noam. Walau keluarga Filia kini telah pulang, tetapi ada sesuatu yang tertinggal di kediaman Noam, yaitu ingatan akan senyuman dari Clarita di kepala Noam. Ia berjalan menuju ruang kantornya yang masih berada di lantai satu di sebelah ruang tamu. Tangan noam merogoh kunci yang ada di saku celananya dan mulai melangkah masuk begitu pintu terbuka. Disana ia mulai mengambil buku catatan kecil berwarna hitam dan menulis sesuatu disana sebelum akhirnya ia menaruh penanya dan menyandarkan punggung belakang pada sandaran kursinya dengan senyuman yang lebar.
“Senyuman manis itu… Aku sangat menginginkannya.”
Minggu, 19 April 2020 pukul 15.00 sore
Tiga hari berikutnya di sebuah kafe, di pusat perbelanjaan kota Central, Clarita duduk dengan secangkir americano di atas mejanya. Ia mencoba untuk mengalihkan pikirannya dari kesedihan dengan mencari kesibukan. Terlebih sekarang ini ia sedang menjalani libur semester dari kuliahnya. Jadi Clarita mencoba untuk nongkrong bersama dengan teman SMA nya dulu, yakni Sunny. Lagi pula ia telah lama tak bersua dengan temannya itu. Tak lama seorang perempuan melambai ke arahnya dan dengan senyum lebar menghampiri meja tempat Clarita duduk dan langsung memberikan pelukan sehangat mentari pagi.
“Clarita, Kau tambah cantik saja”
“Sunny apa kabar? Sudah lama kita tidak bertemu”
“Aku baik. Dan mendengar beritanya. Aku turut berduka cita atas kepergian kakakmu.”
“Terima kasih Sunny.”
Senyum kesedihan kembali mencoba merampas masuk ke wajah Clarita sehingga dengan cepat Sunny mengubah arah pembicaraan dan sepertinya ia berhasil mengusir pergi kesedihan itu dari Clarita. Sunny dengan leluasa membawa topik pembicaraan menjauh dari topik yang membuat Clarita sedih dengan menanyakan kabar Clarita selama berkuliah di Venti, dan tak lupa pula Clarita menanyakan kisah romansa yang tengah di jalani oleh Sunny sehingga membuat Sunny dengan panjang lebar membicarakan pacarnya. Mulai dari dirinya yang tinggal serumah dengan pacarnya, sampai bagaimana Sunny yang kerepotan karena susahnya memuaskan libido pacarnya yang tinggi.
“…. gara-gara itu aku sampai kerepotan kau tahu. Di mana ia memintaku untuk memenuhi fetishnya itu. Kau tahulah kalau aku setengah mati karena malu kalau aku harus membiarkan dia menjilat ketiakku ini.”
“Sepertinya kau memiliki masalah tersendiri ya Sunny.”
“Itu makanya Clarita….”
Omongannya terpotong karena Sunny mendapat sebuah panggilan yang ternyata dari pacarnya. Clarita hanya diam menyaksikan bagaimana ekspresi temannya itu yang mulai terlihat kesal dan menutup panggilan dengan cepat.
“Aduh maaf ya Clarita, sepertinya aku harus pulang lebih awal karena pacar idiotku itu lupa membawa kunci rumah, jadi sekarang ia terkunci di luar. Jadi aku minta maaf ya Clarita.”
“Tidak apa-apa Sunny.”
“Kalau begitu aku pergi dulu ya, aku janji kita akan nongkrong lain kali. Oke?”
Dengan begitu Sunny pergi dari kafe meninggalkan Clarita yang duduk sendiri sambil menatap ke arah luar dari jendela. Walau raganya masih di kafe itu tetapi pikirannya telah melayang bebas. Ia mulai memikirkan cerita dari Sunny tadi dan mungkin karena cerita dari sahabatnya itu sekarang ia menginginkan seorang pacar. Selama ini, Clarita memang menahan diri agar tidak masuk ke dalam dunia asmara karena ia ingin fokus pada kuliahnya. Namun setelah melihat temannya yang dengan riang membicarakan banyak hal tentang pacarnya membuatnya jadi menginginkan merasakan manisnya buah itu.
“Apakah kursi ini kosong, Clarita?”
Di tengah lamunannya Clarita harus tersadar dan masuk kembali ke raganya ketika ia mendengar suara pria yang berbicara padanya. Ketika ia melihat ke arah sumber suara ternyata pria yang mengajaknya berbicara adalah orang yang ia kenali.
“Dokter Noam? Ah, silahkan duduk. Kursi itu memang kosong sekarang.”
“Terima kasih, kalau begitu aku akan duduk disini kalau kau tidak keberatan. Aku tidak sedang mengganggu kan?
“Tentu saja tidak. Aku tadi hanya sedikit melamun setelah temanku pulang.”
“Begitu ya. Tadi aku melihatmu duduk sendirian dan karena itu aku penasaran soal kabarmu sekarang.”
“Kau baik sekali masih mengkhawatirkan ku dr. Noam.”
“Hehe, kau bisa memanggilku Noam saja. dipanggil dokter itu tidak enak ketika aku sedang dalam waktu libur begini.”
“Oh, baiklah…”
Clarita melihat Noam baik-baik dan sadar betapa menariknya pria yang ada di hadapannya ini sehingga membuat jantungnya perlahan mulai berdetak kencang. Terlebih setelah mereka menghabiskan waktu yang cukup lama berdua dengan berbincang-bincang sampai mentari lelah dan akhirnya duduk di atas cakrawala, Clarita mulai merasa nyaman dengan pesona dan sifat dari Noam yang membuat dirinya ingin mengetahui tentang Noam lebih banyak lagi. Jadi pada saat mereka berpisah Clarita membuat janji pada Noam untuk bisa bertemu lagi dengannya dan Noam tentu menyetujui hal tersebut dan meminta Clarita agar datang saja ke kediamannya, yaitu di rumah duka miliknya. Dengan begitu mereka berpisah untuk hari ini dan pulang ke rumah masing-masing.
Di rumah, begitu sampai di dalam kamar, Clarita langsung melompat ke tempat tidur dan dengan sengaja membenamkan wajahnya ke dalam bantal sedang dua kakinya sibuk menendang-nendang kasur. Saat paru-parunya berteriak meminta oksigen Clarita akhirnya mengeluarkan wajah jelita nya dengan masih memeluk bantal itu erat-erat. Pipinya memerah saat ia kembali momen bersama Noam di kafe hari ini dan tanpa sadar ia telah bersenandung dengan riang dengan mood yang lebih baik daripada tadi pagi.
“Hmm, besok aku harus pakai baju apa ya? Masalahnya aku gak bawa baju banyak. Tapi apa aku harus pakai baju yang sexy? Atau gaun yang imut? Aku bingung…”
Setelahnya ia menelepon sahabatnya Sunny untuk mendapatkan saran karena temannya itu lebih berpengalaman daripada dirinya. Mendapat telepon dari Clarita yang dengan penuh semangat menceritakan apa yang terjadi hari ini, Sunny tidak ingin meninggalkan kesempatan untuk menggoda temannya itu dengan mengatakan kepada Clarita untuk sedikit bertindak agresif agar bisa menarik perhatian si pria. Sehinga Sunny menyarankan agar Clarita mengenakan pakaian yang sedikit memarkan belahan payudaranya.
Tentu saja Clarita menyangkal dugaan Sunny kalau ia menaruh perasaan pada Noam, walau dengan sadar ia hanya berusaha untuk menutupi perasannya itu dengan sebuah kertas tisu. Walaupun begitu, Sunny senang akhirnya Clarita bisa senang kembali setelah kematian kakaknya dan malam mereka habiskan dengan menggosip sampai bulan dan para gemintang menguap mendengar obrolan panjang para gadis ini.
Senin, 20 April 2020 pukul 8.30 pagi
Clarita berdiri di depan cermin menatap lekat ke pantulan dirinya yang meniru gerak tubuhnya. Ia berputar dan tersenyum melihat rambut pirangnya yang digerai bebas, dengan gaun jeans biru klasik yang menutupi tubuhnya sampai di bawah lutut dan pada bagian bawah ia pakai sepatu putih dengan tas tangan hitam sebagai sentuhan akhirnya. Setelah puas berputar dan memandangi dirinya di dalam cermin yang tak pernah menghakimi, akhirnya ia keluar dari kamarnya dan pergi ke pintu depan.
Ibunya yang sedang memasak di dapur mendengar langkah kaki Clarita turun dari lantai dua dan menangkap dirinya yang sedang berpakaian rapi di mana hal itu membuat ibunya bingung dengan anak gadisnya.
“Clarita, kamu mau kemana pagi-pagi begini sudah pakai baju yang cantik-cantik?”
“Oh Ibu, ini…”
Clarita melangkah pelan ke arah dapur dengan kedua tangan yang mengayun ke depan dan ke belakang sambil menahan senyum dari wajahnya.
“Aku cuma mau pergi ke rumah teman saja kok.”
“Rumah teman? Ke rumah siapa?”
“ke rumah… pokoknya ada deh.”
Melihat putrinya yang dalam mood baik, ibunya hanya bisa menghela nafas pelan sambil tersenyum kecil mengetahui kalau anak gadisnya telah masuk ke dalam asmaraloka.
“Kalau kamu gak mau memberitahu Ibu, gak papa. Tapi jangan sampai pulang kemalaman ya?”
“Iya bu. Clarita pamit dulu.”
Gadis berambut pirang itu melangkah keluar dari pintu dengan lambaian tangan yang hangat pada ibunya sebelum pintu akhirnya sepenuhnya tertutup. Sebuah taxi kuning berhenti di depan kediamannya dan Clarita meminta pada si supir untuk membawanya ke rumah duka Alwynn. Tak butuh waktu lama bagi Clarita sampai ke daerah pinggiran kota Central yang merupakan wilayah yang masih banyak di huni oleh pepohonan lebat di sepanjang pinggir jalan. Ketika taxi berhenti dan Clarita keluar dari sana, kebetulan Noam baru saja membuka pintu depan untuk membuang sampah ke tong sampah yang ada di pinggir jalan.
“Clarita, kamu sudah sampai ternyata. Baru saja aku ingin menghubungimu untuk menanyakan posisimu tadi.”
“Iya, aku datang cepat supaya gak membuat dokter menunggu lama.”
“Benarkah? Hehe, kalau gitu ayo masuk, aku sudah menyiapkan kopi susu untukmu di dapur.”
Noam dan Clarita melangkah masuk ke dalam rumah dan dengan suasana hangat yang menyelimuti mereka. Di ruang tamu, Noam meminta Clarita untuk duduk di sofa selagi ia mengambil cemilan dan kopi susu yang telah ia seduh tadi. Mata Clarita tak henti-hentinya melihat tembok yang penuh dengan piagam-piagam penghargaan serta beberapa foto dari masa lalu Noam. Salah satu foto yang menarik perhatiannya adalah foto seorang anak laki-laki yang berdiri dengan sepasang pria dan wanita yang tampaknya adalah orang tua dari Noam itu sendiri. Clarita sangat asyik mengamati tembok yang penuh dengan kenangan dari Noam itu sampai-sampai tingkah kecilnya membuat Noam yang sedari tadi memperhatikan hanya bisa tertawa kecil.
“Hehe apa kau menemukan hal yang menarik Clarita?”
Pundak Clarita sedikit melompat ketika Noam mengejutkan dirinya. Pipinya memerah karena malu sehingga ia menggeleng cepat dan kembali duduk di sofa.
“Tidak, aku hanya melihat-lihat saja kok…”
“Aku tidak keberatan untuk menjawab rasa penasaran mu. Anggap saja ada dalam interview untuk mengenal satu sama lain lebih baik.”
Clarita diam sejenak dan menelaah usul dari Noam itu dan benar kalau adapun kontak yang mereka lakukan hari ini tidak lain karena tujuan dari Clarita adalah untuk mengetahui lebih banyak soal Noam.
“Baik, kalau kau tidak keberatan untuk menjawab pertanyaan ku, maka aku ada satu pertanyaan untukmu, dr. Noam.”
Senyum merekah dari wajah pria akhir dua puluhan itu, “Tanyakan saja Clarita.”
“Apa kamu punya alasan memilih pekerjaan mortician ini? Karena kau tahu, seharusnya kau bisa memilih kerja di rumah sakit sebagai dokter mengingat banyaknya piagam kedokteran yang kau punya ini.”
“Soal pekerjaan ini ya?…”
Noam hanya diam duduk di sofa tanpa berkata-kata sedangkan tangan kirinya sibuk mengelus dagunya yang bersih dari jangggut. Clarita yang memperhatikan bahasa tubuh dari dr. Noam merasakan kesunyian yang padat walau itu hanya terjadi sekian detik. Namun dalam waktu sesingkat itu, suara detak jam terasa sangat memekakkan telinga, dan pada saat wajah Noam kembali terangkat menatap Clarita, senyum kembali merekah pada wajahnya. Sebuah senyum di mana sudut-sudut bibirnya terangkat cukup tinggi sampai memperlihatkan giginya yang putih dengan tatapan yang tidak berkedip sama sekali ke arah Clarita.
“Mungkin alasannya karena aku suka.”
“Suka?”
“Aku suka karena aku hanya harus berurusan dengan orang mati yang tidak bisa komplain kalau aku salah memberi obat.”
Noam mengakhiri kalimatnya dengan tawa kecil untuk memberikan puncline pada jokesnya yang masih bisa di tanggapi oleh Clarita. Walau begitu Clarita dapat merasakan kalau Noam tidak ingin memberitahu alasan yang sebenarnya dan hanya melemparkan candaan untuk menutupi topik itu.
“Oh dan satu pertanyaan lagi kalau kau tidak keberatan dr. Noam.”
“Tentu silahkan.”
“Di tembok itu aku melihat satu foto yang menarik.” Clarita berdiri dari sofa dan berjalan ke arah salah satu foto yang ada di tembok dan menunjuknya “Apakah foto ini merupakan foto mu waktu kecil dulu?”
“Ah foto yang itu. Iya itu fotoku sewaktu aku berusia 10 tahun. Saat itu kami sedang berada di sebuah taman bermain dan hal itu pula lah yang menjadi momen terakhir kami bersama sebelum kedua orang tua ku tewas dalam peristiwa pembegalan.”
Kedua tangan Clarita pergi menutup mulutnya dengan mata yang mulai berkaca-kaca.
“Maafkan aku karena membuatmu harus mengingat tragedi itu dokter.”
“Tidak apa-apa, kamu gak sala…”
Ketika Noam melihat Clarita dengan baik, ia menyadari kalau gadis ini masih belum sepenuhnya lepas dari rasa kesedihan atas apa yang menimpa kakaknya itu. Dengan perlahan Noam mendekat dan tangannya pergi untuk membelai kepala Clarita dengan lembut agar ia bisa sedikit tenang.
“Maaf ya, aku memancing rasa sedih darimu tanpa memikirkan kalau kehilangan atas Ramiza belumlah hilang sepenuhnya.”
Ketika Clarita sibuk untuk menyeka air matanya agar tidak jatuh terlalu jauh smartphone miliknya bergetar yang membuat Clarita dengan refleks mengambil smartphone miliknya itu dari salah satu saku yang ada di dress miliknya. Ketika ia mengetuk dua kali layar ponselnya terlihat notifikasi dari Sunny.
“Aku masih ingat dengan bagaimana riangnya sikap dari Ramiza saat itu.”
Kalimat yang keluar dari mulut Noam yang nampaknya fokus pada gambar Ramiza yang ada di lockscreen milik Clarita membuatnya terkejut dengan hal ini.
“Apa dokter kenal kakakku semasa hidup?”
“Iya. Kami beberapa kali bertemu dan nongkrong. Nyatanya aku sangat terpukul ketika mengetahui kabar kematian darinya. Aku tidak menyangka perempuan sebaik dia harus pergi dalam tragedi yang mengerikan itu. Aku bersumpah, kalau aku dapat menemukan pelakunya aku akan…”
Suaranya terhenti dengan wajah yang menahan rasa amarah dan tangan yang mengepal erat namun di saat yang sama sebuah pelukan hangat mendarat ke tubuh Noam yang ternyata datang dari Clarita. Kini air mata benar-benar jatuh dan mulai membasahi pakaian Noam ketika Clarita menangis dan mengubur wajahnya di dada dokter itu.
“Kita sangat kehilangan dirinya, dan aku paham itu Clarita. Jadi mari kita tegar agar Ramiza tidak bersedih.”
Suara Noam pelan saat ia membisikkan kalimat itu pada Clarita dengan tangan yang membelai rambut pirang miliknya yang halus bak sutra. Setelah Clarita kembali tenang, ia dengan pelan melepaskan kedua lengannya yang memeluk erat tubuh Noam sedari tadi. Ia berusaha untuk kembali duduk di sofa namun ketika ia kembali mengingat momen di mana ia dengan berani memeluk tubuh seorang pria yang ada di hadapannya itu, membuat dirinya menjadi salah tingkah dengan pipi yang menjadi merah padam.
Namun untuk selebihnya mereka habiskan dengan perbincangan yang lebih ringan dan hangat hingga pada saat waktu pulang, hati Clarita masih saja berdebar kencang walaupun ia telah sampai di rumahnya dan kembali melempar tubuhnya di atas kasur. Otaknya dengan sengaja memutar rekaman saat ia memeluk tubuh kekar dari Noam, dan harum khas dari tubuhnya yang membuat pipinya hangat. Ia hanya bisa merespon dengan menendang-nendang kasur untuk mengalihkan pikirannya namun tetap saja tidak bisa. Ia benar-benar jatuh cinta pada Noam.
Sabtu, 25 April 2020, pukul 10.10 pagi
Sudah lima hari lebih Clarita dan Noam bertemu dan saling kenal, baik di luar maupun saat Noam kembali mengajak Clarita untuk datang ke rumahnya lagi seperti terakhir kali. Namun Clarita masih tidak bisa melupakan apa yang terjadi terakhir kali sehingga karena ia tak mau mati karena malu Clarita sering mengajak Noam yang pergi untuk nongkrong ataupun ngedate di luar. Selama lima hari itu pula lah Sunny harus meladeni Clarita yang sering meneleponnya untuk mendapatkan saran ataupun saat Clarita hanya ingin berbagi apa yang telah ia lalui bersama pria yang membuat Clarita mabuk kepayang ini.
Karena alasan itu pulalah hari ini, Sunny berencana untuk menemani Clarita pergi kembali ke kediaman pria yang disukai temannya ini. Sekalian Sunny ingin mencari jawaban atas seberapa benarkah berita yang sering Clarita beritahu padanya. Dari cerita Clarita, pria yang ia sukai ini adalah seorang dokter namun bekerja sebagai mortician. Dalam hatinya Sunny tidak bisa membayangkan bagaimana penampilan dari pria yang bekerja sebagai mortician ini bisa membuat hati sahabatnya itu menjadi mabuk akan asmara.
Sunny datang pertama dan duduk di dalam kafe tempat ia dan Clarita bertemu dulu. Jadi sekarang Sunny hanya harus menunggu Clarita datang sebelum mereka berdua pergi ke tempat si pria ini. Karena tidak ingin bosan menunggu, Sunny memesan sepotong cake dengan varian rasa red velvet dan ketika suapan pertama belum sempat masuk mulut, Clarita telah masuk ke dalam kafe dan bergegas pergi ke tempat Sunny duduk.
“Maaf ya Sunny. Aku sedikit terlambat karena dandan sampai lupa waktu.”
“Aku bisa liat sih, kamu dandannya sangat niat sekali loh Clarita. Segitunya kamu ingin membuat pria ini jatuh hati padamu?”
Senyum kecil tak tinggal pada sudut mulut Sunny ketika ia menggoda sahabatnya itu dengan kejahilan kecil. Tentu saja Clarita tidak bisa melawan balik ucapan dari Sunny karena yang ia katakan itu memang ada benarnya. Ia harus menghabiskan kurang dari sejam untuk memilih gaun yang cocok untuk hari ini dan belum lagi kalau kita membicarakan bagaimana make up yang dilakukannya hari ini. Namun semua itu tampak sepadan karena dengan usahanya, Clarita yang memang sudah cantik dari awal kini menjadi gadis yang lebih cantik lagi.
Di sisi lain, Sunny mempercepat tangannya untuk menyuap potongan cake red velvet yang ada di hadapannya ke dalam mulutnya sambil memperhatikan gerak tubuh sahabatnya yang tampak feminim dan imut ketika sedang gugup yang di mana kedua tangannya selalu menempel pada kedua pipinya dan pandangan yang tidak bisa tenang.
“Jadi Clarita, kita akan pergi ke kediaman dari…”
“Noam. dr. Noam Alwynn. Seperti yang aku ceritakan padamu kemarin malam, kalau ia menjalankan tempat rumah duka dan bekerja sebagai mortician.”
“Sampai sekarang aku tidak menyangka kalau pria pertama yang kau sukai itu adalah orang yang suka berteman dengan orang mati, Clarita.”
“Kau akan tahu alasanku ketika kita sampai disana Sunny. Jadi mau pergi sekarang?”
“Iya, aku akan membayar makananku sebentar.”
Selesai membayar makanannya mereka berdua berjalan keluar dar kafe itu dan berdiri di pinggir jalan untuk mencari taxi yang bisa mengantar mereka ke kediaman Noam yang berada di daerah pinggiran kota Central. Di momen itu sebuah ide menggelitik benak Sunny jadi ia menanyakan hal itu pada Clarita.
“Clarita, aku penasaran, apakah orang tua mu tahu soal hubungan mu dengan dokter itu ?”
Clarita menoleh ke arah Sunny dan hanya tersenyum kepadanya, “Aku belum memberitahu ayah dan Ibu soal Noam, karena aku ingin membuat kejutan pada mereka ketika hubungan kami sudah official.”
“Jadi belum ya. Kalau itu niatmu maka aku akan mendukung mu Clarita. Jadi tunggu apalagi, tembaklah ia nanti. Ungkapkan semua perasaanmu padanya.”
“Jangan bicara begitulah Sunny, kau membuatku jadi semakin gugup sekarang.”
Ucap Clarita dengan malu-malu yang dapat dilihat dari pipinya yang semakin merah merona. Karena hal itu Sunny jadi semakin semangat untuk mempermainkan dan menggoda sahabatnya itu selagi menunggu taxi yang datang. Tak butuh waktu lama bagi mereka pergi ke pinggiran kota Central dan dari arahan Clarita, taxi bergerak menuju kediaman Noam, yang juga sekaligus berupa rumah duka.
Saat keduanya turun dari taxi, si supir menginjak gas mobilnya dengan wajah yang sedikit bingung dan heran karena ada dua gadis muda yang turun ke rumah duka. Namun itu semua hanya sebuah kebingungan sesaat dan hilang setelah sang supir melihat seorang pria keluar dari rumah. Begitu melihat Noam yang keluar untuk menyapa Clarita, akhirnya Sunny mengetahui alasan kenapa sahabatnya itu menyukai seorang mortician. Itu karena mortician tersebut adalah seorang pria tampan dan rupawan dengan rambut hitam lebat dengan gaya belah tengah yang rapi, sebuah earring hitam di kedua daun telinga, wajah yang bersih dari janggut dan kumis, lalu tubuh dari pria yang gagah itu dibalut dengan kemeja hitam polos berlengan pendek dengan dua kancing atas yang terbuka memperlihatkan garis tegas pada dagu serta jakun miliknya.
“Sepertinya sekarang aku mengerti dengan alasanmu belakangan ini sering main kemari, Clarita.”
Ucap Sunny dengan nada menggoda sahabatnya itu ketika Clarita berbincang pelan pada Noam di depan pintu. Noam yang mendengar komentar dari perempuan yang tampaknya teman dari Clarita, ikut menyambung percakapan untuk menggoda Clarita lebih lanjut.
“Oh? Dan kalau boleh tau apa alasan untuk pertanyaan itu, nona?”
“Hehe, jangan begitu dokter, kau nantinya akan membuat Clarita menjadi mati karena malu jika aku beritahu jawabannya di depanmu sekarang, hehe.”
Keduanya tertawa pelan saat mereka menyadari kalau kedua pipi dari Clarita telah merah padam karena digoda oleh dua orang ini sekaligus. Setelah cukup berbincang di depan rumah, Noam selaku tuan rumah akhirnya mempersilahkan kedua tamunya untuk masuk ke dalam dan meminta mereka untuk duduk santai di ruang tamu selagi Noam ke dapur untuk mengambilkan cemilan untuk mereka. Begitu Noam balik Sunny mulai menjejali Noam dan Clarita dengan beragam pertanyaan layaknya reporter yang ingin tahu segala hal mengenai bagaimana hubungan dari kedua orang ini atau pun mengenai pribadi dari Noam itu sendiri.
“Jadi dr. Noam aku masih bingung pekerjaan sebenarnya dari seorang mortician itu apa saja.” Ucap Sunny dengan tangan yang masih erat memegang cookies yang tadi suguhi oleh Noam.
Noam diam sejenak sambil tangannya yang dengan pelan mengelus dagu miliknya sebelum akhirnya ia sepertinya menemukan sebuah cara untuk menjelaskan pekerjaannya dengan mudah kepada teman Clarita tersebut.
“Jadi nona Sunny bagaimana kalau aku membawamu ke ruang kerjaku saja agar kau mudah untuk memahami dari pekerjaanku. Bagaimana?”
“Apa boleh? Wah oke. Aku mau saja, iyakan Clarita?”
Clarita cukup terkejut dengan ajakan mendadak dari sahabatnya itu dan hanya tersenyum tipis sambil mengiyakan ajakan tersebut. Noam yang melihat hal itu menyadari kalau bisa saja dengan melihat mayat dapat membuat tubuh Clarita menjadi tidak nyaman setelah sembuh dari kesedihan yang menimpanya beberapa waktu lalu.
“Kalau kamu tidak bisa, juga tidak apa-apa Clarita. Jangan memaksakan dirimu.”
Clarita menggeleng pelan untuk meyakinkan Noam kalau ia baik-baik saja dan karena hal itu Noam akhirnya membawa mereka berdua ke ruang kerjanya yang ada di basement rumahnya. Noam menuntun mereka dari depan sambil menyalakan saklar lampu sehingga terlihat sebuah ruangan bawah tanah yang telah disulap sedemikian rupa menjadi beberapa ruangan yang terpisah-pisah. Misalnya sebagai tempat untuk membersihkan jenazah, kemudian di ruangan sebelahnya adalah ruangan untuk menyimpan jenazah yang akan dibersihkan dan yang akan dihias nantinya.
Clarita cukup takjub melihat ruangan yang asing baginya tersebut, sekaligus tubuhnya mulai merinding karena ada rasa tidak nyaman yang merangkak naik dari ujung kakinya sampai ke seluruh tubuhnya sehingga Clarita dengan tidak sadar mulai merangkul kedua tangannya di dadanya serta mengusap lengannya untuk menghentikan respon pori-pori kulitnya yang kian membuka lebar.
Berbeda dengan Clarita, Perhatian Sunny justru tertuju pada sebuah pintu yang ada di dalam kamar peyimpanan jenazah. Sebuah pintu merah dari besi dengan tulisan “Staf only” di atasnya. Layaknya kucing yang penasaran, kaki-kakinya melangkah pelan sambil mendekat ke arah pintu merah tersebut. Hingga saat tangannya hampir menyentuh gagang pintu Noam dengan suara keras mengabari Sunny soal keadaan Clarita.
“Nona Sunny keadaan Clarita sedang tidak baik, ayo kita kembali ke atas.”
“Baik.”
Keduanya pun kembali ke ruang tamu dengan Clarita yang sudah terduduk lemas di atas sofa. Kini Sunny menjadi merasa bersalah karena halnya yang membuat trauma sahabatnya kembali kambuh. Sunny hanya duduk di seberang sofa sambil memperhatikan Noam yang dengan sigap membantu dan memperhatikan segala keperluan Clarita dalam kondisi tersebut sehingga ia tidak ingin merusak momen ini untuk sahabatnya.
“Dokter, apa boleh aku menumpang kamar mandi sebentar?”
“Iya silahkan. Kamar mandinya ada di sebelah kiri tepat di seberang dapur.”
Dengan begitu Sunny berjalan meninggalkan ruang tamu. Terdengar decitan lantai kayu yang diinjak sepanjang jalan Sunny berjalan di lorong rumah ini. Ia berjalan lurus dan menemukan kamar mandinya tepat di arah yang diberitahukan oleh Noam sebelumnya, namun tepat di sebelahnya sebuah ruangan terbuka yang setelah Sunny lihat ke dalam tampaknya ini adalah ruangan kantor dari Noam. Awalnya Sunny ingin pergi begitu saja karena ia tahu kalau masuk sembarangan ke ruangan milik dari orang lain tanpa izin itu tidak boleh sama sekali tetapi satu hal menarik perhatiannya. Sebuah buku catatan kecil berwarna hitam tergeletak jatuh di lantai dan memancing rasa ingin tahunya yang membuatnya melangkah masuk ke dalam kantor tersebut.
Tangannya membolak-balik buku catatan kecil hitam itu dan ia tidak menemukan petunjuk yang memberitahu buku apa ini sehingga ia harus membuka isinya.
“Tepat tadi malam aku merasakan seperti hidup kembali… mulutku tidak habis-habisnya mencium bibirnya sampai membuatku sangat terangsang bahkan kontol ku ini tidak bisa lemas sama sekali. Dengan begitu aku melepaskan semua nafsu ini dengan memperkosa tubuhnya yang semok itu sampai puas…”
Mulut Sunny terbuka lebar setelah ia membaca sebagian dari tulisan yang ada di lembar itu namun matanya kian terbelalak saat ia membaca nama Clarita di dalam lembar buku itu yang membuat Sunny cepat-cepat menutup buku itu dan saat ia membalikkan badan ia terkejut bukan main karena menemukan pria bernama Noam itu telah berdiri di depan pintu dan dengan pelan menutup pintunya.
“Sepertinya kau menemukan hal yang tidak seharusnya kau temukan nona Sunny.”
“Ayo kita bicarakan ini baik-baik Noam. Aku berjanji tidak akan memberitahu siapapun soal masalah ini. Tetapi aku ingin kau untuk melepaskan Clarita.”
“Sayang sekali itu tidak bisa. Karena aku telah ‘jatuh cinta’ padanya.”
Noam dengan perlahan mendekat ke arah Sunny yang badannya mulai gemetar hebat meski begitu dengan seluruh keberaniannya ia berlari menerjang Noam dan melayangkan tangannya untuk menampar wajah Noam namun dengan mudah pria itu dapat menangkap tangannya dan kini mulai membiarkan tangannya melingkari lehernya. Udara semakin sedikit dan menyesakkan bagi Sunny saat Noam mulai untuk mencekik lehernya. Tangan Sunny berusaha untuk menarik lepas cengkraman Noam dan masih memberikan perlawanan terakhir dengan mencakar wajah dari noam namun semakin lama, tubuhnya terus lemas, wajahnya membiru sampai pada akhirnya Sunny tewas.
Di sisi lain Clarita yang sendirian menunggu sahabatnya dan Noam yang tak kunjung kembali mulai khawatir. Ia bangun dari sofa dan berjalan ke arah lorong dan baru saja berjalan ia menemukan Noam dengan bekas luka seperti cakaran di wajahnya.
“Noam apa yang terjadi pada mu? Dan di mana Sunny?”
Noam diam tanpa bersuara menjawab pertanyaan dari Clarita. Kedua lengannya mulai bergerak untuk merangkul tubuh Clarita dan membenamkan wajahnya di dalam dekapannya. Tentu saja hal ini membuat Clarita menjadi bingun atas apa yang terjadi.
“Clarita, aku jatuh cinta padamu. Pada saat melihat senyummu pertama kali membuatku menginginkanmu.”
Pengakuan cinta dari Noam yang tiba-tiba hanya menambah kebingungan dari Clarita yang sama sekali tidak mengerti keadaannya.
“Noam apa yang kau bicarakan ini? Tolong jelaskan dulu di mana Sunny dan apa yang terjadi pada mu…”
“Itu tidaklah penting sekarang, yang penting tidak ada lagi yang mengganggu kita berdua Clarita.”
Insting Clarita berteriak hebat di dalam dirinya yang membuatnya secara refleks mendorong tubuh Noam menjauh dan akhirnya Clarita dapat melihat wajah dari pria yang ia cintai itu. Nafas yang terengah-engah dengan senyuman yang membuat tidak nyaman dengan mulut yang terbuka lebar dengan bibir yang ditarik sampai ke atas dengan sepasang mata yang melotot tanpa terpejam sama sekali.
“Jangan melawan Clarita aku akan mengakhiri penderitaan mu dengan singkat, setelah itu kita akan bercinta sampai puas.”
“Apa yang yang kau bicarakan dasar aneh.”
Clarita berusaha untuk lari ke arah pintu namun semua sia-sia karena Noam dengan cepat menarik lengannya dan mendekapkan sebuah kain yang menutup sistem pernapasannya sehingga membuat Clarita tidak sadarkan diri.
??, ??-??-??, ?? ??
Clarita akhirnya kembali tersadar namun ia sama sekali tidak bisa melihat apa-apa. Padahal ia yakin kalau sekarang ia telah membuka matanya namun rasanya seperti ada sesuatu yang menutupnya. Begitu saat hendak menggerakkan keduanya tangan dan kakinya ia merasakan kalau hal itu kini sedang diikat sehingga ia sama sekali tidak bisa bergerak dan saat ia ingin berteriak mulutnya seperti sedang dibungkam oleh sesuatu yang membuatnya tidak bisa mengeluarkan suara sama sekali.
“Plap… Plap…. Plap… Plap…”
Suara itu terus terdengar dan terdengar begitu dekat dengannya dan beberapa kali ia mencoba memberontak sehingga terdengar suara decitan dari kursi yang menahan dirinya saat ini. Di dalam hatinya ia sangat ketakutan dan membiarkan air mata untuk terus jatuh di dalam rasa takut. Setelah berulangkali memberontak dengan menggerakkan tubuhnya yang terikat tersebut hingga akhirnya entah dengan keberuntungan apa, simpul yang membalut penglihatannya kini mulai kendur dan perlahan terjatuh sehingga mata kirinya akhirnya bisa melihat kembali.
Namun yang dilihat bukanlah sesuatu yang bagus. Di dalam ruangan yang gelap dengan satu cahaya redup dari satu lampu yang di gantung di atas, Clarita melihat tubuh Noam yang telanjang bulat sedang memperkosa tubuh dari sahabatnya itu di atas sebuah kasur.
“Hmpf… Hmphh…”
Noam berhenti dan melirik ke arah Clarita yang terikat di sebelah kasur. Ia mencabut penisnya dari dalam vagina gadis yang ada di hadapannya saat ini dan duduk di atas kasur menghadap langsung pada Clarita.
“Akhirnya kau bangun juga sayangku. Aku sudah bosan dengan nona Sunny jadi mari kita mulai untuk bercintanya.”
“Hmpf… hmphhh…”
“Wow tenanglah sayang, aku tidak tahu apa yang sedang kau katakan sekarang. Tapi aku tau kalau kau sedang marah saat ini.”
Noam mulai mengambil gunting yang ada di dekatnya untuk merobek pakaian yang dikenakan oleh Clarita sampai ia juga mengunting bra hitam dengan motif bunga itu darinya lalu hal yang sama ia lakukan dengan celana dalamnya. Air mata semakin deras mengalir membasahi pipi Clarita dan matanya tak sanggup melihat adegan di mana ia sedang di telanjangi oleh pria yang akan melahap tubuhnya ini.
“Jangan menangis sayang. Aku tidak tertarik pada tubuh hidup mu ini. Jadi aku akan melepaskanmu dari penderitaan ini secepatnya. Sama seperti mayat Sunny di sebelah sana.”
Ucap Noam sambil menunjuk mayat Sunny yang masih tergeletak di atas kasur yang membuat Clarita menjerit tak menentu dalam bungkamannya. Rasa takut kian membesar saat kedua tangan Noam mulai melingkar ke lehernya dan mulai mencekiknya kuat-kuat. Tubuh Clarita memberontak mencoba membebaskan dirinya dari ikatan yang mengekang tubuhnya namun itu semua tampak sia-sia karena Noam mulai mengencangkan cengkraman tangannya untuk memutus seluruh oksigen dan aliran darah dari tubuh menuju otak sampai akhirnya Clarita tewas karena sesak nafas.
Begitu nafas terakhir telah berhembus dari Clarita, Noam langsung melepas semua ikatan yang mengikat tubuh gadis malang tersebut. Ia memindahkan jasad Clarita ke atas kasur dan dengan perlahan membelai rambut pirang panjang miliknya, serta dengan tanpa membuang-buang waktu ia memperkosa bibir yang masih hangat tersebut dengan ciuman yang sangat ganas dan penuh nafsu. Tangannya berjalan memetakan seluruh lekuk tubuh molek dari Clarita dengan nafas yang berat dan terngah-engah.
Jari-jarinya mulai memainkan puting payudara gadis itu dengan mencubit serta menariknya dengan tangan kanan yang pergi menelusuri selangkangannya. Jari tengah dan manis miliknya perlahan masuk untuk membelai g-spot miliknya yang setelah diberikan rangsangan yang cukup tubuh gadis tak bernyawa itu akhirnya mencapai klimaksnya. Dengan begitu Noam mulai membuka lebar kedua paha dari jasad itu dan memasukkan penisnya dan dengan kegirangan menggenjot tubuh yang mulai dingin itu sampai puas.
Kamis, 16 Juli 2020 pukul 7.00 pagi
“Tet…. Tet….. Tet….”
Suara alarm terus berdering nakal tanpa henti di samping tempat tidur Noam yang sedang berusaha untuk kembali tidur namun tidak bisa karena terganggu dengan suara bising yang terus berbunyi tanpa henti. Dengan malas tangan Noam mencoba meraih alarm dan akhirnya bisa mematikannya. Ia mengerang panjang ketika harus keluar dari selimut yang membungkus tubuh telanjangnya. Sebentar ia melihat ke tempat tidur dan tersenyum kecil saat ia melihat tubuh dari jasad Clarita yang telah ia awetkan dan masih ia ajak bercinta semalaman penuh masih terbaring kaku di atas tempat tidur.
Suara bel pintu terdengar dan terus berulang kali di pencet oleh orang yang menghampiri kediamannya ini di pagi buta. Dengan raut wajah kesal, Noam turun dari kamarnya dengan mengenakan celana pajamanya saja dan pergi menghadap orang yang sedari tadi memencet bel pintu dengan telanjang dada. Begitu ada di depan pintu tangan Noam menarik pintu dan memperlihatkan seorang pria dengan rambut putih seputih salju dengan wajah dinginnya ia memperlihatkan lencana kepolisian miliknya.
“dr. Noam Alwynn, saya Detektif Kingsla Albanero dengan ini menangkap anda atas dosa-dosa yang telah anda lakukan selama ini.”
***TAMAT***
ABNORMAL SOCIETY SERIES
Chapter : Mortician











Komentar
Posting Komentar