Secret Society Series Vol II : Swampfield
SECRET SOCIETY SERIES
VOL II : SWAMPFIELD
“Ketakutan mendasar dari manusia adalah ketakutan akan kehilangan sesuatu yang dimiliki”
Bab I : Festival Tahun Baru
5 Januari 2020, pukul 8.30.
Pagi ini langit tampak tak terlalu bersahabat, dan mentari bersembunyi di balik megahnya awan hitam yang menutup tirai dari sang surya. Dari balik jendela sebuah mobil mini Van yang melaju lurus milik keluarga Celeste, sebuah raut wajah bosan tergambar jelas dari anak sulung mereka. Seorang remaja laki-laki yang sedang masuk dalam usia pubertasnya menatap ke arah ilalang yang hilir mudik berganti dan sesekali ia melirik ke arah hutan rawa yang ada di sepanjang jalan. Jemarinya mengetuk kaca dari jendela mobil berulang kali untuk menyibukkan diri.
“Dalton, jangan murung begitu. Ibu tau kalau kamu sudah punya rencana di tahun baru ini bersama pacarmu. Tetapi liburan keluarga ini sudah kita persiapkan dari jauh-jauh hari. Lagipula kakekmu ingin melihat kabar dari cucu-cucunya”.
Terdengar suara helaan nafas yang pelan dari kursi belakang dan tak lama kemudian remaja yang bernama Dalton tersebut menanggapi penjelasan ibunya, “Aku tidak murung. Hanya saja, mungkin aku hanya kepikiran dengan Alisha sedikit, itu saja”.
Sontak tawa dengan suara besar meletup dari kursi pengemudi, si ayah tidak tahan melihat tingkah anak remajanya yang sedang terkunci dalam asmaralokanya. Disisi lain Ghina, adik perempuan Dalton sedang asyik bermain dengan boneka beruangnya. Untuk mengurangi rasa bosan mereka dalam perjalanan, Alben, si ayah memutar radio dan menyetelnya pada siaran berita.
“Selamat pagi pemirsa semua, saya Jimmy, di sini saya akan menemani pagi anda semua dengan berita hangat yang terjadi di daerah Swampfield. Berita terbaru hari ini datang pada daerah Iehat. Kemarin malam sebuah pabrik pupuk meledak di daerah luar kota Iehat, dikarenakan hal tersebut pemadam kebakaran mengeluarkan 10 unit truknya dan membutuhkan waktu sekitar 4 jam untuk memadamkan sepenuhnya. Sampai saat ini, pihak kepolisian terus mencari penyebab kebakaran tersebut namun dugaan sementara adalah karena adanya gangguan arus listrik.”
“Kedengarannya cukup berbahaya keadaan di sana.”
“Iya, kuharap tidak terjadi hal-hal yang mengerikan.” Emma melirik ke arah suaminya yang sedang mengemudikan kendaraan dengan senyuman yang menggoda.. Tangannya mengambil sepotong roti dan menyuapkan roti tersebut ke mulut Alben. “Papa, ini rotinya dimakan. Nanti rotinya jadi gak enak lagi loh”.
“Hehe terima kasih ya mama.”
Disaat suami istri itu bermesraan, kedua anaknya yang duduk di kursi belakang hanya bisa menonton dengan perasaan yang sedikit canggung. Namun itulah kehidupan keluarga mereka, Dalton mempunyai orang tua yang saling mencintai bahkan tak sungkan untuk memperlihatkan kemesraan mereka di hadapan anak-anaknya. Kemudian anggota keluarga terkecil dari keluarga Celeste, ia adalah Ghina Celeste yang kini telah genap berusia 9 tahun, namun bagi Dalton, adiknya tersebut kadang suka bertanya ataupun mengatakan hal yang tidak jelas. Sepertinya halnya beberapa hari yang lalu, ia berkata pada Dalton bahwa Ghina ingin pergi ke taman hiburan di Summer Island. Sungguh aneh bagi Dalton karena dalam sepanjang hidupnya ia tidak pernah mendengar pulau dengan nama seperti itu. Walaupun demikian Dalton hanya beranggapan bahwa adik kecilnya itu memiliki imajinasi yang kuat.
Lepas dalam lamunannya Dalton kembali menatap keluar jendela dan ia melihat palang selamat jalan dari kota Rabat. Setelah setengah jam meninggalkan daerah perkotaan mereka baru sampai di perbatasan kota antara kota Rabat dan kota Paulus. Wilayah Swampfield sendiri memang terkenal sebagai wilayah bagian yang terluas di negara Venti, dengan kota Rabat sebagai ibukotanya. Sama seperti namanya, daerah Swampfield terkenal sebagai daerah yang memiliki hutan rawa yang masif. Hutan rawa tersebut mencakup banyak kota kecil di daerah Swampfield, mulai dari sebelah utara, kota Paulus yang menjadi tujuan utama dari keluarga Celeste kali ini. Kemudian di daerah timur dari kota Rabat yang berada di tengah, adalah kota Boloto, lalu di sebelah tenggara adalah kota Numac, selanjutnya di sebelah barat kota Rabat, adalah kota Moeras, dan terakhir di arah barat laut, adalah kota Iehat.
Hutan rawa yang ada di daerah Swampfield bisa dibilang hampir mengelilingi sebagai besar daerah tersebut. Dengan sebuah danau besar yang berada di utara yang dikenal sebagai danau terbesar kedua di negara Venti, danau tersebut bernama danau Sorgenti. Hutan rawa di daerah Swampfield terus basah karena ada dua sungai besar yang membasahi dan terus membanjiri wilayah rawa tersebut baik di sebelah timur maupun barat yang terhubung langsung dengan danau Sorgenti.
Semenjak masuk ke perbatasan kota Paulus, hutan rawa yang tampak di sepanjang jalan berdiri dengan kokoh dan sangat rapat seperti sebuah tirai yang menyembunyikan sesuatu dibaliknya. Hari pada saat itu memang sudah mendung dan kabut tipis mulai menyelimuti hutan rawa yang kian menutupi wajahnya. Tangan kecil milik Ghina menggapai lengan baju Dalton dan memberikan tanda dengan tangannya untuk mendekat. Walau agak bingung dengan apa yang Dimau oleh adiknya, Dalton tetap mendekat dan membiarkan Ghina berbisik di telinganya.
“Bang Dalton, tadi aku liat rusa gede di hutan tadi. Apakah itu wajar?”
“Rusa?”
Dalton memperhatikan wajah adiknya dengan teliti dan terlihat sekali bahwa ia sedang ketakutan. Hal itu membuat Dalton penasaran dengan apa yang baru saja dilihat oleh adiknya itu. Namun sebagai abang yang baik, Dalton berusaha untuk bersikap positif agar adiknya merasa sedikit tenang.
“Memang ada beberapa jenis rusa dengan ukuran yang besar, bahkan ada yang sebesar mobil.”
Be... Begitu ya. Tapi apa mereka bisa berdiri dengan dua kaki?”
Alis mata Dalton sedikit terangkat dan pupil matanya melebar mendengar pertanyaan yang diajukan oleh adiknya. Ia mulai ragu apakah adiknya benar-benar melihat seekor rusa atau malah hal yang lainnya. Sekali lagi ia mencoba untuk menenangkan adiknya dengan berbisik di telinganya, mengatakan bahwa mungkin adiknya hanya salah lihat dan memandang struktur pohon menjadi sebuah makhluk hidup.
Mobil mereka terus melaju dengan kecepatan yang sedang, sekitar 60-70km per jam, dan keadaan di dalam mobil terasa hangat dengan perbincangan keluarga yang harmonis. Seketika seekor rusa melompat ke jalan dan menerjang sisi kiri mobil keluarga Celeste dengan sangat keras, menghempaskan mobilnya cukup kuat sampai membuat mobil tersebut keluar dari badan jalan. Emma, dan Ghina berteriak histeris pada saat kejadian dan membuat mereka berdua sedikit terguncang.
“Apa yang terjadi?”
Alben membuka pintu mobil dan keluar dari kendaraan melihat kondisi mobil mereka saat ini. Setelah di periksa dengan keseluruhan ia hanya mendapati bahwa hanya bagian pintu di sisi kiri mobil yang penyok akibat benturan. Tak lama kemudian Emma membawa anak-anaknya keluar dari mobil untuk menenangkan diri setelah insiden tersebut. Dalton berjongkok di tepi jalan sambil mengatur kembali nafasnya dan berusaha untuk menenangkan bulu kuduknya yang berdiri.
“Ayah, rusanya...”
Suara Ghina terputus dengan perlahan ketika ia menunjuk ke arah seberang jalan, di mana rusa yang mereka tabrak tadi masih hidup, namun dengan kondisi leher yang telah patah sehingga bagian kepalanya hanya bisa terkulai tak berdaya ke arah bawah. Emma menutup mulutnya dengan rasa tidak percaya melihat hal aneh yang terjadi pada rusa tersebut dan seakan ada yang tidak beres padanya.
“Sayang, bukannya luka seperti itu seharusnya langsung membunuhnya?”
“Entahlah sayang, mungkin karena adrenalin yang sangat kuat, rusa itu sekarang masih sanggup untuk berdiri”
Dalton menatap rusa itu dengan lekat, dan rusa yang cedera parah tersebut pun masih berdiri di seberang jalan menatap mereka dengan tatapan kosong walau kepalanya dalam keadaan terbalik. Di dalam sudut hati Dalton, ada sesuatu yang tidak beres dengan keadaan ini, sehingga ia menarik tangan ayah dan ibunya dan meminta mereka untuk pergi meninggalkan lokasi secepatnya.
Alben dan Emma mengangguk menuruti permintaan dari Dalton dengan sedikit rasa khawatir namun tanpa bertanya lebih lanjut, Emma membawa Ghina untuk masuk kembali ke dalam mobil dan Alben langsung menginjak gas dalam-dalam, membawa mereka pergi dari lokasi kejadian. Walau begitu masih ada perasaan tidak enak pada seluruh keluarga Celeste, batin mereka menjerit memberikan sinyal tidak beres dari situasi saat ini, namun masing-masing dari mereka tetap mencoba untuk berpikir positif dan mengesampingkan masalah tersebut.
Tak lama berselang, tampak dari kejauhan palang selamat datang kota Paulus telah terlihat. Suasana kotanya berbeda sekali dengan yang ada di kota Rabat, dengan arsitektur bangunan bergaya industrial yang sangat kental. Dalton dan Ghina menatap sekelilingnya dari kaca mobil dan melihat kemeriahan festival tahun baru sekaligus festival memancing yang selalu diadakan setiap tahunnya di hari kelima pada tahun baru. Anak-anak berlarian dengan antusias membawa joran di tangan mereka, sedangkan orang-orang tuanya berbincang-bincang perihal umpan apa yang akan mereka gunakan dan saling bersaing untuk mendapatkan juara tahun ini.
Mobil keluarga Celeste tidak langsung berhenti di tempat festival berlangsung, melainkan mereka singgah terlebih dahulu ke rumah orang tua Alben. Letaknya tidak jauh dari pusat festival, hanya memerlukan 5 menit berjalan kaki. Setelah berbelok masuk ke dalam perkarangan rumah yang luas, Alben memberhentikan mobilnya dan langsung turun dari mobil. Ia menarik nafas panjang seakan-akan menghirup kembali udara nostalgia yang telah lama ia tidak rasakan.
Dari dalam rumah kayu yang tampak megah dan luas walau hanya terdiri dari 2 lantai, seorang laki-laki paruh baya dengan keriput yang sudah tergambar jelas pada wajahnya yang memberitahukan pada dunia betapa kerasnya ia telah menjalani hidup keluar dari rumah dan tersenyum melihat sebuah mobil terparkir di halaman rumahnya.. Lelaki tua itu tersenyum lebar dan langsung berjalan tergesa-gesa menghampiri Alben dan langsung memeluknya erat-erat.
“Senang bertemu lagi denganmu Alben.”
“Lama tak bertemu ayah, bagaimana kondisimu? Apakah kau sehat?”
“Haha, walau ayahmu sudah tua begini. Tapi aku masih sehat-sehat saja kau tau haha. Dan Emma lama tidak bertemu denganmu.”
“Iya ayah, lama tidak bertemu juga.”
“Dan ooh lihat cucu-cucu ku ini, kalian sudah tumbuh dewasa sekarang.”
Tawa bahagia terdengar jelas dari Lelaki tua bernama Charles itu. Di elus-elusnya kepala Dalton dan Ghina sampai membuat rambut mereka sedikit berantakan. Dengan perasaan gembira Charles membawa keluarga anaknya untuk masuk ke dalam rumah dan beristirahat sejenak di dalam setelah melakukan perjalanan yang cukup jauh.
Di dalam rumah, Charles membawa keluarga anaknya masuk dan membiarkan mereka beristirahat sejenak di ruang tamu sedangkan ia pergi ke dapur untuk mengabari istrinya, Evelin bahwa anak mereka telah tiba. Tak lama seorang perempuan yang sudah berusia melangkah masuk ke dalam ruang tamu, matanya berkaca-kaca melihat sosok Alben yang sudah lama ia rindukan. Tangannya yang sudah rapuh gemetar dengan hebat ketika Evelin memeluk anaknya itu. Setelah puas melepas rindu pada sang buah hati, kini perhatiannya tertuju pada menantunya yang cantik dan selalu setia menemani anaknya.
“Emma, kau nampak bertambah cantik sekali.”
Pujiannya tulus dan ia memperlakukan Emma layaknya anaknya juga. Hati Emma merasa hangat mendengar pujian dan sifat lembut dari mertuanya. Dipeluknya erat-erat wanita tua tersebut sambil mengatur kekuatannya agar tidak melukai wanita yang sedang rapuh itu. Setelah melepas rindu pada menantunya, Evelin terdiam sejenak melihat anak-anak dari Alben dan Emma yang hampir 5 tahun tidak ia lihat. Sekali lagi hatinya terasa hangat mengetahui bahwa cucu-cucunya telah tumbuh besar menjadi remaja yang tampan dan cantik.
Setelah itu Keluarga besar Celeste berkumpul dan berbincang-bincang untuk melepas rindu yang tak tertahankan sekian lama. Disisi lain saat orang-orang tua sedang sibuk mengobrol, Dalton dan Ghina berkeliling di rumah kakek-neneknya. Walau tidak terlalu antusias, Dalton tetap sengaja mengikuti Ghina kemana pun ia melangkah pergi menjelajahi setiap sudut rumah yang besar ini. Mulai dari dapur yang luas dengan perlengkapan dapur yang tertata rapi dan lengkap, lalu ke arah garasi yang terpisah dari rumah utama dan berada di sebelah rumah. Pada saat mereka masuk ke dalam, terlihat sebuah sampan kecil yang terparkir di sana, di atas sebuah gerobak agar mudah dibawa. Lalu pada dinding garasi, selain terdapat peralatan mekanik juga tergantung sebuah senapan angin yang mungkin saja digunakan untuk berburu.
Puas menjelajahi garasi, Dalton dan Ghina kembali ke dalam rumah namun perhatian Ghina teralihkan dengan pemandangan di belakang rumah kakeknya ini. Dibukanya pintu belakang dan terlihat sebuah halaman luas yang langsung mengarah pada hutan rawa. Ghina terdiam mematung menatap lekat ke arah dalam hutan. Samar-samar di sudut matanya, ia dapat melihat sesuatu yang bergerak. Bukan sebuah daun atau ranting yang disapu angin, melainkan sesuatu yang berusaha untuk merayunya agar masuk ke dalam hutan. Diperhatikannya lebih lekat kali ini dan benar ia melihat sebuah tangan yang putih pucat dari balik batang pohon, mengisyaratkan untuk datang mendekat.
Tubuh anak 9 tahun itu kaku, pupil matanya membesar dan pori-pori kulitnya melebar yang membuat rambut halus pada lengannya berdiri seketika. Ia ingin lari tapi tak bisa, dan ia ingin berteriak namun bisu seribu bahasa. Tiba-tiba dari belakang tubuhnya, sebuah tangan berkontak langsung menyentuh bahu dari Ghina yang membuat tubuhnya melompat karena terkejut. Kepalanya berpaling dan dengan segera nafas yang sedari tadi tertahan akhirnya lepas juga saat ia melihat sosok yang ia kenal, yakni abangnya sendiri.
“Ghina kau ngapain di sini sendirian? Ayah dari tadi mencarimu. Ayo kita ke festival sekarang.”
Ghina hanya diam tetapi pada matanya dan ekspresi wajahnya Dalton mengetahui bahwa adiknya kini sedang berusaha untuk tidak menangis. Kedua lengannya merangkul dan memeluk Dalton dengan sangat erat, ia membenamkan wajahnya ke dada abangnya, dan tangannya bergetar hebat. Saat Ghina yang mendadak memeluk dirinya membuat Dalton menjadi bingung sendiri akan apa yang baru saja terjadi. Tapi dengan cepat Dalton mungkin bisa menebak apa penyebabnya. Ia merasakan hal yang tidak beres pada lokasi mereka saat ini. Dengan cepat Dalton membawa adiknya masuk kembali ke dalam rumah dan menenangkannya.
Emma yang sedari tadi mencari anak-anaknya menemukan mereka di dapur dengan Dalton mengelus-elus rambut halus dari Ghina yang sibuk membenamkan wajahnya pada dada abangnya.
“Kalian kenapa? Apa kalian baru saja berantem tadi?”
Dalton menggeleng pelan sambil terus menenangkan Ghina, “Tidak apa-apa Bu. Ghina hanya terjatuh di halaman belakang tadi. Dan untungnya dia tidak terluka.”
Helaan nafas lega keluar dari Emma mengetahui bahwa tidak ada yang terjadi pada anak-anaknya. Emma mengangkat Ghina dan menggendongnya di lengannya, dan memberitahu Dalton untuk segera pergi ke dalam mobil karena mereka akan pergi ke festival sekarang. Tanpa bertanya panjang lebar keduanya langsung pergi keluar dan masuk ke dalam mobil. Mereka melambaikan tangan pada Charles dan Evelin yang sengaja untuk tidak ikut karena Charles ingin mengantarkan istrinya untuk pergi berobat nanti. Sebelum benar-benar berangkat ke festival, hati Alben terasa sangat berat saat ia melambaikan tangannya. Ini bukanlah sebuah perpisahan yang berlangsung selamanya, mereka hanya pergi sebentar ke festival dan akan kembali lagi untuk makan malam bersama.
Tak butuh waktu lama untuk sampai ke lokasi festival dan saat mereka sudah masuk ke dalam lokasi festival, suasana yang meriah benar-benar terasa. Festival tahun baru ini dilaksanakan di taman kota Paulus, yang walaupun tidak sebesar taman kota di Rabat tetapi tetap menyuguhkan pemandangan yang sangat indah dalam banyak artian. Hari yang masih mendung, memblokir sorot langsung dari mentari yang mungkin dapat mencerahkan suasana pada hari tersebut. Namun begitu antusias warga dalam mengikuti festival tetap sama, mereka berkumpul di tepian sungai yang membelah taman kota ini menjadi dua bagian. Diketahui juga bahwa sungai ini juga peranakan dari sungai utama yang mengarah langsung pada danau Sorgenti.
Berjalan di belakang keluarganya, Dalton mengamati sekeliling bahwa banyak stan-stan yang menjual beraneka macam hal, mulai dari makanan ringan, makanan dari olahan ikan, sampai beberapa kerajinan tangan. Ia melihat bahwa ayahnya lah orang yang paling antusias di festival ini.
“Sayang, mari kita pergi ke stan sebelah sana, aku lihat mereka menjual bakso ikan di sana.”
“Hehe, tenanglah suamiku. Aku tau kalau kau sangat menyukai bakso ikan, tapi kelakuan mu itu seperti anak kecil saja hehe.”
Alben melirik ke arah anak-anaknya dan dengan segera menutupi rasa bersemangatnya dengan bersikap dewasa. Alben menyadari bahwa Ghina yang berdiri di sebelah Emma, menggenggam tangan ibunya itu dengan erat namun ekspresi wajah yang muram, seakan merasa tidak tenang berada di sini. Sebagai ayah yang baik Alben menghampiri anak bungsunya, berjongkok di hadapan Ghina hingga mata mereka sejajar.
“Ghina kenapa? Apa Ghina bosan dengan festivalnya?”
Tidak ada respon dan Ghina hanya diam sambil melihat ke bawah. Di belakang, Dalton sudah tahu jawaban dari pertanyaan ayahnya itu, ia ingin memberitahunya namun di dalam hatinya ia takut bahwa itu akan merusak hari liburan mereka.
Dengan senyum lebar di wajah Alben, ia mengangkat Ghina dan meletakkannya di pundaknya. “Bagainana kalau kita pergi ke stan di sebelah sana? Bakso ikan di sana enak loh.”
Rayuan Alben membuat Ghina sedikit membaik dan dengan senyum kecil pada wajah imutnya Ghina mengangguk, mengiyakan ajakan ayahnya untuk pergi menikmati bakso ikan yang nampak lezat di stan sebelah sana. Melihat anak perempuannya telah ceria kembali membuat Emma merasa bahagia dan senang bahwa ia mempunyai suami seperti Alben yang bisa menjadi figur ayah bagi kedua anaknya.
Keluarga Celeste duduk di salah satu bangku yang ada, di atas meja terdapat botol saus, kecap, dan sambal cabai, kemudian hal yang menarik perhatian Alben pertama kali ialah lembar manu yang disiapkan. Pada dalam menu yang disediakan ada bakso ikan biasa, mie ayam bakso ikan, bakso ikan bakar, gulai ikan dengan bakso ikan. Mengingat cuaca yang mendung Alben dan Emma memutuskan memesan mie ayam bakso untuk keluarga mereka. Seorang pelayan yang berdiri di sebelah meja mencatat pesanan mereka.
Tak lama pesanan mereka telah datang ke hadapan mereka. Uap mengepul, merayu indra penciuman dan merangsang mulut untuk memproduksi lebih banyak liur. Dalton tidak sadar bahwa air liur telah keluar dari sudut mulutnya, disebabkan dari aroma mie ayam bakso ikan yang menggoda. Emma yang pertama kali memulai, di tuangkannya beberapa sendok teh sambal cabai pada mie ayamnya, kemudian ditambah dengan sambal yang sesuai dengan keinginannya. Setelah itu ia mengaduk keduanya agar bercampur rata dengan kaldu dari mie ayamnya dan ketika ia mulai menyeruput kaldu yang kaya itu reseptor perasanya menjerit dalam kenikmatan.
“Mmm mungkin ini mie ayam yang paling enak yang mama pernah rasakan.”
Mendengar respon positif tersebut membuat kedua anaknya ingin cepat-cepat mencicipi makanan mereka masing-masing. Dan memang benar bahwa mie ayam bakso ikan tersebut merupakan suatu keajaiban dunia kuliner yang pernah mereka rasakan. Apalagi bakso ikannya yang kaya akan rasanya, gurih ditemani dengan kaldu yang umami.
Senyum kecil tergambar dari sudut bibir Alben, hatinya senang dan lega karena ia bisa menikmati momen-momen indah seperti ini dengan keluarganya setelah biasanya ia berkutat dengan pekerjaannya yang penuh dengan tekanan dan rasa stres. Namun kebahagiaan Alben berubah menjadi kebingungan ketika ia melihat orang beramai-ramai mengelilingi sesuatu.
Bab II : ....... Ku Hilang.
5 Januari 2020, pukul 13.04.
Alben begitu penasaran dengan apa yang sedang terjadi, ia meminta Emma untuk tetap di posisinya dan menjaga anak-anak, sedangkan ia pergi ke kerumunan orang-orang. Begitu sampai Alben melihat seorang pria yang berteriak histeris, orang-orang berusaha memegang tubuh pria itu kuat-kuat untuk menenangkannya, namun ia terus memberontak, berteriak dan bahkan tantrum mengatakan hal yang tidak jelas maksudnya.
“LEPASKAN AKU! Kabut itu datang. Biarkan aku pergi dari sini, aku ingin hidup. Lepaskan aku! Aku tidak ingin MENGGILA seperti mereka.”
Alben menyadari bahwa pria tersebut histeris bukan karena marah pada orang-orang yang berusaha memegang lengannya, tetapi lebih kepada histeris karena ia takut pada sesuatu yang membuatnya trauma berat. Alben mendengar bisikan dari orang yang ada di sebelahnya bahwa pria tersebut merupakan salah satu pemburu dari kota Iehat. Karena pria tersebut menyinggung soal kabut, sontak membuat Alben teringat dengan kabar yang ia dengar pagi ini mengenai kabut yang menutupi kota Iehat karena mengalami kebocoran gas kimia.
Dengan segera Alben kembali menghampiri keluarganya yang masih menunggu di stan bakso ikan tadi. Wajah Emma mulai menunjukkan rasa khawatir mengenai apa yang terjadi dan dengan segera Alben menjelaskan pada dirinya. Alben berpendapat bahwa orang yang histeris itu adalah orang yang berhasil melarikan diri dari kota Iehat sebelum kabut menutupi seluruh kota dan sekarang mungkin saja kabut tersebut mulai datang ke kota Paulus ini. Mendengar hal itu, jantung Emma mulai berdetak dengan kencang, dan rasa khawatir mulai membanjiri dirinya.
“Sayang sebaiknya kita lebih baik pulang saja ke rumah ayah sekarang. Aku khawatir, mungkin saja kabut itu benar-benar akan datang kemari.” Suara Emma serak ketika ia berbisik pada suaminya, dan Alben juga tidak ingin mengambil resiko sehingga ia menyetujui usul dari istrinya.
Emma dengan segera mengambil tangan Dalton dan Ghina digendong langsung oleh Alben si punggungnya, mereka dengan tergesa-gesa menuju tempat parkir yang ada di sebelah utara taman kota. Para warga kota Paulus masih sibuk menikmati festival tahun baru ini dan beberapa diantara mereka mulai penasaran dengan keributan yang dibuat oleh pria yang berteriak tadi.
Seketika terdengar suara dentuman yang sangat keras dari kejauhan, suara seperti benda yang jatuh menghantam air dengan sangat keras. Burung-burung mulai terlihat terbang menjauh dari arah Utara, arah di mana danau Sorgenti berada. Tidak hanya sekali, suara dentuman yang serupa kembali terdengar tidak lama setelah itu, menarik semua perhatian orang-orang yang membuat mereka langsung melirik ke arah langit dan nampak semakin banyak burung-burung yang pergi terbang menjauh. Semua orang terpaku melihat pemandangan tersebut, kaki mereka terasa berat dan kesunyian mendadak datang.
Lengan kecil Ghina mulai memeluk lingkar leher Alben dan dari punggung ayahnya, Ghina menunjuk ke arah Utara dan melihat sesuatu sedang mendekat ke arah mereka.
“Ayah, itu apa?...” suara anak kecil itu pelan namun menyimpan rasa takut yang sangat besar di dalamnya.
Fokus Alben terpecah dari melihat kawanan burung yang terbang menjauh kepada sebuah kabut yang datang dari arah Utara dengan kecepatan tinggi menelan semua apa yang ada di hadapannya dan masuk pada kabut putih tebal. Dalam pikiran Alben, mungkin inilah kabut yang dimaksud pria tadi. Sehingga tanpa berlama-lama, ia meminta Emma dan Dalton untuk segera berlari sekencang-kencangnya kembali ke rumah kakek neneknya tadi dengan keluar dari gerbang selatan. Alben sadar bahwa jika mereka tetap memaksakan diri untuk pergi ke parkiran, maka mereka akan terlambat dan kabut mungkin telah menelan mereka.
Pada saat itu, hanya keluarga Celeste saja yang berlari menjauh dari taman kota, sedangkan para warga yang lainnya mulai mengikuti tidak lama setelah mereka mendengar suara jeritan yang sangat kencang dari orang yang telah diselimuti oleh kabut tebal tersebut. Keadaan langsung dengan sekejap berubah menjadi ricuh dan tak terkendali. Orang-orang berlarian dengan panik mencari tempat berlindung terdekat berharap mendapat keselamatan. Pada saat seperti itu, Alben tetap berlari sekencang-kencangnya menuju rumah orangtuanya, dipegangnya Ghina yang ada di punggungnya dengan erat memastikan agar putri bungsunya itu tidak terjatuh.
Begitu sampai di teras depan rumah, Alben menurunkan Ghina dari punggungnya tetapi ia mendapati bahwa pintu rumah terkunci dengan rapat sehingga tidak bisa dibuka sama sekali.
“Ayah, buka pintunya! Emma? Dalton?”
Alben berteriak memanggil semua orang dengan sangat keras bahkan urat lehernya sampai kelihatan. Tangannya terus menggedor-gedor pintu berusaha untuk membuat suara gaduh yang bisa menarik orang di dalam rumah. Tak lama terdengar suara yang menyahut jawaban dari Alben namun bukan dari dalam rumah. Alben menoleh ke kanan dan ke kiri mencari sumber suara dan ia mendapati sosok Emma yang menunggu mereka di depan pintu garasi sambil melambaikan tangannya.
“Sayang, sebelah sini. Ayah sedang pergi ke rumah sakit jadi pintu rumah terkunci.” Teriak Emma memberitahukan keadaannya pada Alben
Dengan cepat Alben menggenggam pergelangan tangan Ghina dan berlari membawanya pergi. Karena jarak garasi dengan rumah utama cukup jauh membuat Ghina cukup kesulitan mengikuti kecepatan lari dari ayahnya sehingga hal tersebut malah membuat dirinya jatuh tersungkur ke tanah. Alben tetap berlari tanpa mengetahui bahwa genggaman tangannya telah terlepas pada Ghina dan ketika ia menyadari hal tersebut membuat ia menjadi panik.
“Ayah...!” teriak Ghina dalam ketakutan, pada matanya telah tampak kilas balik dari masa lalunya yang singkat. Sama pada Alben, pupil matanya melebar, membesar perasaannya bercampur dalam waktu sepersekian detik tersebut. Nafasnya sesak seakan terjerat tali, namun instingnya mendorong tubuhnya agar bisa bereaksi. Kaki kanannya melangkah dan tangannya pergi menggapai untuk memeluk Ghina dan mereka berdua di telan oleh kabut putih tersebut.
Di sisi lain, Emma telah habis berteriak memanggil suami dan putri kecilnya dari depan pintu garasi. Dalton dengan sekuat tenaganya menahan lengan ibunya itu agar tidak pergi menyusul ke sana. Perasaannya campur aduk, ia sedih, khawatir, dan takut akan hal buruk menimpa ayah beserta adiknya. Namun semua perasaan itu menghilang ketika mereka melihat sosok Alben yang berlari ke arah garasi dengan menggenggam sebuah tangan yang mereka kenali. Tetapi ada yang aneh, karena ketika Alben masuk dan menutup pintu garasi sebelum kabut masuk ke dalam garasi ia hanya diam, pandangannya menyorot ke bawah namun dari cahaya yang terpancar di matanya penuh dengan rasa amarah, kekesalan, sedih, takut, bingung dan lainnya bercampur menjadi satu.
Dalton dengan cepat menyadari satu kejanggalan lagi. Wajahnya syok, air mata jatuh menetes ke pipinya. Dengan suara yang serak dan menahan penuh rasa kesedihan ia bertanya pada ayahnya.
“Ayah, di mana Ghina?...”
Hanya dengan satu pertanyaan itu, fokus Emma beralih dari wajah suaminya ke arah tangan yang nampak kekar itu masih menggenggam sebuah tangan kecil yang halus yang masih hangat dalam benak Emma. Namun hanya itu, tidak ada lagi yang lain. Tubuh mungil yang selalu energik bermain disaat sore, lengan yang masih kesulitan ketika melempar bola pada pertandingan baseball, wajah cantik dengan senyum manis saat Emma menguncir rambutnya, kini tidak ada lagi. Pemilik tangan itu telah hilang.
Tubuh Emma gemetar dengan hebat, nafasnya mulai menjadi cepat, begitu juga dengan detak jantungnya memompa darah dengan cepat serta hormon kortisol dan adrenalin menyebar dalam tubuh menyisakan Emma berteriak dalam kesedihan mendalam. Pikirannya tidak sanggup menerima kenyataan terpahit dalam hidupnya, menyadari bahwa ia telah kehilangan putri satu-satunya. Emma mencondongkan tubuhnya pada suaminya, kedua tangannya memegang bahu Alben dengan erat sebelum ia berulang kali memukulkan tinju yang lemah pada dada Alben. Air mata Emma membasahi baju Alben saat ia membenamkan wajahnya pada dada Alben.
“Kemana anak kita sayang? Kemana dia?... Kemana putriku pergi saat di dalam kabut bersamamu...”
Tangis Emma kian menjadi-jadi ketika ia bertanya. Alben tidak bisa menjawab, ia diam seribu bahasa. Kedua lengannya mulai merangkul tubuh istrinya, satu mengusap kepala dan satu lagi mengusap bagian punggung.
“Maafkan aku Emma. Tapi... Itu diluar kemampuanku.”
Mendengar jawaban Alben, Emma dan Dalton menaruh perhatian pada Alben.
“Apa maksudmu Alben? Apa maksud dari ucapanmu itu? Aku tidak mengerti sama sekali. Dimana Ghina? Apa yang terjadi? Aku ingin tahu.”
Alben kembali diam, ia membuang muka menghindar untuk menjawab pertanyaan yang di lontarkan. Melihat hal tersebut membuat Emma naik pitam, wajahnya merah padam. Namun belum sempat berbuat apa-apa, Alben memukul bagian belakang leher dari Emma dengan sangat keras sehingga membuat istrinya tersebut jatuh tersungkur karena pingsan. Dalton yang melihat hal itu langsung merasakan ketakutan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Ia tahu bahwa ayahnya bukanlah orang yang bisa melakukan hal tersebut. Dalton paham betul bahwa Alben adalah seorang ayah yang tidak akan menggunakan kekerasan pada keluarganya. Terlebih lagi Dalton sangat yakin ayahnya tidak mempunyai keahlian untuk membuat orang pingsan seperti itu.
Insting Dalton berteriak waspada ketika ia melihat Alben mengangkat tubuh istrinya yang sedang tidak sadarkan diri ke atas sampan kecil yang ada di dalam garasi dan merebahkannya disana. Dalton hanya diam memperhatikan seluruh gerak-gerik ayahnya setelah itu, karena ia terjebak di dalam dan posisinya tidak menguntungkan sama sekali.
Alben duduk di sebuah kursi dan menghidupkan radio kecil yang mungkin sering digunakan oleh ayahnya untuk mendengarkan siaran saat mengerjakan sesuatu di dalam garasi. Disetelnya antena pada radio tersebut namun Alben hanya mendapati frekuensi statis yang kosong. Berulang kali jarinya memutar roda pada radio untuk mencari siaran namun hasilnya tetap nihil. Dengan murka tangannya menghempaskan sebuah meja dimana radio itu berada, membuat Dalton kaget melihat hal spontan tersebut. Setelah mengambil beberapa nafas panjang, Alben melirik ke arah putra sulungnya dengan lekat yang membuat Dalton menjadi sangat waspada. Ia berdiri untuk mengambil senapan angin yang tergantung pada dinding garasi, mencari kota peluru yang ia temukan pada laci di meja yang sama. Kemudian Alben mulai mengecek kondisi senapan angin lalu mengisi peluru dalam magazine senapan dengan tatapan yang sangat aneh pada Dalton kemudian ia mengokang senapan tersebut menandakan bahwa Alben telah siap, namun untuk tujuan yang Dalton tidak ketahui sama sekali.
5 Januari 2020, pukul 18.59
Setelah pingsan berjam-jam Emma akhirnya kembali mendapati kesadarannya. Pikirannya masih kacau dan ingatannya juga masih buram. Namun beberapa saat kemudian ia kembali teringat bahwa putri kecilnya sudah tiada. Kesedihan kembali membanjiri dirinya. Untungnya kesedihan itu tidak bertahan lama karena ia mengingat bahwa hal terpenting dalam keadaan sekarang bukanlah larut dalam keterpurukan, melainkan bertahan hidup pada masa yang tidak menentu ini. Ketika Emma melihat sekelilingnya ia merasakan bahwa situasi di dalam garasi sangat tegang sekali. Ia melirik pada suaminya yang hanya duduk diam di sebuah kursi dengan memeluk senapan angin dalam dekapannya. Lalu Emma melirik ke arah putranya, Dalton duduk di lantai berseberangan dari Alben, dari sorot mata Dalton Emma menyadari kalau putranya itu terlihat sangat waspada sekali entah pada hal apa. Emma turun dari sampan dan duduk di sebelah Dalton di lantai garasi.
Tangan Emma menarik kepala putranya tersebut ke pangkuannya, tangannya dengan lembut mengusap rambut Dalton dan berbisik dengan pelan.
“Dalton jangan khawatir. Kita pasti akan keluar dari sini. Bagaimana pun caranya.”
Dalton hanya mengangguk pelan, membiarkan ibunya menenangkan dirinya. Tapi jauh di dalam pikiran Dalton ia sama sekali tidak yakin dengan hal tersebut.
“Ibu. Ayah, terlihat sangat aneh sejak ia kembali dari dalam kabut itu.”
“Aneh bagaimana Dalton?”
“Aku tidak tahu bagaimana tapi aku merasa ada sesuatu yang aneh pada ayah.” Dalton melirik ke arah ayahnya dan melihat bahwa ayahnya masih diam duduk di kursi, lalu ia melanjutkan berbisik pada ibunya. “Seperti setelah mencoba untuk menghindar dari pertanyaan mu tadi lalu membuat ibu pingsan.”
Emma kaget mengetahui itu, tetapi dirinya tampak tidak yakin dengan tersebut karena ia mengetahui bahwa suaminya adalah pria yang lembut, tidak pernah sama sekali memukul dirinya apalagi membuat dirinya jatuh pingsan dengan sengaja.
“Kemudian dari tadi ayah terus menatapku dengan tatapan yang sangat aneh, membuat ku tidak nyaman bahkan mungkin seperti sedang merencanakan sesuatu.”
“Dalton kau tidak boleh berbicara seperti itu pada ayahmu.”
Suara Emma sedikit keras yang membuat Alben berdiri dari kursinya dan berjalan menghampiri mereka dengan masih memegang senapan angin pada tangannya.
“Apa yang sedang kalian bicarakan Emma?”
Suara Alben terdengar lebih dingin, tidak ada kehangatan sama sekali dalam suaranya. Hal tersebut membuat Emma sedikit kaget dan pernyataan Dalton tadi mulai kembali terputar dalam pikirannya. Mungkin saja ada yang salah dengan kondisi suaminya setelah keluar dari kabut putih tadi siang. Emma berdiri berusaha untuk menyembunyikan rasa kagetnya dalam-dalam kemudian ia berjalan pelan menghampiri suaminya itu.
“Tidak ada sayang, aku hanya berusaha menenangkan Dalton tadi. Ia sangat tertekan sekarang jadi karena itu.”
“Dasar anak lemah. Kau terlalu memanjakannya Emma itu semua salahmu.”
Kali ini Emma tidak bisa menyembunyikan rasa terkejut dari dirinya karena baru pertama kali ini Emma melihat suaminya berbicara seperti itu mengenai anak mereka. Reaksi Dalton bahkan lebih parah dari hanya sekedar terkejut, ia marah, dan kesal karena merasa telah direndahkan seperti itu walaupun yang melakukan hal tersebut adalah ayahnya sendiri. Tetapi Dalton tidak langsung melabrak ayahnya, ia hanya menyimpan amarahnya dalam-dalam dan berusaha untuk menekannya.
Alben menegaskan bahwa situasi saat ini masih belum jelas. Kenyataan bahwa mereka masih terjebak di dalam garasi, sedangkan di luar kabut putih itu masih menyelimuti kota Paulus dan Alben berpendapat bahwa seluruh kota terkena dampaknya. Mereka sama sekali tidak tahu sampai kapan mereka bisa bertahan hidup karena setiap detik, menit, jam berlalu rasa lapar kian datang menghampiri. Walaupun sekarang tidak terlalu terasa karena makanan terakhir yang mereka makan itu baru tadi siang, namun karena keadaan yang tidak jelas ini, membuat Emma menyadari bahwa peluang mereka berhasil keluar mungkin mustahil.
Karena hal itu, Alben berjalan menghampiri Emma dan berbisik padanya. Ia mengusulkan bahwa jika keadaan semakin memburuk Alben ingin menjadikan Dalton sebagai pilihan terakhir. Tentu saja hal tersebut ditentang oleh Emma dengan sangat keras.
“APA KAU SUDAH GILA ALBEN?”
Alben seketika menampar wajah Emma yang membuat dirinya terjatuh ke lantai. Dalton menyaksikan hal tersebut bergegas menghampiri ibunya, kedua tangannya memegang kuat-kuat bahu Emma. Kekhawatiran tergambar dengan jelas pada Dalton, sebaliknya amarah terus menggebu ketika ia menatap wajah ayahnya yang hanya diam menyaksikan dengan tatapan dingin yang merendahkan.
“Sadarlah Emma, mungkin itulah satu-satunya solusi jika keadaan ini kian memburuk. Aku sangat mencintaimu, bahkan lebih dari cinta ku pada anak-anakku. Mungkin kau tidak tahu ini, tetapi bukan hanya kabut putih ini yang harus kita waspadai, tetapi apa yang ada di dalamnya.”
Emma kembali berusaha untuk bangun, walau kakinya gemetar untuk melakukan hal tersebut namun dengan bantuan dari Dalton Emma kembali berdiri tegak untuk berdiri berhadapan pada suaminya, tidak, sesuatu yang mungkin telah merubah suaminya itu.
“Alben. Aku tahu rasa cintamu itu bukanlah suatu kebohongan. Tetapi kau ingin aku untuk mengorbankan putraku setelah aku baru saja kehilangan putriku. Orang waras tidak mungkin berbicara seperti itu kau tahu. Lagipula apa maksudmu dengan sesuatu yang ada di balik kabut itu? Jangan mencoba untuk berbicara omong kosong pada saat seperti ini Alben!”
Alben kembali diam, ia menggertakkan giginya dan amarah kembali membara pada kedua matanya.
“Kau tidak mengerti Emma, ada sesuatu yang tidak bisa kita lawan di balik kabut tersebut. Sesuatu tersebut yang mengambil Ghina dariku. Aku tidak berdaya Emma. Karena itu aku tidak ingin hal yang sama terjadi pada mu, Emma.”
“Apa yang sebenarnya ingin kau katakan Alben? Aku tidak memahami apa yang kau maksud ini. Sesuatu itu apa? Apa yang kau lihat?”
Seketika Alben berteriak histeris, senapan angin itu terjatuh ke lantai ketika kedua tangannya berusaha untuk menutupi wajah, telinga bahkan sampai menarik-narik rambunya. Emma yang melihat tersebut dengan refleks berlari menghampiri Alben dan berusaha untuk menenangkan dirinya.
“Alben, Alben tenangkan dirimu Alben.”
Pada penglihatan Alben momen sepersekian detik pada saat dirinya berusaha menyelamatkan Ghina kembali terputar. Momen dirinya yang tidak berarti apa-apa, lemah tidak berdaya membiarkan putrinya diambil di depan matanya dan hanya menyisakan sepotong kecil dari tubuh putrinya itu. Ia hanya menyelamatkan dirinya sendiri, ia sadar akan hal itu.
“Alben tenangkanlah dirimu, Alben.” Suara Emma lirih dan air mata jatuh di pipinya.
Alben terus berteriak histeris bahkan mulai memberontak. Karena tenaganya yang lebih besar daripada Emma dan Dalton, Alben dengan mudah menjatuhkan kedua orang tersebut ke lantai. Dirinya seakan kerasukan sesuatu yang membuat dirinya menjadi buas dan beringas membuat Dalton yang ingin melindungi ibunya apapun yang terjadi berlari menghadang Alben. Kedua tangan Dalton mencoba menahan pinggang Alben dengan segenap kemampuannya tetapi perbedaan kekuatan diantara keduanya sangat besar. Dengan mudah Alben memukul punggung Dalton dengan sangat keras yang membuatnya jatuh tersungkur kembali ke lantai.
“Kau bocah sialan.”
Alben mengangkat tubuh Dalton dengan mencekik lehernya dengan sangat keras yang membuat Dalton mulai kehilangan kemampuannya untuk bernafas. Dengan perlahan wajah Dalton mulai membiru dan kedua tangan Alben meremas leher putranya tersebut dengan lebih keras. Emma yang melihat hal tersebut berlari ke arah Alben berusaha untuk menghentikan perbuatan suaminya tersebut. Ia memohon, memukul tubuh Alben dengan keras berulang kali namun usahanya tidak berhasil. Tubuh Dalton berakhir lemas, wajahnya membiru, kedua bola matanya naik ke atas dan tubuhnya tidak bergerak lagi. Alben yang masih kerasukan dengan nafas yang terengah-engah melemparkan cangkang kosong putranya ke lantai dan beralih menatap kepada Emma.
Emma mundur dengan perlahan ketika Alben mulai berjalan menghampiri dirinya. Air mata terus mengalir membasahi pipi Emma. Ia telah kehilangan kedua anaknya dan sekarang suami yang ia cintai akan membunuh dirinya. Karena mundur tanpa melihat ke belakang tubuh Emma terjatuh ke lantai yang membuat Alben dengan segera duduk di dada Emma. Kedua tangan yang dulunya digunakan untuk mengusap kepala istrinya, lalu mencubit pipi istrinya, dan bahkan memeluk tubuh istrinya dengan erat kini jari jemari tersebut merangkul erat di leher Emma. Ia terus melawan dengan terus berusaha untuk melepas cekikan Alben, namun semua tampak sia-sia. Air mata kian deras membasahi pipi Emma, kilas balik mulai memutarkan masa-masa indah dirinya, mulai dari saat Emma kecil, juara kelas, lulus dari sekolah dan wisuda dari universitas. Bertemu dengan Alben saat bekerja, berkencan dengannya, ciuman pertama mereka pada saat pernikahan, momen indah yang terus mereka ukir, momen saat ia melahirkan anak pertamanya, mendekap bayi tersebut dengan senyum manis dari suaminya disampingnya, saat dimana putranya mengucapkan kalimat pertamanya, hingga momen di mana putri kecilnya lahir ke dunia. Semua momen indah itu muncul dalam benaknya, nafas telah hilang darinya. Dengan mata tertutup dan senyum tergambar dalam wajahnya, Emma meninggalkan dunia.
Tak lama setelahnya, kedua tangan Alben mulai melepaskan leher perempuan tidak bernyawa itu. Tubuhnya duduk di lantai, seakan kesadarannya kembali entah dari mana. Namun semuanya telah terlambat, ia menatap jasad kedua keluarganya lalu menatap kedua tangannya.
“AAAAAGHHHGHAAAAHHGAAAGGHHH”.
Alben teriak sejadi-jadinya di dalam gelapnya malam berkabut itu, isi perutnya keluar semua memuntahkan semua penyesalan, rasa bersalah, amarah serta kesedihan yang sangat dalam lalu dirinya tertawa. Ia tertawa sejadi-jadinya bukan rasa senang yang hadir tetapi rasa sakit yang sangat teramat di dalam hatinya. Air mata tak kunjung berhenti keluar darinya. Dalam dirinya ia mulai mengutuk dirinya sendiri.
“Apa yang aku lakukan? Apa yang kulakukan? Apa? Kenapaa?”
Ia kembali berteriak histeris dan tanpa pikir panjang, ia menatap ke arah senapan angin. Tangannya dengan cepat menggapai senapan angin tersebut lalu meletakkan ujung laras senapan pada mulutnya. Jarinya diletakkan pada pelatuk namun ia tak sanggup untuk menekannya. Tangannya gemetar dengan hebat dan di detik-detik tersebut radio yang ada di atas meja seketika menyala sendiri yang membuat Alben kaget dan menekan pelatuknya. Palu pada senapan angin tersebut menghantam peluru yang melaju cepat keluar dari moncong laras dan menembak langit-langit mulut Alben yang langsung membunuh dirinya seketika.
Kesunyian malam ditambah dengan kabut putih yang datang entah dari mana ini kian memekatkan kehampaan. Di dalam garasi tersebut tiga tubuh tak bernyawa tergeletak begitu saja di atas lantai, lampu di dalam gudang mulai berkedip berulang kali kemudian radio yang tadinya hanya berisi frekuensi statis kini mengeluarkan suara lantunan indah dari musik yang sering diputar pada drama keluarga yang bahagia. Lantunan elegi itu menutup malam yang sunyi di bawah cahaya temaram dari rembulan yang keluar dari balik awan hitam.
Suara radio kembali terputus-putus menyisakan sebelum kembali pada frekuensi statis yang mengisi kesunyian malam menunggu kapan untuk dimatikan kembali. Tidak ada suara lain, di dalam ataupun di luar hanya ada kabut dan terus begitu.
Bab III : Sisi Lain Peristiwa
5 Januari 2020, pukul 11.05
“Baik, terima kasih karena telah menghadiri rapat di tahun baru ini, di mana kita akan membahas bagaimana akun Soutube kita agar berkembang. Jadi aku ingin kalian agar memperhatikan rencana mutakhir yang akan aku bahas sekarang ini”.
Perempuan yang sedari tadi bersemangat itu melirik ke arah dua laki-laki yang ada di hadapannya dan ia menyadari bahwa pikiran mereka sedang tidak ada di dalam ruangan. kening gadis itu seketika berkerut dan pipinya langsung menggembung dan kakinya menghentak lantai untuk beberapa kali.
“Louis apa kau mendengarkan ku? Moo hatiku sakit kalau kalian mengabaikan aku tau”
Laki-laki bernama Louis itu menoleh ke arah Salsa dengan wajah yang sedikit bingung dan kembali menatap ke arah laki-laki yang ada di sebelahnya, yaitu Carson, abangnya Salsa.
“Aku mendengarkan kok tentang apa yang kamu bicarakan tadi, tapi aku hanya sedikit bingung dengan perilaku bang Carson hari ini. Dia tidak seperti biasanya.”
Salsa mengehela nafas panjang sambil memegang jidatnya sendiri sambil ia berjalan ke samping Louis sambil bercerita mengenai perubahan sikap dari abangnya tersebut.
“Iya, masalahnya sedari tadi pagi, aku melihat abang selalu begitu. Dia terus menatap ke arah jendela dengan tatapan yang kosong. Ketika aku memanggilnya dia tidak menyahut sampai aku menepuk pundaknya.”
”Kira-kira kenapa ya? apa dia baru ditolak oleh wanita?”
Mendengar hal itu dengan cepat Salsa langsung menyangkal pendapat dari Louis karena ia tahu bahwa abangnya tersebut sedang tidak mengencani seseorang belakangan ini. Namun perubahan mendadak dari abangnya itu memang membuat Salsa khawatir. Abangnya yang selalu energik dan bersemangat dalam mengerjakan apapun termasuk dalam membuat konten untuk akun Soutube mereka kini berubah menjadi pria yang kosong.
Salsa dengan pelan menepuk bahu abangnya sambil memanggil namanya untuk beberapa kali sampai Carson tersadar dari lamunannya. Tubuhnya melompat kaget dan langsung kelihatan linglung, kedua matanya menoleh ke sekeliling ruangan dan mendapati bahwa Salsa dan Louis memandang dirinya dengan rasa khawatir.
“Maaf, aku tadi melamun.” Katanya sambil kedua tangannya mengusap wajahnya yang nampak kelelahan. “Iya kita ingin mengadakan rapat mengenai konten terbaru kita kan? Jadi apa ide mu Salsa?”
Salsa menghela nafas untuk sesaat dan kembali ke depan untuk menjelaskan idenya kepada Louis dan Carson.
“Jadi ide ku untuk konten terbaru kita adalah kita akan membuat konten mengenai survival trik dan tip.”
“Jadi maksudmu kita akan membuat video trik untuk bertahan hidup begitu?” Tanya Louis dengan mengangkat tangannya. Ia masih ragu apakah mereka benar-benar bisa membuat video seperti itu.
Salsa mengangguk dan tersenyum ketika ia menjawab pertanyaan dari Louis, “Iya tentu saja. Kita akan membuat video trik untuk bertahan hidup seperti itu. Aku sudah cek video semacam ini di Soutube dan rata-rata jumlah view mereka itu cenderung besar. Jadi aku yakin kalau video kita akan masuk ke algoritma Soutube dengan mudah.”
Penjelasan dari Salsa memang masuk akal namun itu masih belum bisa menjawab keraguan dari Louis sehingga ia melontarkan kembali pertanyaan kepada Salsa.
“Tapi Salsa, diantara kita bertiga tidak ada yang paham mengenai trik-trik semacam itu. Seperti yang kamu ketahui bahwa aku itu tipe orang yang jarang sekali melakukan kegiatan di alam, dan kamu aku tahu sekali kalau kamu tidak hobi dengan kegiatan seperti ini juga...”
“Kita punya bang Carson jadi tenang saja.” Potong Salsa sambil menunjuk ke arah saudaranya tersebut. Carson yang sedikit kembali melamun kembali sadar dan dengan bingung menunjuk dirinya sendiri sambil bertanya “aku?”
Salsa kembali mengangguk dan menjelaskan dengan percaya diri “Iya, jadi dalam konten kali ini abang yang akan menjadi wajahnya karena abang kan pernah ikut dalam kegiatan berkemah di hutan rawa Iehat saat kuliah kan, jadi maka dari itu kamulah yang akan menjadi bintang untuk konten kali ini sedangkan Louis akan menjadi kameramen dan aku akan membantu mu dari balik layar selama pengambilan gambar nanti.”
Carson tahu bahwa saat adiknya itu telah memutuskan sesuatu maka akan sulit untuknya menolak usul tersebut. Bukan karena tidak mau namun ia hanya merasa takut untuk menyakiti hati adiknya itu terlebih akun Soutube ini memang ia buat untuk adiknya agar ia bisa menyalurkan hasrat kreatifitasnya dengan benar.
Carson berdiri dan menatap kedua remaja yang ada di hadapannya dengan senyum lebar. “Baiklah kalau begitu, kita akan berangkat ke hutan rawa Iehat setelah kita makan siang terlebih dahulu. Untuk sekarang mari kita persiapkan alat-alat yang dibutuhkan.”
Dengan demikian Louis segera mempersiapkan kamera untuk pengambilan gambarnya, ia memeriksa kondisi kamera Sony ZV miliknya dan mengecek baterai serta kapasitas memori yang tersisa dan Salsa sibuk memilih baju apa yang akan ia gunakan. Karena mereka akan pergi ke hutan jadi ia ingin pakaian yang nyaman namun masih memudahkannya untuk bergerak. Sedangkan di sisi lain Carson hanya berdiri diam di depan jendela sambil menatap ke arah luar dan matanya fokus pada langit yang mulai mendung dengan awan gelap yang perlahan menutup cahaya mentari.
5 Januari 2020, pukul 11.45
Setelah selesai makan siang, mereka bertiga kini sedang dalam perjalanan menuju pintu masuk hutan rawa Iehat, yang di mana hutan ini adalah salah satu hutan lindung yang diawasi oleh pemerintah kota Iehat untuk tetap menjaga flora dan fauna di dalamnya. Dari pusat kota tempat mereka tinggal memerlukan waktu sekitar setengah jam agar sampai ke lokasi dan untungnya orang tua Carson mau meminjamkan mobil padanya dan kini mereka pergi ke sana dengan Carson yang duduk di kursi pengemudi. Di sepanjang perjalanan Salsa dan Louis sibuk membahas kampus mana yang ingin mereka masuki terlebih saat ini mereka baru saja lulus dari sekolah tinggi atas. Berbeda dengan Louis dan Salsa, Carson kini sudah mencapai kepala dua dan diumurnya yang seperempat abad ini ia masih belum mempunyai pekerjaan tetap dan kebanyakan waktunya ia habiskan untuk mengelola dan membuat konten di Soutube.
“Jadi menurutmu mana kampus yang bagus untuk kami bang?” Tanya Salsa kepada Carson namun tidak mendapati respon. Salsa melirik ke arah Louis yang juga duduk di kursi belakang dengan heran dan saat mereka memutuskan untuk mengecek kondisi Carson yang ada di kursi pengemudi mereka mendapati kalau Carson mengemudi dengan tatapan kosong dengan mulut yang terbuka lebar. Kedua bola matanya memutih dan kakinya menginjak pedal gas dengan sangat dalam yang membuat mobil yang mereka tumpangi melaju dengan kecepatan tinggi.
Salsa dengan panik berusaha menyadarkan saudara tersebut dengan menepuk pundaknya berulangkali sambil meneriakkan namanya. Louis dalam keadaan yang panik berusaha untuk memakaikan sabuk pengaman kepada Salsa dan pada dirinya untuk menghindari keadaan terburuk yang bisa terjadi dalam keadaan ini.
Berulang kali Salsa berusaha untuk menyadarkan kembali saudaranya itu namun waktu mereka habis karena 50 meter di depan jalan sudah menikung tajam ke kiri dan mobil mereka saat ini sedang melaju lurus dengan kecepatan tinggi. Mau tidak mau Louis menarik tubuh Salsa ke dalam posisi yang lebih aman dalam menghadapi benturan dan kecelakaan itu tidak bisa dihindari. Mobil mereka keluar jalur dan sempat berulangkali jungkir balik sebelum masuk dan jatuh ke dalam jurang yang agak dalam.
Mata Salsa perlahan terbuka dan mendapati kalau mereka saat ini dalam kondisi terbalik. Kepala Salsa terasa berat dan ia merasakan pusing yang hebat dan ketika ia menyentuh dahinya ternyata ia mengalami pendarahan yang lumayan. Lalu saat ia menoleh ke sebelah kiri ia menemukan Louis dalam kondisi tidak sadarkan diri, dengan segera Salsa mengecek nadi di lehernya dan menemukan bahwa Louis masihlah hidup. Nyatanya mereka cukup beruntung masih bisa hidup setelah kecelakaan tersebut.
Dengan sisa tenaganya, Salsa berusaha untuk melepas sabuk pengaman yang ada pada dirinya kemudian ia berusaha untuk merangkak keluar dari dalam mobil yang terbalik tersebut. Setelah berhasil keluar dengan segera Salsa menarik Louis yang tidak sadarkan diri keluar dari dalam mobil yang terbalik itu. Namun di saat ia ingin menolong Carson, Salsa mendapati bahwa saudaranya itu sudah menghilang entah kemana. Dengan panik Salsa berteriak memanggil abangnya namun usahanya tetap sia-sia karena ia tidak mendapati jawaban. Jadi yang bisa Salsa lakukan sekarang hanyalah duduk diam sembari menunggu Louis kembali sadar dari pingsan nya.
10 menit berlalu dan dengan perlahan Louis kembali sadarkan diri, ia berusaha untuk bangun dari posisinya sambil memegangi kepalanya yang mungkin terbentur pada saat kecelakaan terjadi.
“Louis syukurlah kamu sadar juga” ucap Salsa sambil memeluk tubuh Louis dengan erat dan melepaskan rasa khawatirnya pada Louis yang sedari tadi menghantui dirinya.
“Salsa? Kita di mana?”
“Kita sekarang berada di dalam hutan rawa Iehat dan sepertinya kita terperosok dan jatuh ke dalam jurang yang agak dalam ini”
“Jurang?” Tanya Louis yang masih berusaha untuk mencerna apa yang baru saja terjadi dan menimpa diri mereka. Salsa langsung menunjuk ke arah atas dan terlihat tebing yang cukup tinggi mungkin sekitar 10 meteran dengan kemiringan yang sangat curam dan mustahil bisa dipanjat.
“Dan Carson bagaimana Salsa?”
Salsa hanya menggeleng pelan dan wajah tertunduk ke bawah sebelum ia melanjutkan penjelasannya “Aku tidak dapat menemukan bang Carson di mana pun. Mungkin pada saat aku tidak sadarkan diri untuk sebentar ia langsung keluar mencari pertolongan.”
“Itu sedikit mustahil, kurasa.”
“Apa maksudmu Louis?”
“Maksudku kurasa Carson tidak mungkin pergi meninggalkan kita untuk mencari pertolongan. Sedari tadi ku pikirkan masalah ini dan kini aku yakin, kurasa Carson seperti sedang dikendalikan oleh sesuatu.”
“Jangan ngomong sembarangan seperti itu Louis, saat ini kita dalam kondisi yang sangat buruk jadi jangan kamu tambah dengan hal-hal menakutkan seperti itu.”
“Aku tidak berusaha untuk menakutimu Salsa. Maksudku coba kau pikirkan lagi perilakunya yang mendadak aneh hari ini.”
Salsa diam sejenak mencoba untuk memikirkan kembali apa yang menimpa saudaranya tersebut dan semakin lama ia memikirkannya semakin masuk akal ucapan Louis tersebut. Walau dalam hati kecilnya ia masih ingin menyangkal ide kalau saudaranya sedang dikendalikan, tetapi ia tidak melihat jawaban yang lain selain hal ini.
“Mungkin kamu benar Louis, jadi sekarang apa yang harus kita lakukan ?”
“Yang pasti kita harus mencari jalan keluar dari hutan ini dan juga kalau bisa sekalian kita mencari keberadaan dari Carson.”
“Oke, kalau begitu lebih baik kita memeriksa barang bawaan kita, siapa tahu ada yang masih bisa kita pakai.”
Louis mengangguk pelan mengikuti Salsa menuju ke belakang mobil yang kebalik itu. Saat mereka membuka pintu bagasi barang mereka ikut terjatuh ke tanah bersamaan barang-barang lainnya. Louis mengecek tas kameranya dan mendapati kalau kamera Sony ZV miliknya telah hancur dan tidak bisa dihidupkan kembali. Ia hanya bisa menghela nafas panjang sambil mengecek barang-barang lainnya dan untungnya barang bawaan mereka untuk membuat konten masihlah utuh, seperti kompas, golok, dan alat pemantik api. Di sisi Salsa ia mengamankan makanan yang tadi sempat mereka beli di dalam perjalanan seperti beberapa cup mie instan, roti-rotian, dan beberapa botol air minum.
Salsa menyadari kalau di saku celananya masih terdapat smartphone miliknya dan di saat ia mengecek kondisinya nampak layar smartphonenya telah mengalami retak-retak namun beruntung kondisinya masih bisa dinyalakan. Namun hal itu belum bisa membuat mereka selamat dari kondisi mereka saat ini dikarenakan tidak adanya sinyal internet sehingga mereka tidak bisa menghubungi orang lain.
Ketika semua sudah siap mereka akhirnya memulai perjalanan mereka untuk mencari jalan keluar dari hutan dan mencari Carson yang menghilang entah kemana. Saat Louis mengecek jam tangannya, waktu menunjukkan pukul 12.00 tengah hari, namun begitu suasana di dalam hutan rawa ini sangatlah gelap. Di sekeliling mereka hutan-hutan berdiri tinggi memblokir sinar matahari yang sedari awal sudah terhalangi oleh awan mendung. Tanah rawa yang becek membuat pergerakan mereka menjadi sangat pelan walaupun saat ini hutan rawa dalam kondisi yang bisa disebut kering, tidak seperti biasanya. Perasaan merinding mulai menyelimuti leher belakang mereka ketika angin dengan pelan bertiup dan membawa kabut tipis yang mulai menutupi hutan.
BAAANGGGG
Terdengar suara tembakan yang menggelegar dari dalam hutan tidak jauh dari posisi mereka saat ini. Louis dan Salsa bergegas menuju sumber suara tersebut meski mereka menghadapi kondisi hutan yang ekstrem dan ketika mereka sampai disebuah area terbuka mereka mendapati seorang pria yang membawa senapan lari dengan tergesa-gesa meninggalkan tempat tersebut. Mereka saling pandang satu sama lain dan dengan cepat mengangguk seakan telah menyepakati sesuatu walau tanpa berbicara.
Keduanya berjalan mendekati tempat di mana si pria pemburu tadi berdiri dan di sana pula mereka menemukan seekor rusa yang telah tergeletak tak berdaya karena ditembak oleh si pemburu tadi.
“Kasihan sekali dirimu rusa. Maaf ya aku tidak bisa mengobatimu” ucap Salsa dengan kedua tangannya mengelus-elus tubuh rusa yang sekarat tersebut. Dengan nafas yang sedikit sang rusa menatap wajah Salsa dengan lekat dan air mata keluar darinya sebelum akhirnya rusa itu menghembuskan nafas terakhir.
Ketika Salsa masih duduk sambil mengelus tubuh si rusa itu, tangan Louis menepuk pundak Salsa beberapa kali seakan ingin memberitahukan sesuatu.
“Salsa, Salsa. lihat itu! Bukankah itu Carson?”
Pertanyan itu sontak membuat Salsa langsung berdiri dan matanya langsung menuju ke arah yang ditunjuk oleh Louis. Dan benar mereka akhirnya menemukan Carson berdiri diam sambil menatap ke langit dengan mulut yang terbuka lebar.
“Bang Cars…”
Sebelum selesai Salsa ingin teriak memanggil saudaranya itu, Louis dengan cepat menutup mulut Salsa dan menariknya untuk bersembunyi di balik sebuah pohon. Tidak suka dengan perlakuan Louis, Salsa dengan marah menyingkirkan tangan Louis dari mulutnya dan menelototi Louis dengan wajah yang memerah.
“Apa sih yang kamu lakukan Louis? Kenapa kamu membungkam mulutku seperti itu padahal bang Carson ada di sana”.
“Tidakkah kamu merasa ada yang aneh Salsa? Lihatlah Carson yang ada di sana, kondisinya sama seperti saat di dalam mobil tadi. Jelas saat ini ia sedang dipengaruhi oleh sesuatu. Jadi selagi kita tidak tau apa yang merasukinya kita harus tetap waspada.”
“Setidaknya aku ingin kita melihat kondisinya terlebih dahulu untuk mencari tahu penyebab dari apa yang mempengaruhi nya. Terlebih aku khawatir dia itu saudaraku, kau tau?”
Louis yang anak tunggal benar-benar tidak bisa memahami perasaan Salsa saat ini, namun di dalam hatinya ia tahu bahwa bertengkar dalam keadaan seperti ini malah tidak bagus bagi mereka. Sehingga untuk saat ini Louis mengalah dan meminta maaf pada Salsa dan mengikuti rencananya untuk pergi dan mengecek keadaan dari Carson.
Mereka berjalan perlahan dengan Salsa yang berulang kali memanggil Carson, di saat yang bersamaan Louis merasa ada yang aneh, instingnya seakan berteriak dari tadi bahwa seperti ada yang sedang mengintai mereka. Ketika sampai di hadapan Carson, Salsa dengan cepat mengguncang tubuh Carson yang berdiri diam. Matanya masih putih dan mulutnya masih terbuka lebar, melihat keadaan saudaranya yang seperti ini membuat Salsa meneteskan air mata sambil ia terus berusaha menyadarkan Carson.
Di sisi lain Louis melihat keadaan sekitar di mana Carson berdiri dan tak jauh dari sana ia menemukan sesuatu yang tidak biasa.
“Salsa, kemari dan lihatlah ini”
Dengan cepat Salsa menghapus air matanya sebelum ia melangkah untuk menemui Louis.
“Lihatlah aku menemukan sebuah buku aneh tergeletak di sini.”
“Buku?”
Mereka mengamati buku untuk beberapa waktu terlihat dari luar buku itu berwarna cokelat gelap dengan warna sampul yang buram, ketika mereka berdua menyentuh sampul buku tersebut mereka menyadari kalau sampulnya terbuat dari kulit, tetapi teksturnya seakan familiar dengan mereka, seperti mereka selalu menyentuhnya setiap saat. Menyadari sesuatu seketika membuat Louis melempar buku itu cukup jauh yang membuat Salsa bingung dengan reaksi Louis.
“Louis ada apa?”
Salsa melihat wajah Louis yang selalu tenang kini penuh dengan teror seakan dirinya baru saja melihat hantu.
“Tidakkah kau menyadari sesuatu Salsa? Buku itu terbuat dari kulit, tapi bukan sembarang kulit melainkan kulit manusia.”
“Apa kau yakin Louis?”
“Tentu saja aku yakin. Aku tahu bagaimana tekstur dari bahan kulit hewan.”
“Apa yang sebenarnya terjadi di sini?”
Bab IV : Apa Itu ?
5 Januari 2020, 12.33 siang
“Jadi apakah buku terkutuk itu yang mempengaruhi bang Carson menjadi seperti ini Louis?”
Louis berpikir sejenak sambil mengusap dagunya dengan perlahan, ia yang biasanya berpikir secara logis sulit untuk menerima hal mistis seperti halnya buku terlarang dan lain sebagainya. Namun saat ini jelas sekali kalau bukti yang ada di hadapannya sangatlah kuat dan membuat dirinya menjadi ragu. Kalau pun benar buku itu yang mempengaruhi Carson yang membuat dirinya menjadi seperti saat ini, pertanyaan berikutnya yang muncul adalah kenapa buku itu harus menargetkan Carson?
“Saat ini kita tidak bisa mengatakan secara pasti kalau buku itulah yang menyebabkan dirinya tak sadarkan diri. Kalaupun itu benar kenapa yang terpengaruhi hanya dia seorang? dan kenapa kita juga tidak terpengaruhi, bahkan kita telah memegang buku itu?”
“Kamu benar juga, kenapa harus bang Carson seorang ya…”
Saat Salsa memikirkan alasan dari pertanyaan itu seketika ia teringat kejadian di hari kemarin yang di mana saudaranya itu sempat mengatakan sesuatu yang aneh.
“Louis, kalau aku tidak salah ingat kemarin malam bang Carson sempat mengatakan sesuatu yang aneh. Aku tidak tahu apakah ini masihlah berhubungan tetapi ia semalam mengatakan ’kalau belakangan hari ini ia sering mendapat mimpi yang sama, yaitu mimpi di mana ia sedang dalam kabut putih tebal dan ia melihat sebuah kupu-kupu api yang berpijar menyala dengan terang dan terus membisikkan sesuatu padanya’.”
“Hmm… apa kau ingat apa yang dibisikkan dalam mimpinya itu Salsa?”
“Kalau tidak salah itu…… oh iya, Verloren”
“Apa itu?”
Salsa hanya bisa mengangkat bahunya tanda ia juga tidak mengerti apa yang dimaksud dengan Verloren tersebut. Secara tiba-tiba Carson yang masih tidak sadarkan diri mulai berjalan perlahan dengan badan yang berayun seperti orang yang sedang mabuk. Salsa dan Louis tidak bisa menghentikan Carson yang terus berjalan ke arah buku itu berada.
“Salsa, aku merasa tidak enak saat ini, kurasa ini waktu yang tepat untuk kita lari dari sini”
Ajakan Louis ditolak mentah-mentah saat Salsa masih bersikeras untuk menyadarkan saudaranya itu. Salsa mencoba menahan tangan dari Carson sekuat tenaganya namun dengan satu ayunan tangan dari Carson bahkan membuat Salsa terlempar ke tanah. Louis yang melihat hal itu langsung berlari menghampiri Salsa yang sedang tersungkur di tanah.
“Salsa kau tidak apa-apa?”
“Iya aku baik”
Carson mengambil buku itu dan memegangnya dengan kedua tanganya di udara. Buku itu terbuka dan ia mulai membacakan isi dari buku tersebut. Louis dan Salsa yang mendengarkan isi dari buku itu tidak dapat memahami bahasa yang diucapkan oleh Carson tetapi mereka yakin kalau isinya mirip seperti sebuah mantra. Dari mulut Carson yang terbuka lebar satu demi satu lalat keluar dari dalam mulutnya sampai lalat tersebut berubah menjadi segerombolan lalat yang dengan perlahan menghinggapi seluruh tubuhnya.
“Bang Carson…”
Salsa hanya bisa berteriak memanggil Saudaranya itu walau Louis harus menahan tubuhnya dengan sekuat tenaga. Tak lama setelah itu tubuh Carson mulai menghilang dari dalam segerombolan lalat yang menghinggapi tubuhnya tanpa menyisakan anggota tubuhnya. Melihat kejadian horor yang menimpa saudaranya, Salsa hanya bisa menangis sejadi-jadinya dalam pelukan Louis yang berusaha untuk menenangkan dirinya.
Di tengah kejadian duka yang baru saja menimpa mereka, dari dalam hutan terdengar sebuah suara raungan yang menggelegar memekakkan telinga. Bulu kuduk mereka seketika berdiri dan mereka langsung menjadi waspada. Louis dan Salsa hanya bisa melirik ke sekeliling mereka dan mendapati kalau tidak ada yang mereka dapati dari balik pepohonan.
“Louis apa itu? Apakah itu suara hewan buas?”
“Aku seratus persen yakin kalau tidak ada hewan buas yang bisa mengeluarkan suara seperti itu di sini”
Dan benar saja, ketika mereka melihat ke arah langit, mereka menemukan bahwa sesuatu hadir dari sana. Awan gelap yang sedari tadi menyelimuti langit seakan runtuh dan terjatuh ke tanah menyebabkan goncangan hebat yang membuat burung-burung terbang melarikan diri.
“Salsa berdiri dan ayo lari dari sini” Ucap Louis yang berusaha mengangkat tubuh Salsa agar bisa berdiri walaupun kaki dan tangan Louis sendiri sedang gemetar hebat menahan rasa takut yang menjalar dari tubuhnya.
Salsa mengangguk pelan namun saat ia mencoba untuk berdiri, kedua kakinya telah lemas tak berdaya karena dimakan oleh rasa takutnya. Salsa melihat ke arah Louis dengan tatapan sedih dan takut dengan dirinya memanggil nama Louis dengan pelan.
“Louis… a..aku tidak bisa berdiri…”
Tanpa membuang waktu lebih lama Louis mengangkat tubuh Salsa dan meletakannya dipunggungnya, kedua tangannya menahan paha Salsa agar tubuhnya tidak meluncur turun dari sana.
“Salsa berpenggangan yang erat” ucap Louis ketika ia mulai berlari sambil menggendong tubuh Salsa di punggungnya.
Dari balik awan yang runtuh tersebut mulai terdengar suara tawa yang menggema ke seluruh hutan rawa, sebuah tawa yang jahat dan acuh tak acuh dengan hal kecil disekitarnya. Setelah tawa itu selesai kabut putih pekat mendadak muncul dan mulai mengejar mereka dari belakang. Kabut putih tersebut bergerak menyelimuti seluruh permukaan hutan rawa dan dari dalam kabut tersebut mulai terdengar suara-suara raungan yang lebih mengerikan.
Dengan nafas yang terengah-engah Louis berusaha sekuat tenaga berlari tanpa tujuan yang jelas di dalam hutan rawa ini. penglihatannya mulai kabur dan detak jantungnya semakin cepat ke batas maksimalnya. Di dalam pikirannya nasib mereka kini sepenuhnya berada di tangan Louis, jika ia menyerah di sini tidak ada yang tahu apa yang akan menimpa mereka namun hanya kemungkinan buruk yang bisa ia pikirkan jika itu terjadi. Di lain sisi hanya butuh waktu sampai stamina habis untuk berlari tanpa tujuan yang jelas. Optimisme dari dalam dirinya kini telah hilang sepenuhnya, itulah yang terpikirkan oleh dirinya saat ini sebelum Salsa berteriak memanggil Louis dan menunjukkan kalau ada sebuah kabin kayu tidak jauh dari tempat mereka sekarang.
Dengan sisa tenaganya Louis berlari sambil menggendong Salsa menuju ke kabin tersebut dengan kabut putih yang kian mendekati mereka. Sesaat mereka berada di depan pintu, Louis mencoba membuka pintu dengan memutar gagang pintu, namun nampaknya pintu tersebut terkunci. Louis menurunkan tubuh Salsa dan dengan sisa tenaga terakhirnya ia menendang pintu itu dengan sekuat tenaga hingga akhirnya pintu tersebut menyerah dan membiarkan mereka untuk masuk ke dalam. Louis langsung jatuh terkapar di lantai begitu masuk ke dalam kabin dan Salsa langsung menutup pintu itu kembali dan mendorong sebuah lemari kayu dengan ukuran sedang di pintu masuk tersebut.
Kini keduanya terkapar lemas dengan nafas yang terengah-engah, saat mereka baru saja melewati hal yang tidak masuk akal dalam hidup mereka. Setelah menenangkan dirinya Salsa berdiri ke arah jendela untuk melihat bagaimana keadaan di luar saat ini, namun karena kabut yang sangat pekat dan tebal hal itu membuat Salsa sama sekali tidak bisa melihat apa-pun. Ia melirik ke arah Louis yang kini tertidur karena kelelahan dan walau saat ini Salsa merasa telah tenang, namun rasa takut yang ia rasakan tidaklah sepenuhnya menghilang. Kedua tangannya masih gemetar hebat bahkan saat ia mencoba untuk menghentikan hal itu dengan memegang tangannya dengan erat.
Suara tawa yang sama kini terdengar kembali dengan dentuman keras yang terdengar seperti sebuah langkah kaki raksasa. Salsa mengeluarkan smartphonenya dari sakunya untuk mengecek waktu, namun hal mengejutkan datang ketika ia melihat kalau di kabin ini ia menemukan sebuah sinyal wifi. Hal tersebut membuat dirinya senang dan dengan segera ia mencoba untuk menelepon keluarganya dan memberitahu keadaannya. Ketika ia mencoba menghubungi ibunya hanya suara menunggu yang terdengar dari baliknya, sama halnya ketika ia mencoba untuk memanggil pihak berwajib yang ia dapati hanyalah suara “tut…tut…tut…” yang terus berbunyi tanpa ada yang menyahut.
Perasaan putus asa kini datang menyelimuti dirinya ketika ia mendapati kalau baterai smartphonenya kini hanya tersisa lima persen. Dalam keadaan pasrah ini Salsa membuka akun Soutubenya dan menyiarkan sebuah siaran langsung.
“Halo saya Salsa Bright dan teman saya Louis Arkam. Saat ini kami sedang terjebak di sebuah kabin di hutan rawa Iehat. Kami tidak bis keluar saat ini dikarenakan ada sesuatu yang mengerikan yang terjadi di hutan ini.”
Salsa memutar kameranya menjadi kamera belakang dan menunjukkan bagaimana situasi di luar melalui jendela. Dan memang terlihat di dalam kabut putih tebal yang menyelimuti hutan rawa yang pekat ini, nampak bayangan yang hilir mudik di dalam kabut tersebut, dan ketika Salsa mengarahkan kameranya ke arah langit, ia menangkap bayangan besar sekitar puluhan meter berdiri diam dari balik kabut seakan menatap ke arah kabin kayu yang kecil tersebut.
Menyadari hal itu, Salsa langsung menyembunyikan dirinya dari jendela dengan berbisik pelan pada siaran langsungnya. “Tolong siapapun bantu kami di sini, aku tidak ingin mati” suaranya terdengar seperti sedang menahan tangisan karena dirinya saat ini sangat ketakutan setengah mati. Sesaat ia menyampaikan permintaan tolong itu smartphonenya mati menandakan kalau baterainya telah habis sepenuhnya. Salsa hanya bisa meringkuk diam memandangi Smartphonenya tanpa sepatah kata. Ia kembali melirik ke arah Louis yang masih tidak sadarkan diri dan perlahan merangkak untuk mendekatinya. Ia menemukan sebuah kain taplak meja dan ia gunakan untuk membungkus dirinya dan Louis saat Salsa memeluk erat tubuh temannya itu untuk menenangkan dirinya yang telah dingin karena rasa takut yang menjalar ke seluruh tubuhnya.
Bab V : Ia Yang Memegang Teguh Ideologi
5 Januari 2020, pukul 12.15 siang
“Tik… tik….tik….”
Di dalam ruangan itu, hanya suara denting jam yang menemaninya menghabiskan waktu, dan walau ada jam di sebelahnya tetapi ia masih buta soal waktu, tidak tahu apakah saat ini pagi, siang atau malam karena telah lama ia tidak melihat matahari. Di sekelilingnya hanya ada tembok putih polos yang membosankan tak bisa ia bicara atau menjawab pertanyaan yang dilontarkan oleh Rio. Ia hanya bisa bergumam sendiri pada bayangannya soal bagaimana ia mengenang semua kematian yang terjadi di depan matanya. Nampak jelas sekali kantung mata hitam tergantung di bawah matanya karena ia takut untuk bermimpi kembali, takut kalau kenangan buruk itu kembali menghantui.
Dari luar sel putih Rio mendengar suara langkah kaki yang terdengar mendekat, dan benar saja seorang pria dengan rambut cokelat kemerahan berdiri di hadapan selnya dengan membawa berkas di tangannya. Pria tersebut mulai membuka berkas tersebut dan membacakan isinya.
“Rio Alamanda? Apakah itu benar namamu?”
Rio awalnya diam tidak menjawab, diperhatikannya pria itu dengan lebih seksama, mulai dari rambut comma hairnya, wajah dari pria itu yang lumayan menarik dan mungkin masihlah sekitaran 20 tahunan akhir, ataupun pakaiannya yang mencolok dan eksentrik.
“Apa kau sudah puas untuk mengamati ku?” Kata pria itu setelah membiarkan Rio mengamati dirinya untuk beberapa saat.
“Iya, itu aku. Katakan apa kau bekerja di sini ?”
“Kalau pun aku menjawab itu, kurasa itu tidak akan membantumu sama sekali.”
Wajah Rio kembali tertunduk dan ia mulai menyandarkan punggungnya ke dinding dengan menghela nafas panjang.
“Kau benar, mungkin nasibku adalah terkurung di sini untuk selamanya.”
“Itu tidak benar. Hari ini kau akan menjalani interogasi terakhir sebelum akhirnya kau dibebaskan. Jadi maka dari itu mari ikut aku ke ruang interogasi”
Mendengar hal ini membuat Rio sedikit terkejut karena tidak menyangka kalau hari ia akan keluar dari ruangan ini akhirnya tiba. Dengan bersemangat Rio melompat dari kasur selnya dan berjalan keluar dari pintu yang sedang dibukakan oleh pria itu.
“Oiya, kemana pria galak yang selalu membawaku ke ruang interogasi itu? Karena selalu dibentak olehnya membuatku kesal dan sesekali aku ingin memukul kepala plontosnya itu.”
Pria itu hanya sedikit tersenyum mendengar ocehan dari Rio saat ia berjalan di sebelahnya walau tanpa memberi jawaban untuk pertanyaannya. Di sepanjang perjalanan walau Rio sudah beberapa kali menjalani interogasi ia tetap saja takjub dengan fasilitas yang dimiliki oleh tempat ini, sangat besar dan penuh dengan teknologi yang tidak pernah Rio lihat sebelumnya yang membuat ia menjadi penasaran siapa yang sebenarnya telah menangkap dirinya.
“Boleh aku bertanya sesuatu?”
“Tentu saja boleh”
“Kalian ini siapa? Kalau kalian menjawab dari Biro Keamanan Negara, maka kalian butuh alasan yang lebih baik untuk membohongi ku.”
Alis dari pria itu sedikit terangkat ketika ia mendengar hal itu keluar dari Rio. Dengan senyum tipis pria itu bertanya mengenai alasan Rio berpikiran seperti itu.
“Mungkin karena firasat”
“firasat ya?”
“Iya, aku mempunyai firasat kalau aku mungkin jatuh ke dalam masalah serius karena baru saja menemukan sesuatu yang bersifat rahasia di pulau itu dan karena itu aku di tahan di sini. Terlebih saat perempuan putih itu ingin melakukan sesuatu dan gagal, ia langsung terlihat jengkel pada ku. Dan nampaknya dugaan ku semakin kuat setiap kali aku melihat fasilitas yang ada di sini, sangat canggih dan berbeda sekali dengan yang dimiliki oleh pemerintah negara Venti.”
Pria yang berjalan di sebelah Rio hanya bisa tertawa kecil mendengar semua jawaban yang ia lontarkan, Rio tidak tahu mengapa tetapi sepertinya ada sesuatu yang menggelitik humor pria tersebut.
“Hehe, jadi Nacht gagal ya, pantas saja ia selalu kesal setiap aku melaporkan hasil interogasi mu padanya.”
Setelah berjalan beberapa menit dari ruangan sel Rio tadi, mereka akhirnya masuk ke dalam sebuah ruangan interogasi yang klise seperti yang sering muncul di film-film polisi atau detektif. Ruangan dengan kaca satu arah yang sangat besar, satu meja besi dan dua kursi yang saling berhadapan di tambah lampu gantung dengan cahaya redup.
Rio melihat sekeliling dan menatap ke arah cermin berharap ia bisa mengejek orang yang ada di baliknya.
“Silahkan duduk nona Rio”
Dengan perlahan Rio duduk di kursi dan segera meletakkan tangannya yang sedari tadi di borgol di atas meja agar bisa di buka selama interogasi berlangsung. Pria itu melempar berkas yang ada di tangannya di atas meja dan mulai menyandarkan punggungnya pada kursinya sambil tersenyum padanya.
“Baiklah mari kita mulai interogasi ini, jadi apa pertanyaan mu?”
Pertanyaan yang sangat aneh dari apa yang selama ini ia terima, yang mana biasanya dirinya lah akan dihujani dengan beribu-ribu pertanyaan, tapi sekarang ia yang diminta untuk bertanya kepada petugas itu? Itu benar-benar diluar ekspektasi Rio. Walau dilanda dengan kebingungan Rio menarik nafas dan menatap pria yang duduk di hadapannya dengan cermat, ia melirik bola mata merah yang tak biasa itu dari nya untuk beberapa detik sampai ia menemukan pertanyaan pertamanya.
“Siapa nama mu?”
Sedikit terkejut dengan pertanyaan pertama dari Rio pria itu menjawab pertanyaannya dengan tenang.
“Nama ku Shira. Hanya Shira, tanpa nama keluarga apa pun.”
“Shira… nama yang asing untuk orang-orang dari Venti. Apakah kau berasal dari negara Iustia?”
“Iya itu benar, tapi itu sudah lama sekali aku tidak ke sana. Apakah hanya itu pertanyaanmu?”
“Tidak, tentu saja tidak.” Ada banyak sekali pertanyaan yang berkeliaran dalam pikiran Rio saat ini namun ia bingun harus memulainya dari mana. Ia kembali menarik nafas sebelum kembali bertanya kepada Pria bernama Shira itu.
“Baiklah pertanyaan berikutnya, Shira kau bekerja untuk organisasi apa? Dan apa alasan ku ditahan di sini?”
“Aku bekerja di organisasi yang melindungi masyarakat awam tentang segala teror yang dilakukan oleh makhluk-makhluk yang tidak bisa diterima oleh akal sehat manusia, seperti yang kau temui di Sumber Island. Kami adalah Secret Society organisasi ini bernaung langsung di bawah pemerintah secara resmi walau kami bergerak dalam bayang-bayang. Dan untuk alasan penangkapan dirimu itu karena sebagai masyarakat biasa yang melakukan kontak dengan segala peristiwa semacam itu biasa memorimu hanya akan di reset. Tetapi karena kasus langka, kemampuan reset itu tidak dapat digunakan untuk beberapa orang, contohnya adalah dirimu. Maka dari itu untuk membungkam mu menyebarkan segala informasi yang kau simpan saat ini kau ditahan disini.”
“Aku ditahan di sini hanya agar rahasia mengenai apa yang terjadi di Summer Island itu tetap rahasia, hanya itu? Itu sungguh alasan yang sangat konyol sekali.” Ucap Rio dengan kedua tangannya menghantam meja yang ada di hadapannya.
“Yang konyol itu adalah dirimu yang mengatakan itu, nona Rio”
Shira dan Rio serentak mencari pelaku yang mengucapkan kalimat itu dan mata mereka langsung tertuju di sebuah pintu yang terbuka dan seorang perempuan berambut putih panjang yang terurai masuk ke dalam ruangan interogasi. Mata kuning miliknya indah bagaikan rembulan yang menghipnotis malam saat ia memandang ke arah Rio yang tahu siapa perempuan ini, perempuan yang sama yang menangkapnya di malam itu.
“Nacht? Ku pikir kau tidak ingin berkunjung kemari. Apa yang merubah pikiranmu itu?”
“Kau diam dulu Shira, aku ingin menyadarkan nona kecil satu ini betapa menggelikan pemikirannya itu”
Shira hanya menghela nafas menanggapi perkataan dari Nacht dan ia menyerahkan hal itu sepenuhnya padanya.
“Apa maksudmu dengan menggelikan ?”
“Tentu saja apa yang tadi kau ucapkan itu nona kecil.”
“Maksudmu tentang aku yang ditahan karena tidak boleh memiliki rahasia ini? Kupikir dirimu lah yang konyol nona putih kalau kau beranggapan kalau rahasia itu hanya bisa dimiliki oleh orang-orang tertentu. Aku yakin jika semua orang tahu akan apa yang terjadi di Summer Island, semua orang akan bersatu untuk menanganinya. Karena umat manusia bisa melakukan apapun jika mereka bersatu.”
Keheningan terasa menyengat seketika setelah Rio selesai mengutarakan pendapanya kepada Nacht, bahkan Shira menanggapi pendapat itu dengan menguap merespon pada rasa kantuknya bukan pada Rio.
“Manusia adalah makhluk yang rapuh nona kecil. Manusia tidaklah sehebat apa yang baru saja kau ucapkan itu. Ketika dihadapkan dengan hal yang tidak mereka ketahui, mereka akan saling tuduh dan menghancurkan satu sama lain, menyalahkan yang lain untuk bisa keluar dari masalahnya. Itu bisa kita lihat dari sejarah manusia beratus-ratus tahun. Ditambah hal yang kau temui di pulau itu adalah sesuatu yang berada diluar pemahaman dari manusia. Keberadaan dari mereka biasanya cukup untuk menghancurkan logika dari manusia. Itulah bukti dari seberapa rapuhnya makhluk yang kau sebut manusia itu, nona Rio.”
“Apa maksudmu…?”
“Sebenarnya dirimu yang selamat itu saja sudah merupakan suatu keajaiban, walau dengan dinding mental yang retak cukup parah.”
“Apa maksudmu dengan hal itu? Jelaskan pada ku?”
Nacht benar-benar mengabaikan pertanyaan dari Rio dan ia malah berfokus pada Shira dan berbicara padanya.
“Shira, apa kau sudah melakukan apa yang ku minta dari mu?”
“Data pribadi dari Rio Alamanda kan? Itu semua sudah terlampir di berkas ini Nacht.”
Shira memberikan lampiran berkas yang berisi semua informasi pribadi Rio pada Nacht dan dengan seksama Nacht mulai membacanya, melempar halaman demi halaman sampai akhirnya ia menutup berkas tersebut dengan kembali berfokus pada Rio yang sedari tadi kebingungan dengan apa yang dilakukan dua orang yang ada di hadapannya ini.
“Dugaan ku benar, kenapa nona kecil ini kebal terhadap efek reset itu karena ia telah ditanamkan sebuah spell (mantra) di dalam jiwanya.”
“Begitu ya, kurasa itu menjadi masuk akal”
Rio sama sekali tidak mengerti dengan apa yang mereka bicarakan sehingga dengan refleks kedua tangannya kembali memukul meja besi itu dengan keras dan wajahnya memerah memaksa Shira dan Nacht memberikan penjelasan. Keduanya yang melihat hal itu saling bertatapan dan karena kalah atau mengalah Shira menghela nafas dan mulai memberikan penjelasan kepada Rio.
“Jadi apa yang Nacht bicarakan itu adalah, seorang telah menanamkan spell pada jiwamu sehingga beberapa mantra pengontrol pikiran akan kebal kepada mu. Pertanyaannya siapa orang yang melakukan hal itu kepada mu? Apakah kau punya keluarga dari kalangan penyihir atau semacamnya?”
“Penyihir? Tentu saja tidak. Aku itu lahir dari keluarga yang biasa, orang biasa.”
“Itu tidaklah sepenuhnya benar” jawab Nacht dengan cepat. “Di zaman sekarang kau pasti bisa menemukan penyihir yang menyembunyikan dirinya dalam kalangan masyarakat. Tetapi mengingat mantra yang ada padamu begitu kuat sampai bisa menolak efek reset dari ku itu arti penanaman spell telah terjadi pada mu mulai dari kecil dan dilakukan untuk waktu yang lama. Karena ayahmu meninggalkan rumah sewaktu kau kecil jadi kemungkinan yang tersisa adalah ibumu.”
“Berhenti jangan dilanjutkan.”
Rio hanya bisa terduduk lemas di kursi dengan pandangan kosong di sorot matanya ia tidak ingin menerima apa yang baru saja Nacht sampaikan kepada satu-satunya orang tua yang ia miliki di dunia ini. Di sisi lain, Nacht hanya melipat tangan di dadanya sambil menutup mulutnya saat ia mulai menguap. Dengan tanpa rasa bersalah Nacht terus melanjutkan pendapatnya.
“Jadi intinya, ada hal yang tidak seharusnya diketahui oleh manusia karena manusia itu memiliki nilai yang berbeda-beda, sehingga rahasia yang terjadi di dunia ini cukup ditanggung oleh orang-orang yang bisa dan sanggup untuk menanggungnya.”
“Aku tetap tidak terima dengan hal itu…” ucap Rio dengan suara yang pelan masih teguh dengan ideologinya sendiri.
“Terserah apa kata mu.”
Shira yang sedari tadi duduk di kursinya menikmati debat panas dan kekalahan Rio seketika bangun dari kursi dan berjalan mendekat ke arah Nacht sambil berbisik pelan padanya.
“Nacht, terjadi pergerakan di daerah Swampfield seperti yang telah diperkirakan. Kurasa saatnya untuk mu menggunakan reset pada nya agar kita bisa membebaskannya dari sini.”
Nacht tidak menjawab atau merespon Shira secara langsung, melainkan ia memikirkan sesuatu yang pasti itu bukanlah hal baik untuk Rio, Shira tau itu karena ia mengenal nona di hadapannya ini sangat baik.
“Aku punya usul yang lebih baik daripada membebaskan nona kecil ini begitu saja. Terlebih Spell yang ada di jiwanya masihlah begitu kuat walaupun aku sudah mencoba melemahkan mentalnya lebih jauh. Jadi aku punya ide yang lebih baik.”
Shira hanya bisa menghela nafas sekali lagi melihat Nacht berjalan mendekati Rio yang masih terduduk lemas di kursinya, Nacht tersenyum namun bukan memberikan rasa nyaman, melainkan hal yang menakutkan keluar dari senyuman indah itu.
“Nona Rio, aku punya usul untukmu.”
“Usul apa?”
“Kami akan pergi menjalankan suatu misi sekarang dan kami tidak bisa meninggalkan tahanan kami dengan depresi begitu saja, jadi bagaimana kalau kau ikut dengan kami menjalankan misi ini?”
Rio tahu bahwa ada sesuatu yang disembunyikan di balik senyum Nacht itu tetapi mungkin ini adalah satu-satu cara agar ia bisa keluar dari sel tahanannya selamanya.
“Dan bagaimana jika aku melarikan diri di tengah misi berjalan?”
“Itu mustahil terjadi, dan jikalau pun itu terjadi maka Shira yang akan langsung menembak kepalamu sampai berlubang. Jika kau sudah mengerti harap segera ganti pakaian mu dengan pakaian yang lebih layak dan temui aku. Shira akan mengantarmu ke sel mu dan menunggu disana.”
Setelah mengatakan itu Nacht berjalan keluar meninggalkan ruang interogasi meninggalkan Shira berdua dengan Rio di sana sebelum akhirnya Shira mengantarkan Rio untuk kembali ke sel tahanannya dan menunggunya mengganti pakaiannya di sana.
Bab VI : Verloren
5 Januari 2020, pukul 13.02
Setelah waktu berselang cukup lama, Rio yang telah mengenakan pakaian yang rapi dengan jas hitam dan kemeja putih polos di dalamnya, lalu rambut hitam panjangnya diikat menjadi ponytail sampai menyentuh pinggang, ditambah dengan celana hitam panjang mengingatkan hari-harinya semasa ia masih bekerja sebagai reporter. Shira membawa Rio menuju ruang kontrol dan begitu pintu terbuka terlihat ruangan yang memang sesuai dengan namanya. Satu ruangan besar yang penuh dengan beberapa orang yang memonitoring sesuatu dari layar monitor mereka. Di tengah di tempat yang sedikit lebih tinggi Rio melihat Nacht duduk mengawasi dengan secangkir teh di tangannya bersamanya seorang perempuan dengan wajah datar yang berdiri di belakangnya selayaknya maid, ataupun sekretarisnya. Shira mengajak Rio untuk bergabung bersama Nacht di sana, di saat ia masih belum tahu apa alasan dirinya ikut ke sana.
“Terima kasih untuk tehnya Flos, seperti biasanya teh yang kamu seduh sungguh nikmat sekali” Ucap Nacht pelan kepada gadis berambut pirang, berwajah datar tersebut.
“Terima kasih nona Nacht, pujianmu sangatlah berarti untuk ku.” Flos melirik ke belakang ketika ia mendengar suara langkah kaki yang mendekat, “Nona, tamu anda dan Shira telah hadir untuk bergabung.”
Nacht memutar kursinya untuk menyambut dua orang itu dengan senyuman manis.
“Selamat datang di ruangan yang aku banggakan ini nona kecil, Rio Alamanda.”
Rio berhenti tepat di hadapan Nacht sedangkan Shira berdiri di sebelah Flos dan mulai menggodanya dengan melontarkan beberapa candaan garing yang membuat wanita itu jengkel dengannya.
“Jadi ruangan apa ini nona Nacht?”
“Seperti yang kau lihat, disini kami biasanya memantau semua anomali yang terjadi di sekitar negara Venti, mulai dari wilayah Central, wilayah, wilayah Meer, dan wilayah terpencil seperti Mediocris yang jauh di utara. Menakjubkan bukan?”
“Jadi maksudmu, kalian bisa memantau semua kejadian yang terjadi di seluruh negeri ini?”
“Iya”
“Berarti apakah kalian sudah tahu kejadian yang terjadi di Summer Island pada saat kejadian itu terjadi?”
Senyuman jahat dari wajah yang molek itu kini terlihat kembali menampakkan wujudnya pada Rio.
“Hmm, apa kamu masih bernostalgia soal itu nona kecil?”
“Maksudku jika kalian sudah mengetahuinya dari awal maka kalian bisa menyelamatkan banyak sekali nyawa, dan jika kalian bertindak cepat maka tidak akan ada korban seperti pak Adam dan keluarganya, atau korban seperti Riga tidak akan pernah ada.”
“Hahaha” tawa kecil keluar dari Nacht saat ia memutar kursinya untuk membelakangi Rio. “Sayangnya” lanjutnya, “Organisasi ini bukanlah badan amal untuk menyelamatkan nyawa manusia, nona kecil. Adapun tujuan utama dari Secret Society itu hanyalah berfokus untuk menangani masalah anomali yang terjadi dan mengeliminasi nya tanpa ada saksi mata. Adapun keselamatan nyawa manusia yang ada hanyalah bonus semata.”
Mendengar jawaban yang tidak mengenakkan itu membuat hati Rio merasa mendidih, ia mulai melangkah mendekati Nacht, memutar kursinya dengan paksa untuk bisa berhadapan dengannya, lalu saat tangan Rio mulai terangkat untuk memberikan pelajaran secara fisik pada Nacht seketika tangannya ditahan oleh Flos yang entah kapan sudah ada di belakang Rio.
“Nona, jika kamu ingin bertindak bodoh aku sarankan hentikan itu. Ini semua demi kebaikanmu.”
“Aww… padahal aku ingin melihat dia mencobanya, Flos” ucap Nacht menambah kayu bakar pada tungku api.
Sebelum amarah Rio makin meledak mendengar provokasi dari Nacht, Shira berjalan dan menengahi pertengkaran kecil mereka.
“Nacht, kurasa sudah saatnya menghentikan ini. Aku tau kau hanya ingin melampiaskan stres mu tapi panggilan dari Theo sudah masuk”
Nacht melirik ke arah Shira dan menatap mata merahnya itu dengan lekat sebelum senyuman dari wajahnya kembali menghilang dan memutar kembali kursinya untuk menatap layar besar yang ada di hadapan mereka. Dari layar tersebut terhubung panggilan suara dengan suara angin dan raungan yang terdengar jelas di belakangnya.
“Nona Nacht, disini Theo melaporkan kondisi yang terjadi di hutan rawa Iehat, Wilayah Swampfield. Seperti yang diprediksi dari tuan Shira dari para peri bahwasanya telah terjadi peristiwa anomali di wilayah Swampfield terkhusus di dua kota mereka, yaitu kota Iehat yang menjadi sumber anomali dan kota Paulus. Hal itu terjadi sejak dua hari ini dan puncaknya salah satu makhluk absolut dari ‘world concept’ hadir di hutan rawa di dekat kota Iehat.”
Mendengar laporan dari Theo membuat para anggota Secret Society yang berada di ruangan itu benar-benar tidak menyangka kalau kehadiran dari makhluk absolut akan hadir dalam rentang waktu yang berdekatan setelah kehadiran Assurd di peristiwa Summer Island.
“Selain itu, makhluk itu juga membawa masalah yang lain di mana ia mampu memutasi mahkluk hidup yang terperangkap dalam kabut yang ia keluarkan sehingga membuat pasukan yang ada bersama saya saat ini tidak mampu untuk berbuat banyak. Sekian laporan dari saya nona Nacht.”
“Kerja bagus Theo, silahkan bersiaga di posisi aman untuk menunggu perintah berikutnya.”
“Baik”
Panggilan suara itu diakhiri dan membuat satu ruangan hening karena mereka semua menunggu tindakan selanjutnya dari Nacht, namun belum sempat memberikan waktu jeda, salah satu anggota melaporkan sesuatu pada Nacht.
“Nona, ada saksi mata di lokasi kejadian dia menyiarkan video siaran langsung sekitar beberapa menit yang lalu. Videonya saya akan saya putar di layar.”
Dari layar yang sama kini terputar sebuah siaran langsung yang diambil dari layar smartphone yang sedikit buram yang menunjukkan sosok bayangan yang besar berdiri dari balik kabut putih yang pekat, siluet tersebut seakan memiliki dua buah tanduk, dan ukuran tubuhnya sekitar puluhan meter. Video tersebut diakhiri dengan permintaan tolong dari si perekam dan keinginannya untuk tidak ingin mati.
“Nona Nacht kita harus segera menyelamatkannya” ucap Rio yang sedari tadi berdiri diam menonton apa yang terjadi di layar tersebut dengan suara yang memohon.
“Bagimana kalau aku tidak mau?”
Rio seketika berlutut dengan wajah yang penuh dengan kesedihan. Suaranya pelan dan penuh dengan belas kasih, “Aku mohon pada mu”.
Selama beberapa detik hanya ada keheningan yang terasa dalam ruangan tersebut, Nacht menatap figur Rio yang berlutut di hadapannya dengan mata kuning seindah bulan purnama itu sebelum akhirnya ia menghela nafas dan berdiri dengan perlahan dan dengan suara lantang ia memerintahkan anggotanya.
“Perintahkan untuk Squad Eliminate segera ke kota Paulus dan sediakan mobil untuk ku dan Shira dan nona kecil ini segera!”
Dengan serentak para anggota yang lain segera bergerak melaksanakan perintah mutlak dari pemimpin mereka. Nacht mulai mengambil sebuah ikat rambut bermotif kelinci dari sakunya dan mengenakannya untuk merapikan rambut poninya dan ia mulai meninggalkan ruangan untuk bersiap-bersiap pergi ke lokasi.
Nafas yang sedari tadi tertahan di dalam dada Rio kini bisa keluar dengan lega saat ia mulai berdiri kembali, Shira menepuk pundaknya dan membisikkan sesuatu pada telinganya.
“Rio aku mengakui keberanian dan nyali mu yang sangat besar, tetapi nyawamu lebih besar daripada itu.”
“Apa maksudmu ?”
“Maksudku adalah berhentilah membahayakan nyawamu seperti itu lagi. Karena menentang Nacht seperti itu hanya akan membawa kematian untukmu. Jadi tolong ingatlah pesanku ini.”
Setelah mengatakan semua itu pada Rio, Shira kembali berperilaku seperti biasanya, ia mengajak Rio yang masih kebingungan memahami apa yang menerima semua informasi yang masuk padanya untuk segera bersiap juga agar bisa ke lokasi kejadian. Di lapangan parkir di dalam mobil sedan hitam yang terparkir Nacht telah duduk di kursi belakang menungggu kehadiran dari Shira dan Rio. Shira masuk ke dalam mengambil peran sebagai supir bagi mereka berdua dan Rio yang tadi ingin duduk di depan dipaksa untuk pindah kebagian belakang bersama Nacht. Karena ia teringat dengan apa yang disampaikan oleh Shira tadi, akhirnya ia menurut tanpa melakukan protes.
Mobil mereka keluar dari kawasan mansion yang sangat besar yang merupakan markas dari organisasi rahasia ini dan mulai melaju dengan kecepatan tinggi di jalan raya keluar secepatnya dari wilayah Central menuju wilayah Swampfield yang membutuhkan waktu tempuh sekitar empat jam dalam kondisi lalu lintas sibuk melalui jalan tol. Namun bagi Shira yang mengemudi seperti orang yang kehilangan akal ia bisa memangkas waktu perjalanan menjadi setengahnya.
Selama dalam perjalanan, suasana terasa sangat canggung, tidak ada yang memulai pembicaraan sehingga menyebabkan perjalanan terasa menjadi sangat lambat. Rio melirik ke arah Nacht yang sedari tadi menyandarkan wajahnya ke dekat jendela dengan mata kuning indah miliknya tidak letih menatap apapun yang lewat dan berlalu pergi, sedangkan saat Rio mengintip ke arah Shira, ia melihat kalau pria itu sudah hanyut dalam dunianya sendiri ketika ia mendengarkan musik melalui earphone miliknya.
Rio mengingat kembali apa yang hari ini yang telah ia lalui, mulai dari bersenandung di dalam sel tahanannya, lalu di interogasi oleh Shira dan sempat berdebat beberapa kali dengan Nacht dan sekali lagi akan menyaksikan mimpi buruk yang sama dengan apa yang dulu menimpanya.
“World Concept…”
Kata itu keluar begitu saja ketika ia melamun mengingat kembali apa yang terjadi di ruang kontrol tadi.
“Apa kau penasaran dengan entitas absolut yang akan kita temui nona kecil?” Sahut Nacht dengan suara yang pelan.
“Tidak, aku hanya teringat apa yang terjadi di ruangan itu tadi.”
“Hmm begitukah”
Shira yang ternyata mendengar percakapan singkat itu ikut menyambung percakapan tersebut agar tidak terputus begitu saja.
“Aku penasaran Nacht, jadi siapa yang akan kita temui?”
Nacht menghela nafas panjang seperti tidak ingin atau bahkan tidak dalam mood yang baik untuk berbicara dengan Shira, walau begitu ia tetap menjawab dan memberikan penjelasan.
“Sepertinya tamu yang berkunjung kali ini adalah Verloren. Dia itu yang selalu menjadi yang paling menjengkelkan diantara mereka semua. Bahkan lebih parah dari Assurd The Clown.”
“Assurd? Siapa itu?” Tanya Rio yang mulai tertarik dengan topik ini.
“Apa kau sudah lupa dengan teror yang diberikan oleh badut itu padamu nona kecil? Aku membicarakan entitas yang kau temui sebelumnya di Summer Island.”
Walaupun cara bicara Nacht masih menyebalkan seperti sebelumnya tetapi ia mencoba untuk mengabaikan hal tersebut dan hanya berfokus pada penjelasan yang diberikan olehnya.
“Jadi apa sebenarnya ‘World Concept’ ini ?”
“Secara sederhananya entitas yang menyandang gelar ini adalah sebuah entitas purba yang memegang teguh terhadap suatu konsep yang menciptakan keberadaan mereka. Seperti halnya Assurd dan Verloren, mereka ada karena adanya konsep yang menciptakan mereka. Assurd ada karena adanya konsep absurditas, dan Verloren ada karena adanya konsep lost (Kehilangan).”
Membayangkan penjelasan yang diberikan oleh Nacht tadi membuat diri Rio menyadari kalau seberapa naifnya dirinya saat berdebat dengan Nacht di ruang interogasi tadi. Hal ini menyadarkan dirinya bahwa skala ancaman yang mereka hadapi saat ini sungguh luar batas kemampuan manusia biasa. Namun ia menyadari jikalau ancaman yang dihadapi sebesar ini maka dengan apa mereka bisa melawannya. Pertanyaan itu terus terngiang di dalam pikirannya namun ia memilih untuk mengesampingkan hal tersebut terlebih dahulu.
Bab VI : Identitas Jati Diri
5 Januari 2020, pukul 16.15
Setelah menempuh waktu perjalanan yang sangat lama, akhirnya mereka bertiga sampai di pintu masuk hutan rawa kota Iehat, di mana Theo telah menunggu disana dengan beberapa pasukan bersenjata api. Theo membukakan pintu untuk Nacht turun dengan anggun, di sisi lain Rio turun dalam keadaan jengkel dengan dahinya berkerut sedangkan Shira hanya bisa tertawa kecil mencoba menghibur Rio yang jengkel tersebut.
“Sudah-sudah nona Rio hal seperti itu sangat lumrah terjadi kok.”
Wajahnya kini makin cemberut setelah Shira mengatakan itu pada Rio, ia mulai menghentakkan kakinya ke tanah dan protes pada Shira.
“Tapi aku tetap tak bisa menahan rasa marah ini kau tau. Sudah tahu kita dalam keadaan terburu-buru tapi dia malah santai dan memesan 15 porsi nasi bumbu ayam itu. Aku sungguh tidak terima, terlebih kemana semua karbohidrat dan lemak itu pergi dan kenapa dia masih bisa memiliki tubuh yang bagus padahal porsi makannya seperti monster begitu.”
“Oh bagian itu ternyata yang membuat mu jengkel.”
Shira menghela nafas dan mungkin bisa memahami rasa kesal dari Rio yang ingin cepat-cepat menyelamatkan saksi mata yang terjebak di dalam hutan rawa ini. Tetapi Shira yang sudah menjadi anggota dari organisasi ini sangat lama, paham bagaimana tindakan dan gerakan yang akan dilakukan dan sedang dipersiapkan oleh Nacht.
“Semua yang Nacht lakukan itu ada maksud dan tujuannya nona Rio. Jadi tidak usah marah begitu. Lebih baik kita bergabung bersama mereka di sana.”
Walau masih tidak terima dengan penjelasan yang diberikan oleh Shira, mau tidak mau Rio harus mengubur rasa amarahnya itu dan memutuskan untuk bergabung dengan yang lainnya karena Nacht akan memberikan arahan.
“Jadi untuk operasi kita kali ini akan dibagi ke dalam tiga kelompok. Kelompok pertama adalah kelompoknya Victor dengan anggota Squad Eliminate dan profesor Ned di kota Paulus. Kini mereka telah bersiaga di sana. Lalu kelompok kedua adalah kelompoknya Theo, aku ingin kau dan tim mu agar bisa membersihkan jalan untuk kelompok tiga yang berisikan aku, Shira dan nona kecil ini. Tugas kelompok 1 dan 2 adalah menghabisi semua makhluk hasil mutasi dari Verloren, dan tugas dari kelompok kami adalah untuk mengevakuasi saksi mata yang berada di dalam sebuah kabin di hutan rawa ini. Theo apakah kau sudah menandai di mana lokasi kabinnya?”
“Sudah nona Nacht.”
“Bagaimana dengan keberadaan Verloren?”
“Sayangnya kami kehilangan kontak dengannya melalui drone, nona.”
“Baiklah kalau begitu silahkan gunakan masker gas yang kalian punya terlebih dahulu dan laksanakan operasi ini dan apapun yang terjadi maka segera laporkan melalui radio telekomunikasi kalian.”
Setelah memberikan instruksi, semua anggota yang ada disana maupun yang ada di kota Paulus mulai bergerak melaksanakan tugas mereka masing-masing menyisakan kelompoknya Nacht yang masih bertahan di pintu masuk hutan dan belum bergerak. Nacht berjalan ke arah Shira dan Rio dan mendekati mereka dengan senyuman indah nan penuh rahasia.
“Perubahan rencana untuk kelompok kita, Shira silahkan pimpin kelompok ini untuk menuju lokasi dari saksi mata dan jika sudah ketemu segera laporkan pada ku agar aku bisa melakukan proses riset pada saksi. Oh satu lagi tolong lindungi nona kecil ini dengan giftmu itu ya.”
“Nona Nacht tunggu, kau lupa masker gas mu…”
Sebelum Rio selesai memanggil Nacht saat itu ia sudah masuk dan menghilang dalam pekatnya kabut putih yang menyelimuti hutan rawa itu. Walau kadang perempuan itu sangat menjengkelkan bagi Rio tetapi ia tetap khawatir dengannya setelah ia sendiri yang mengatakan bahwa kabut putih yang pekat ini sangatlah berbahaya. Shira kembali menyemangati Rio dengan mengatakan kalau Nacht akan baik-baik saja dan memintanya untuk mengkhawatirkan keadaan diri sendiri.
Shira dan Rio mulai berjalan memasuki hutan rawa yang tertutup kabut ini dalam keadaan yang hampir sama dengan buta. Karena jarak pandang yang hampir nol, sehingga agar tidak terpisah satu sama lain Shira meminta Rio untuk memegang tangannya dan di tangannya satu lagi ia telah menggenggam sebuah pistol standar Glock 17.
Rio menyadari Shira bisa menuntun dirinya menghindari dahan pohon yang tumbang, akar pohon dan bebatuan dengan sangat tepat walau dalam kondisi yang minim penglihatan seperti ini. Hal itu membuatnya takjub sekaligus penasaran sehingga membuat dirinya tak kuasa untuk bertanya padanya.
“Shira bagaimana kau bisa melihat dalam keadaan seperti ini?”
Nada penasaran dari suara Rio yang mirip seperti seorang anak kecil yang penasaran terhadap sesuatu membuat Shira sedikit malu untuk memberikan penjelasan.
“Sebenarnya ini semua karena gift milikku.”
“Gift? Apa itu?”
“Itu semacam kemampuan bawaan yang dimiliki seseorang. Bentuknya bisa bermacam-macam, seperti contohnya gift milikku adalah Whisperer (pembisik) kemampuan yang mengizinkan aku untuk berbisik dan bertukar informasi dengan makhluk kecil tak terlihat yang disebut dengan peri. Walau kemampuan yang tidak kuat tetapi itu sudah cukup untuk situasi seperti ini.”
Rio yang baru saja mengetahui informasi ini merasa takjub dan separuh tidak percaya, namun belajar dari pengalamannya sejauh ini ia tidak bisa menolak fakta bahwa ada hal yang terjadi di luar logika manusia di dunia tempat ia berpijak selama ini. Menelaah informasi baru ini, seketika membuat sebuah pertanyaan terbang langsung dan menabrak pikirannya.
“Jadi Shira, apakah kemampuan reset yang dimiliki oleh nona Nacht adalah gift miliknya?”
Shira diam sejenak bahkan selama satu menit ia tetap menggandeng tangan Rio dalam keheningan sebelum akhirnya mulutnya yang bungkam itu memberikan jawaban yang Rio nanti-nantikan.
“Tidak. Kemampuan Nacht jauh dari itu. Bahkan tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata. kurasa hanya itu yang bisa aku beritahu pada mu nona Rio, selebihnya kau akan lihat sendiri nanti.”
“Begitukah?”
Penjelasan yang diberikan oleh Shira sama sekali tidak menjawab pertanyaannya sama sekali melainkan hanya menggali lubang baru yang lebih dalam. Ia menjadi mengerti mengapa Shira dan Flos mengingatkan dirinya agar tidak bertindak gegabah jikalau berhadapan dengan Nacht. Mengingat dirinya yang berulang kali berdiri di tepi jurang kematiannya membuat tubuhnya merinding sejadi-jadinya.
Entah sudah beberapa mereka berjalan di dalam kabut yang membutakan ini dan disekeliling mereka terdengar suara tembakan dan jeritan dari makhluk yang mengerikan. Untungnya pekerjaan dari kelompok Theo benar-benar berhasil membersihkan jalan untuk Shira dan Rio sehingga mereka tidak berinteraksi dengan satupun makhluk mutasi dan pada akhirnya mereka tiba pada tujuan mereka sebuah kabin kayu yang mungkin digunakan oleh pemburu untuk beristirahat.
“Sepertinya tujuan kita, nona Rio. Mari kita lihat bagaimana dengan kondisi dari saksi kita.”
“ayo.”
Tangan Rio mencoba untuk membuka pintu depan kabin dengan perlahan namun ia merasa seperti ada yang mengganjal dari balik pintu. Ia mendorong dengan sekuat tenaga sampai sesuatu yang mengganjal tersebut bisa digeser hingga membiarkan pintu terbuka. Mereka melangkah masuk dan menemukan kondisi kabin yang sunyi dan di saat Shira dan Rio sedang mengamati di dalam kabin mereka menemukan sepasang remaja yang tidak sadarkan diri di atas lantai dengan terbungkus kain taplak meja.
“Shira mereka tidak sadarkan diri, detak jantung dan nafas mereka juga sangat lemah. Apa yang terjadi pada mereka.”
“Kemungkinan karena keberadaan Verloren yang berada di dekat mereka membuat tubuh mereka tidak sanggup untuk menahan radiasi darinya.”
“Lalu bagaimana? Apa yang harus kita lakukan sekarang?”
Seketika suara gemuruh terdengar dengan sangat jelas seperti suara rudal yang menghantam permukaan tanah disertai dengan getaran yang hebat bahkan membuat kaki mereka tidak sanggup untuk menopang tubuh untuk berdiri. Lalu suara radio komunikasi berbunyi yang berasal dari Theo.
“Tuan Shira, tolong evakuasi diri anda dari kabin itu segera.”
“Theo, ada apa?”
“Nona Nacht berkontak dengan Verloren saat ini.”
“Sialan” satu kata yang bisa menggambarkan kondisi mereka saat ini mereka benar-benar terjebak dalam situasi yang lebih sama atau bahkan lebih buruk dari kematian itu sendiri.
Bab VII : Pertemuan Yang Tak Diinginkan
Beberapa Menit Yang Lalu…
Sesaat Nacht memisahkan diri dari Shira dan Rio, dirinya terus berjalan ke arah utara karena ia dapat merasakan kalau Verloren berada disana. Di dalam hutan yang ditutupi kabut pekat ini Nacht berjalan santai sambil bersenandung selayaknya sedang berjalan-jalan di taman pada minggu pagi. Namun perjalanannya diganggu dengan seekor ngengat api yang menyala terang di hadapannya.
“Oh jadi dia mengutus mu untuk mengantarku ya? manis sekali, baiklah.”
Dengan begitu Nacht berjalan dengan dituntun oleh kupu-kupu tersebut yang membawanya ke tepi sebuah danau, danau Sorgenti lebih tepatnya. Di sana Nacht menemukan Verloren duduk di atas air danau senantiasa ditutupi dengan kabut putih miliknya yang bahkan menutup cahaya lembayung dari senja yang membuat dunia disekitarnya hampir sama dengan malam. Tubuh tidaklah terlihat jelas karena ia berada di balik kabut miliknya namun tubuhnya masih bisa dilihat dengan tinggi puluhan meter, dengan kepala berbentuk tengkorak banteng dengan dua tanduk yang mirip seperti tanduk rusa masih bisa terlihat darinya. Dari balik kabut yang sama terlihat siluet empat tangan dan satu diantaranya sedang memegang sebuah lentera yang disekitarnya berputar ngengat api yang sama dengan yang tadi.
Suara raungan yang keras dan mengintimidasi keluar dari balik kabut saat ia melirik ke arah tepi danau dan merasakan kehadiran yang sangat ia benci.
“Siapa sangka si dewi itu akan mengangkat keturunan dari sang White Which (penyihir putih) sebagai Constellation (Konstelasi) miliknya. Kurasa ia sudah kehilangan rasa malu.”
Suara itu terdengar sangat jahat walau dipenuhi dengan raungan dan erangan namun Nacht masih bisa mengerti apa yang disampaikan oleh Verloren padanya. Nacht hanya menanggapi ejekan itu dengan senyuman ambigu seperti biasanya dan mulai menginterogasi entitas absolut tersebut.
“Apa gerangan mu di dunia yang tidak seharusnya kau datangi ini, Verloren? Tidakkah kau ingat bahwasanya akan ada sanksi yang berat jika kau merusak hukum kausalitas suatu dunia.”
“Tentu saja aku ingat, hanya saja Assurd mengatakan sesuatu yang membuatku tertarik. Di mana ia mengatakan kalau reinkarnasi dari sang White Which ada di dunia ini.”
Firasat Nacht seketika menjadi tidak baik, mau tidak mau ia harus dengan segera mengakhiri pertemuan yang tidak di inginkan ini terlebih ia telah mengetahui motif dari kedatangan entitas absolut ini. Nacht menghela nafasnya dengan perlahan dan menggunakan kemampuannya untuk melayang dan mendekati Verloren yang tersenyum puas melihat Nacht merasa kesal.
“Baiklah kurasa waktu kunjungan telah berakhir untuk mu Verloren.”
“Lalu kau mau apa? Memaksaku untuk pulang ? Jangan membuatku tertawa, kau itu hanyalah gumpalan debu bagiku dan walaupun kau adalah Konstelasi dari dewi itu, itu tidaklah berarti apa-apa. Karena aku sudah menghabisi ribuan konstelasi miliknya dari berbagai dunia.”
“Benarkah? kalau begitu aku tidak akan segan pada mu.”
Setelah mengatakan itu, tubuh raksasa milik Verloren terjatuh seketika ke dasar danau seperti sedang ditekan oleh kekuatan yang jauh darinya. Merasa terhina dirinya berhasil berenang keluar dari dasar danau dan mulai menghujani Nacht dengan serangan dari ngengat api yang terbang begitu cepat menghantam dirinya yang membuat beberapa ledakan hebat di udara.
“Tch… ternyata itu saja tidak cukup untuk menghancurkan makhluk rendahan seperti mu.”
“Hahaha, jangan bilang hanya itu saja yang kau miliki. Sebagai entitas absolut, The Clown lebih hebat dari mu.”
“Jangan samakan aku dengan badut gila itu.”
Dengan memprovokasi Verloren hal itu membuatnya menjadi serius dan itu beneran terjadi. ia mensummon menggunakan buku miliknya, namun karena hal itulah ia mendapat penalty yang membuat ia kehilangan sebagian otoritas terhadap konsep yang ia miliki, yang secara tidak langsung melemahkan dirinya. Melihat Verloren termakan oleh jebakan nya membuat Nacht tersenyum bahagia, ia bahkan menggunakan kesempatan itu untuk melayangkan sebuah pukulan keras pada Verloren yang membuat tubuh raksasanya terlempar jatuh ke arah hutan rawa. Tanah bergetar hebat ketika Verloren menghempas tanah. Suara raungan terdengar sangat jelas melintasi langit malam yang kini merangkak datang dan bersamaan dengan itu, Nacht melayang diam tepat di atas Verloren menatapnya dengan tatapan merendahkan.
“Mari kita selesaikan.”
Dengan tarikan nafas panjang Nacht menciptakan simbol tangan yang melambangkan bumi dan langit yang seketika menyibak awan mendung dan menyingkirkan kabut putih yang sedari tadi menyelimuti hutan dan permukaan. Verloren yang menjadi lemah tak berdaya karena adanya penalti yang diberikan padanya hanya bisa menatap ke arah langit menyaksikan setitik cahaya yang menyilaukan itu akan menghantarkan dirinya pulang.
“Kau tahu aku tidak akan bisa di bunuh. Kalaupun kau menghancurkan tubuh ini, ia hanyalah wadah yang kugunakan untuk waktu yang lama.”
“Aku tahu itu, dan aku tidak peduli. Yang kubutuhkan saat ini adalah untuk dirimu yang tidak bangkit lagi untuk sementara waktu karena terikat dengan hukum purba yang kau benci itu.”
“Sialan kau.”
Sesaat sebelum detik terakhirnya, Verloren menyadari kalau si Dewi itu sudah gila dengan memberikan gift Authority pada konstelasi nya. Dan di detik kemudian tubuh raksasa itu menghilang di telan cahaya putih layaknya cahaya rembulan.
Dari bawah di atas tanah yang Rio pijak ia hanya bisa melongo, diam terpaku menyaksikan semua apa yang terjadi di depan matanya. Shira dan Rio menyaksikan semua itu di halaman depan kabin tempat mereka menemukan dua saksi mata atas kejadian ini. Walau begitu hanya Rio yang terdiam mematung karena otaknya tidak bisa menerima apa yang baru saja ia lihat, mungkin lebih parah daripada saat ia bertemu dengan Assurd di Summer Island. Sedangkan Shira sibuk memanggil bantuan dari Theo untuk bisa menangani keadaan dari dua remaja yang tidak sadarkan diri ini.
Nacht yang baru saja menyelesaikan masalahnya turun dan menghampiri Shira yang sedang panik karena Theo pun tidak bisa membantu dua saksi mata itu.
“Nacht, keadaan dua remaja ini sangatlah tidak baik. Seakan esensi mereka perlahan menghilang dari mereka.”
“Sangat disayangkan tidak ada yang bisa kita lakukan untuk itu selain mengganti seluruh tubuh mereka .”
“Hanya itu ya opsi yang kita punya.”
“Lalu bagaimana dengan nasib nona Rio yang disana itu? Aku tahu kau mengajaknya ke sini hanya untuk melemahkan spell yang mengikat jiwa itu agar kau bisa melakukan reset padanya.”
“Shira, semua saksi mata berhak untuk mendapatkan kehidupan yang lebih baik daripada ini. Terkadang suatu kebohongan manis lebih baik daripada merasakan kebenaran pahit yang menghantui jiwa.”
Shira hanya bisa menghela nafas panjang tidak ingin memperpanjang masalah ini. Ia membiarkan Nacht melakukan reset pada dua remaja dan Rio yang tidak sadarkan diri tersebut. Sesaat selesai melakukan reset, Nacht mendapat panggilan dari kelompok 2 yang mengurus kota Paulus. Dalam laporannya Viktor melaporkan kalau tidak ada warga yang selamat di kota Paulus, kota tersebut kini dipenuhi dengan mayat yang tertumpuk pada satu tempat pelakunya jelas adalah rusa rawa yang bermutasi dan menggila membunuh dan menghabisi semua warga. Lalu Viktor juga melaporkan kalau mereka menemukan satu keluarga yang telah tewas di dalam sebuah garasi suatu rumah.
Kemudian salah satu pasukan dari kelompok Theo melaporkan pada Nacht dengan tergesa-gesa dan memintanya agar Nacht bisa melihat apa yang ia temukan secara langsung. Walau enggan tetapi karena bawahannya begitu memaksa akhirnya mau tidak mau Nacht mengajak Theo agar ikut dengannya. Begitu sampai pada koordinat yang diberikan, memang benar kalau ini adalah hal yang berada di luar ekspektasi Nacht ketika berinteraksi dengan Verloren. Di mana ia menemukan buku Verloren, sebuah artefak kelas 4 yang sama seperti yang dimiliki oleh Assurd. Selain itu di sebelah buku tersebut, Nacht menemukan seorang anak perempuan yang berusia sekitar 4 atau 5 tahun dan hal yang mengejutkan lainnya adalah fakta kalau anak itu adalah anak dari ras penyihir putih yang bisa dilihat dari rambutnya yang putih bersih sebersih salju. Karena hal tersebut muncul satu pertanyaan bagi mereka semua.
“Kenapa Verloren membawa anak dari ras Penyihir putih bersamanya?”.
Bab VIII : Epilog
Di hari berikutnya Nacht mengumpulkan media dengan melakukan konferensi pers agar bisa menghapus ingatan orang-orang atas peristiwa yang terjadi di Swampfield dan video Soutube milik Salsa di hapus begitu juga dengan beberapa berita yang mengangkat isu tersebut seperti yang diinginkan oleh Nacht. Lalu Rio Alamanda di pulangkan ke kediamannya di wilayah Central, kota Agra setelah proses resetnya berhasil dilakukan. Semua ingatannya mengenai peristiwa di Summer Island ataupun Swampfield telah hilang sepenuhnya, bersama dengan ingatan yang berhubungan dengan hal itu. Kini ia kembali menjalani kehidupan normalnya sebagai reporter di salah satu stasiun TV. Namun berbeda dengan nasib keluarga Bright yang mengalami pukulan sangat berat karena anak pertama mereka, Carson Bright menghilang tanpa sebab. Mereka telah melapor kepada pihak yang berwajib namun tidak ada hasil yang bisa mereka terima.
10 Januari 2020, pukul 9.00
Di dalam kediaman mansion besar milik keluarga Schounheit yang kini di telah diwariskan kepada Nacht Schounheit, seorang gadis kecil berambut putih panjang, dengan mata merah muda layaknya sakura sedang tertawa terkikik ketika kaki kecilnya melompat-lompat di atas kasur empuk yang sedang di tiduri oleh Nacht. Dirinya tidak bisa kembali melanjutkan tidurnya karena gadis yang ia temukan di misi terakhir kini mengganggu tidurnya.
“Naika berhenti melompat-lompat di tempat tidur.”
Namun walau dengan setegas apa pun Nacht menegur gadis kecil itu ia tetap saja tidak mendengar. Pintu kamar terbuka dan kini Flos masuk ke dalam ruangan yang membuat Naika si gadis kecil berlari menghampiri dan melompat pada sang Sekretaris.
“Nona Nacht bangun, Theo ingin melaporkan hasil penyelidikan yang ia lakukan di pabrik pupuk beberapa hari yang lalu pada mu.”
“Iya aku sudah bangun kok, silahkan suruh Theo untuk masuk.”
Flos menunduk dan memanggil Theo untuk masuk ke dalam ruangan, yang di mana di saat ia masuk Theo langsung menghadap pada Nacht yang masih dengan gaun malamnya, rambut putih yang masih berantakan dan sekarang sedang dirapikan oleh Flos dan Naika yang duduk di pangkuannya. Bagi Theo ini adalah perubahan yang sangat besar untuk orang sedingin Nacht bisa akrab bahkan dengan seorang gadis kecil. Walau tidak mengatakan apa pun Nacht bisa menebak apa yang sedang Theo pikirkan dengan senyum tipis nan halus dari wajahnya yang datar itu.
“Jadi apa yang ingin kau laporkan Theo?”
“Ehem. Jadi setelah menelusuri jejak anggota dari kultus Getting blood yang saya temukan di kota Iehat, saya mendapat informasi kalau mereka akan melakukan serangan aksi teror dalam acara ‘Pertemuan Para Penulis’ yang dilaksanakan di sebuah kapal pesiar yang berlayar di selat Iustia. Dan setelah saya mencari tahu mengenai para tamu di acara tersebut semuanya di isi oleh orang-orang terkenal.”
Theo menyerahkan undangan beserta nama peserta undangan yang mengikuti acara tersebut, dan satu nama menarik perhatian dari Nacht.
“Dan beruntungnya nona, anda juga diundang dalam acara tersebut.”
“Tentu saja, siapapun tidak akan pernah melewatkan keluarga Schounheit untuk hadir dalam acara seperti ini. Lalu siapa target mereka?”
“Target mereka adalah ******** nona.”
“Aku tidak menyangka kalau kultus itu sangat nekat atau bisa ku bilang sangat bodoh. Lalu bagaimana dengan kondisi anggota kultus yang kau interogasi ini Theo?”
“Tentu saja saya habisi tanpa meninggalkan jejak, nona Nacht.”
“Baguslah”
******
Tanggal …. Bulan…. Tahun ….
Di tengah selat yang luas yang memisahkan dua negara, sebuah kapal berlayar dengan anggun di bawah indurasmi yang menaungi langit malam. Nacht berdiri sendiri di atas dek kapal menyaksikan gelombang air laut membengkokkan cahaya rembulan sesaat suara langkah kaki yang tegas mendekat, mungkin tertarik pada rambut putih panjang miliknya yang menghipnotis dan merubah suasana menjadi lebih intim saat mereka kini berdua. Nacht perlahan berbalik dengan mengangkat sedikit gaun miliknya menyapa pria yang ada di hadapannya dengan senyuman manis menawan.
“Selamat datang ke pesta ini, sang reinkarnasi dari penyihir putih, Kingsla Albanero.”
***BERSAMBUNG***











Komentar
Posting Komentar