SOLARIS
SOLARIS
Karya : Ahmad Tetsuya
Alkisah ketika ia masih sebuah debu
Mengembara panas lalu menyatu
Amerta ia lama menunggu
Bahkan kala tiada yang tahu.
Adapun kini ia menjelma dari debu
Menjadi bagaskara megah yang satu.
Para kawula membutuhkan binarnya
Para Firaun menyembah wujudnya
Para cendekiawan mempelajari dirinya
Seniman dan sastrawan melukiskan kemolekan
Dari ia yang tak pernah bosan menonton sandiwara
Untuk ratus abad lamanya.
Apabila buana menggelinding padanya
4 raja datang dan berlalu selalu sama
12 anggota keluarga silih berganti memaksa
Kawula mengais pada 24 tawa menyiksa
Meminta mereka berdiri tegak pada pancaroba
Sampai masa menatap mereka pada amerta.
Dan di bawah binar terik sang surya
Kawula muda saling mencinta
Menabur gula pada lidah yang terbuka
Sebelum getir masuk dan merasuk ke atma
Pada saat masuk kepala dua
Binarnya tak lagi dipandang sama.
Bicara tentangnya, mari bicara hal yang niskala
Sang penonton amerta dan wajah di baliknya
Adakala ia lembut, hangat dengan arunika
Adakala ia tajam, membakar yang samar pada jiwa
Adakala ia indah, menawan dengan lembayung manja
Adakala ia megah, mempesona saat lunar berdansa bersama.
Diakhir kisah sebelum jendera
tiada yang kamil pada buana
Bahkan pada semesta angkasa raya
Bahkan solaris, sang konduktor anindita
Akan lenyap tak bersisa
Mengakhiri semua tanpa ada koma.











Komentar
Posting Komentar